Mohon tunggu...
Rina R. Ridwan
Rina R. Ridwan Mohon Tunggu... Ibu yang suka menulis

Pembelajar Di Sekolah Kehidupan Novel: Langgas (Mecca, 2018) IG: rinaridwan_23

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Aksara yang Dibajak

8 September 2019   16:01 Diperbarui: 8 September 2019   16:16 0 0 0 Mohon Tunggu...

Hari ini dikenal sebagai Hari Aksara Internasional. Literasi tentu saja berkait dengan aksara. Literasi dimaknai sebagai kemampuan menulis dan membaca. Ketika diberitakan bahwa Indonesia menempati ranking 60 dari 61 negara dalam hal literasi, banyak yang tak percaya. Bisa jadi sudah banyak yang merasa bahwa dalam keseharian membaca dan menulis sudah jadi bagian yang tak terpisahkan. Terlebih sejak adanya media sosial.

Pertanyaannya adalah, apa yang dibaca kebanyakan orang kita?

Sejak awal tahun lalu, saya ditunjuk menjadi salah satu pengurus di klub suka baca. Sebuah komunitas daring yang bertujuan mengajak para ibu untuk membiasakan membaca, setidaknya satu buku setiap bulan. Kami juga mengajak mereka untuk merencanakan apa yang akan dibaca, membuat resensi buku, bedah buku dan hal lain yang terkait dengan literasi termasuk membiasakan menulis bahasa Indonesia sesuai kaidah yang benar.

Bukan hanya hadiah yang akan kami berikan kepada peserta yang aktif dan rajin, namun juga tak segan kami mengeluarkan anggota yang tak aktif sama sekali yang tentu saja tak sesuai dengan misi kami. Dalam sesi bedah buku, kami menghubungi dan mengajak serta para penulis yang cukup mumpuni dan punya nama di negeri ini. Sebutlah Kirana Kejora yang beberapa bukunya telah sukses difilmkan, seorang writerpreneur juga pegiat literasi yang telah banyak melahirkan penulis-penulis baru yang menjanjikan. Kami juga sudah disambangi 'ibu suri' Dewi Dee Lestari yang membagikan banyak ilmu tentang kepenulisan.

Kegiatan menulis dan membaca itu sebenarnya tak terpisahkan. Jika kita rajin membaca, pada akhirnya kita juga tergerak untuk menulis. Itulah kenapa kami menambah kegiatan di klub dengan tantangan 'Bangga Berbahasa Indonesia' dua kali setiap bulannya. Serta tak lupa, kami terus membiasakan anggota klub, bahkan untuk menulis pembicaraan harus dengan  bahasa yang baik dan benar.

Kembali dengan pernyataan bahwa tingkat literasi kita masih dinilai rendah. Secara umum, bisa kita amati betapa riuhnya media sosial di negeri ini. Bisa jadi kebiasaan rutin membaca konten media sosial ini yang dijadikan patokan oleh sebagian yang menganggap bahwa tingkat literasi kita telah tinggi. Padahal jika mau jujur, apa yang dituliskan Sang Wikipediawan, Ivan Lanin, bahwa konten media sosial itu camilan, adalah benar adanya.

Camilan memang menarik, tetapi kurang bergizi, begitu kelanjutannya. Realitas telah membuktikan, karena banyaknya yang  rajin membaca konten media sosial, berita hoaks yang bertebaran berhasil diterima mentah-mentah. Camilan penuh bumbu instan yang nikmat, akhirnya menjadi santapan dan membuat gaduh di negeri ini. Banyak yang merasa rajin membaca, sekali lagi, membaca konten media sosial, merasa paling tahu, paling update dan paling pintar.  Padahal sedikit sekali mereka mau membaca buku. Sebagian orang sudah merasa kenyang dengan camilan, hingga tak merasa membutuhkan nutrisi yang lebih baik, yaitu buku.

Buku adalah makanan utama, nutrisi yang cukup untuk akal dan rasa. Tentu saja tidak semua buku. Ada yang hanya menebar mimpi bahkan mengoyak sisi-sisi keimanan. Ketika kita membiasakan membaca buku, semakin lama akan semakin selektif memilihnya. Karena kita akan tahu, mana yang kita butuhkan atau sebaliknya.

Pada komunitas suka buku, kami selalu mendorong pembaca pemula untuk membaca buku apa saja yang mereka suka dahulu. Dari hasil pengamatan saya, kebanyakan buku yang mereka suka adalah buku fiksi. Buku nonfiksi, bukan pilihan utama mereka. Jika dipaksakan, mereka bilang butuh waktu lama dan tak jarang terbengkalai karena dianggap kurang menarik.

Persoalan lain tentang literasi di negeri ini, adalah begitu bebasnya buku bajakan diperjual belikan. Baik di tempat penjualan langsung, juga di loka pasar. Saya begitu prihatin melihat kenyataan ini. Buku yang hanya foto kopian, dijilid, dijual murah tanpa rasa bersalah sedikit pun dari sang penjual.

Mereka tak tahu betapa mahalnya sebuah ide, betapa panjang perjalanan seorang penulis untuk bisa melihat buku karyanya berada pada rak di sebuah toko buku. Entah kenapa pemerintah tak terusik juga dengan hal ini. Saya selalu berkunjung ke toko-toko buku diluar toko buku yang sudah jelas menjual buku asli setiap berkunjung ke kota-kota di Indonesia. Buku 'KW' masih banyak dijual dan diburu karena murah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x