Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... PENULIS
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Hutan kata; di hutan aku merawat kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Balada Rantang

22 Oktober 2019   15:47 Diperbarui: 27 Oktober 2019   15:57 0 14 5 Mohon Tunggu...
Cerpen | Balada Rantang
Sumber ilustrasi: icomarket.club

Mitos Ibu

Rencana Bunuh Diri

Istri berhati bidadari

Baiklah, mari duduk di sini. Aku ingin bercerita kepadamu. Andai pun ada cerita lain atau layar gawai lebih menghipnotismu, tak masalah bagiku. Yang penting apa yang mendesak di otak ini mestilah disalurkan. Kepala bisa meledak karena over-beban. Ya, paling tidak pembuluh darah di otak akan aus.

Begini, aku memiliki seorang sahabat. Namanya Ondohon. Tak usahlah kau tersenyum. Tersenyum terhadap orang yang tidak sedang melucu karena geli atau ingin mem-bully adalah sebuah kejahatan. Dan aku tak ingin orang-orang di sekelilingku terbiasa dengan kejahatan. Kejahatan itu luka.

Ondohon ---selanjutnya aku sebut Ondo--- tinggal di Jalan Paket Gang Wifi No. 4. Dulu dia bekerja di restoran, dan menjadi chief jempolan. Seiring bergulirnya waktu, beratnya yang semula tak lebih enam puluh kilogram, setelah tiga tahun bekerja di istana masakan itu, dia membengkak hampir seratus kilogram. Itulah penyebab dia memutuskan hengkang dari pekerjaan chief, lalu menjadi tukang ojek online. Dia berharap bisa menurunkan berat badan drastis, kembali seperti sweet seventeen.

Tapi mana mungkin bisa kurus kalau dia bekerja sebagai ojek motor online bagian Gofud. Benar dia tak mungkin mengicip makanan pelanggan. Namun, tetap saja dia tak bisa melawan kehendak mata dan hidung ketika menunggu pesanan selesai, tentu dengan asap menguar. Kelezatan makanan itu seolah lumer di lidahnya. Terkadang pesanan orang agak lelet tiba di tempat, karena Ondo lebih memulakan kehendak lidahnya.

Tapi ada yang berbeda dari kawanku satu ini. Hari ini dia seperti puasa makan. Padahal aku membawa kapal selam kesukaannya. Jangan kau bayangkan aku akan mengajaknya menyelam. Kau tahu sendirilah apa maksudku.

"Aku ingin diet," tembaknya langsung.
"Kwak!" Aku tertawa seperti entok.

Ondo merajuk. Dagunya berlipat karena cemberut.

"Kenapa rupanya? Apakah selama ini aku tak pernah menyuruhmu diet?"
"Ya, aku ingin gagah dan tampan seperti..."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x