Mohon tunggu...
Ridha Afzal
Ridha Afzal Mohon Tunggu... Perawat - Occupational Health Nurse

If I can't change the world, I'll change the way I see it

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Pers, Regulasi, dan Bisnis di Tengah Stigma Covid-19

15 Agustus 2020   09:24 Diperbarui: 15 Agustus 2020   18:31 367
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pers

Peranan Pers dalam mengangkat isu Covid-19 ini sangat penting. Kekuatan Pers sedemikian besar sehingga takut tidaknya, kacau-tidaknya serta aman tidaknya kehidupan di masyarakat seolah-olah 'bergantung' pada berita di Koran, TV, medsos dan sejenisnya yang ada di berbagai media massa termasuk medsos.

Pers lah yang menciptakan 'stigma' di tengah masyarakat. Isu menyebar cepat karena peran Pers. Belum lagi, masyarakat kita kecenderugannya menambah hal-hal yang negatif dan mengurangi yang positif. Jika ini berlangsung dalam waktu lama, sulit mengubahnya. Karena penilaian terhadap kasus ini selalu dari dilihat dari sisi negatif.

Di tangan Pers grafik jumlah kasusnya. Selain metode pengobatan, alat-alat yang banyak digunakan guna mencegahnya, orang-orang yang terlibat, perubahan regulasi, wilayah dan statusnya, serta dampak terhadap berbagai sektor kehidupan, dari kesehatan hingga sosial ekonomi, semua datanya dimiliki Pers.

Pers lah mestinya sebagai pihak yang 'paling' bertanggungjawab saat masyarakat mendapatkan berita yang simpang siur tentang kasus ini. Pers juga yang membuat persaingan bisnis terkait Covid-19 tidak sehat. Harus diakui, Pers punya peran krusial terkait surut tidaknya kasus ini ke depan.  

Bisnis dan Perang Harga Pasar

Beberapa bisnis yang sangat diuntungkan di masa Covid-19 ini adalah: RS, klinik, balai kesehatan, yang menyediakan layanan Rapid Test, Swab Test dan perusahaan Alat Pelindung Diri (APD). Tetapi bukan perusahaan farmasi obat-obatan, karena kita belum menemukan choice of drugs (obat yang cocok) untuk kasus ini.

Penjualan layanan test dan APD ini begitu gencar di masyarakat, sehingga terkesan ada 'Perang Harga' di pasar. Sebuah perang yang tidak pernah terjadi sebelumnya. 

Bayangkan, permintaan layanan ini bisa bersifat masif dan besar-besaran. Perusahaan, lembaga, hingga yayasan kecil, semuanya karena harus 'patuh' terhadap regulasi Pemerintah, mereka mengirimkan karyawannya puluhan hingga ribuan, hanya untuk ditest.

Business is business. Begitulah prinsipnya. Atas nama apapun, tidak bisa ditolak kenyataan bahwa yang dikejar oleh perusahaan yang bergerak di bidang jasa Test Corona ini adalah memproduksi sebanyak-banyaknya dengan keuntungan yang sebenar-sebesarnya.

Masyarakat dan pengusaha serta karyawan tidak bisa berbuat apa-apa karena aturan yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah. Siapa yang bermain di balik semua bisnis ini? God knows!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun