Mohon tunggu...
Rijo Tobing
Rijo Tobing Mohon Tunggu... Novelis

Penulis buku kumpulan cerpen "Randomness Inside My Head" (2016), novel "Bond" (2018), dan kumpulan cerpen "The Cringe Stories" (2020) dalam bahasa Inggris. rijotobing.wordpress.com.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mantan Terindah adalah Ia yang Tidak Mencintaimu Lagi

19 Februari 2020   22:53 Diperbarui: 20 Februari 2020   16:16 314 2 1 Mohon Tunggu...

Judulnya panjang ya? Mungkin sepanjang sejarahmu dengan para mantan jika jalanmu berliku-liku untuk mendapatkan pasangan hidup. Namun mungkin saja kamu tidak pernah punya mantan, karena ia yang kamu temui adalah ia yang kamu pilih untuk yang pertama dan yang terakhir.

Bicara tentang mantan menyisipkan rasa nostalgia, sebersit penyesalan, dan pengandaian jika kamu waktu itu mengambil keputusan-keputusan yang berbeda. Jangan khawatir, mari kita bicara tentang mantan tanpa melibatkan hati. Buka arsip memorimu seperti membuka hard disk yang sudah mengendap beratus bulan sabit, dan bicara tentangnya selintas saja, tidak usah membawa perasaan.

Ini ceritaku.

Mantan bagiku adalah sebuah status yang tak kukehendaki, bagiku dan baginya. Sejak memasuki usia dewasa tujuanku hanya satu jika menyangkut cinta dan romansa, menemukan tambatan hati untuk sisa usia di muka bumi ini. Perasaan yang datang dan pergi kuabaikan, karena aku tahu, begitu hatiku tertambat banyak juga yang terlibat.

Orang tua. Keluarga besar. Wejangan dari mereka banyak karena aku perantau di tanah Jawa. Semua syarat dan nasihat kudengar baik-baik, tanpa membantah karena mereka sudah hidup lebih lama. Apalah asam dan garamku dibandingkan ladang dan laut yang sudah mereka garap?

Meskipun dalam hati kecil ada sedikit kekhawatiran, bagaimana jika calon suami tidak diterima, apakah aku terpaksa memihak? Pada keluarga aku terikat darah, pada cinta aku menambatkan masa depan. Sungguh, bagai makan buah simalakama.

Cerita yang pertama hanya berjalan beberapa purnama. Ia tidak layak untuk diperhitungkan, namun sebagai yang pertama ia tentu istimewa. Kami bertemu di bangku kuliah, seorang remaja dewasa yang selalu cemburu jika aku bicara dengan pria lain.

Saat itu hanya ada 30 orang wanita di tengah 100 orang mahasiswa di jurusanku. Kecemburuannya tidak masuk akal, bukan? Dengan cepat kuputuskan hubungan sebelum aku jadi gila karena tuntutan-tuntutannya. Tak ada air mata yang kutitikkan. Ternyata aku tidak cinta juga; aku hanya senang karena dicintai.

Cerita yang kedua terjadi saat aku terpisah dari orang tua. Kami bertemu di tempat yang jauh. Hanya 1 tahun kami bersama, tapi dia membuat duniaku berbeda. Dia tidak terlalu perhatian, sering mengecewakan, sulit mengerti aku, tapi aku cinta.

Pada hari aku kembali ke tanah air, tangisku pecah. Aku tahu itu adalah kali terakhir aku akan melihatnya langsung, karena tidak ada janji yang terucap dan tidak ada rencana yang dibuat. Kami berdua akan kembali ke negara dan kehidupan masing-masing dengan kenangan akan satu sama lain, dan sampai di situ saja.

Semua usaha untuk berkomunikasi tidak bertahan lama. Mungkin jarak ratusan ribu kilometer dan perbedaan waktu 12 jam menjadi penyebabnya. Mungkin juga hati kami sudah saling menjauh. Saat benar-benar mengucapkan selamat tinggal, aku tidak menangis. 

Aku ingat kata bapakku, "Untuk setiap masa, ada orangnya." Untuk masa ketika aku sendirian dan kesepian di negeri orang, ada dia yang datang padaku. Untuk masa yang telah aku lewati bersamanya, aku bersyukur.

Cerita yang ketiga membuat debar di dada. Bukan karena masih cinta atau rindu berat, tapi karena rasa takut dan amarah. Sedari awal orang tuaku tak setuju; mereka memberikan berbagai alasan absurd dan tak absurd untuk menjelaskan insting mereka sebagai orang tua. Kegagalan-kegagalan sebelumnya membuat aku keras kepala. Aku harus mencoba dulu, mungkin dia orangnya.

Waktu aku bilang kalau aku mencari pendamping hidup, si mantan tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Kita masih muda, kenapa tidak lihat saja nanti bagaimana?" Saat itu ada suara kecil yang aku abaikan, "Bukan ini orangnya, kamu hanya membuang waktu."

Aku terus bertahan sampai di satu titik bapak memberi ultimatum, pilih mereka atau dia. Jawabannya sudah jelas, cinta bangkit dan tenggelam, tapi orang tuaku hanya ada dua. 

Saat berpisah pun aku tak menangis. Ini hanya keputusan yang kutunda. Kepedihan hati sudah ditabur perlahan-lahan, dipupuk dengan sakit yang diabaikan, dan akhirnya kami menuai perpisahan.

Selang beberapa bulan setelah itu, aku bertemu dengan pria yang sekarang menjadi suami dan ayah dari anak-anakku. Sebuah pertemuan singkat yang berlanjut ke rasa tertarik hanya karena aku melihat dia bermain gitar di depanku. Dan bagi dia aku menarik (malah sedikit menyebalkan) karena aku mengoreksi bahasa Inggrisnya.

Tak diragukan lagi, aku akan menikahinya. Dia pun punya keyakinan yang sama, sehingga dia berani memintaku membatalkan rencana studi ke jenjang berikutnya. Sebuah keputusan yang tidak berat, tidak sebanding dengan keberadaan pria ini di hidupku saat itu dan seterusnya.

Tiba-tiba si mantan muncul kembali. Ketika berpisah dia masih memiliki masalah dengan mata (strabismus). Kondisi ini membuat dia gagal mendapat pekerjaan selama hampir 1 tahun. 

Penyebabnya selalu sama, pihak perusahaan tidak bisa menebak arah matanya dan oleh karena itu wawancara menjadi tidak nyaman. Kondisi menganggur dan rendah diri melihat aku yang sudah bekerja membuat dia sering marah tanpa alasan. Waktu itu mungkin aku bertahan bukan karena cinta, tapi karena sudah enggan mencari yang lain.

Setelah kami berpisah, dia menjalani operasi mata dan harus rela menjadi "buta" selama 1 bulan. Menurutnya dia sudah berkorban banyak untukku, jadi dia murka saat tahu aku sudah menjalin hubungan yang baru. Untung kami terpisah kota, jadi cukup dengan mengganti nomor telepon genggam aku pun lenyap dari pantauannya.

Masalah mulai timbul ketika ada media sosial. Dia membuntutiku dan mengirim pesan bertubi-tubi. Aku tidak takut padanya; aku marah. Aku tidak mau diganggu. Keputusannya untuk menjalani operasi tidak ada sangkut paut denganku, kenapa sekarang aku dituntut untuk bertanggung jawab atas pengorbanan dan perasaannya?

Aku sudah menegaskan berulang kali kalau aku meninggalkannya bukan karena kondisi matanya, tapi karena desakan orang tuaku. Dia tidak mengerti juga dan tetap menuntut. Bahkan setelah aku menikah, dia beberapa kali mencoba "berteman", tapi aku tahu akal bulusnya. Dia posesif, obsesif, dan menjurus tidak waras. Lewat sepupuku yang bekerja di perusahaan yang sama dengannya, ia sering menanyakan kabarku, namun sepupuku bungkam.

Sudah 15 tahun berlalu dan dia belum juga menemukan orang lain. Kata orang,  seharusnya aku tersanjung. Tidak. hanya Aku prihatin dan berharap hidupnya juga pada akhirnya akan berlanjut.

Bagaimana cara melupakan mantan dan cinta yang lama? Carilah cinta yang baru. 

Ingatan manusia itu pendek dan suasana hatinya bisa berganti setiap hari. Tentu saja ini tips buat kamu yang masih mencari-cari orang yang akan kamu nikahi. Setelah menikah, jangan coba-coba ya. Ingat janji setia yang kamu ikrarkan sampai ajal memisahkan.

Mantan itu bukan sebuah kesalahan; mantan itu sebuah pembelajaran yang mahal.

Seyogyanya dalam setiap hubungan kita seakan-akan melihat cermin. Reaksi mereka adalah akibat dari aksi kita, demikian pula sebaiknya. Dalam cermin kita melihat kelebihan dan kekurangan, kita memperbaiki diri supaya menjadi lebih baik. Bukan karena disuruh, tapi karena kita mau. Bukan demi orang lain, tapi demi diri sendiri dulu.

Sebelum menjalani hubungan, kamu harus mencintai dan menerima dirimu dulu. Bagaimana mungkin kamu mengharapkan orang lain mencintai dan menerima dirimu, jika kamu sendiri tidak melakukannya? Jangan jadikan kebahagiaan sebagai tujuan utama. Jadikan itu, dan ketidakbahagiaan, sebagai bagian dari proses untuk memenuhi panggilanmu dan panggilan pasanganmu di dunia ini.

Mungkinkah tetap berteman dengan mantan? Tidak.

Demi pikiran dan perasaan orang yang sekarang bersamamu dan bersama si mantan, jangan lakukan itu. Kalian punya masa lalu, dan masa lalu tidak ada gunanya dibawa ke masa depan. Sekarang adalah waktunya kamu dengan orang lain, dia dengan orang lain, terima fakta itu.

Sebuah pengecualian kubuat untuk mantan yang kedua. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, orientasinya berubah. Dia menjadi penyuka pria dan sekarang tinggal bersama kaum sejenisnya. Kami dulu mulai sebagai teman baik, jadi dia masih bisa menceritakan banyak hal padaku. Dia tidak mengkhawatirkan stigma atau pendapat orang lain, yang dia khawatirkan adalah kemungkinan memiliki keluarga yang normal. Dia ragu apa dia pada akhirnya akan meraih rasa bahagia dan nyaman jika dalam satu rumah tangga ada dua ayah dan anak-anak yang dilahirkan oleh seorang ibu pengganti.

Aku hanya bisa mendengarkan pertimbangan dan keluh-kesahnya dalam hening. Aku tidak bisa berkata apa-apa, karena walaupun dulu hidup kami beririsan, yang dia jalani sekarang toh hidupnya.

Dari ceritaku aku bisa menarik kesimpulan apa itu mantan terindah:

Ia yang tidak mencintaiku lagi, tapi mencintai orang lain.

Ia yang mengingatku sebagai bagian dari masa lalu, dan tidak mengingatku waktu ia bangun pagi ini.

Ia yang tidak berusaha mencariku sekarang, tapi selalu mengusahakan waktu dan semua hal terbaik untuk keluarganya.

Ia yang tidak melibatkanku di masa depan, karena baginya aku hanya kenangan.

Bagaimana dengan cerita mantanmu?

Tim MJJ R2E 
https://www.kompasiana.com/rijotobing  
https://www.kompasiana.com/risnanugroho  
https://www.kompasiana.com/namasayaernawati  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN