Mohon tunggu...
riap windhu
riap windhu Mohon Tunggu... Sales - Perempuan yang suka membaca dan menulis

Menulis untuk kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Corat-coret Bikin Komik Sederhana, Menunggu Buka Puasa Jadi Bermakna

20 Mei 2019   23:58 Diperbarui: 21 Mei 2019   00:28 312 8 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Menunggu berbuka puasa, salurkan dengan hobi corat coret komik (dok.windhu)

Corat coret dengan pensil sungguh mengasyikkan. Hanya bermodalkan kertas kosong, pensil, penghapus dan peraut pensil, waktu demi waktu akan berlalu tidak terasa. Seakan bergulir cepat. Tahu-tahu tersadar, yang dinanti-nantikan sudah tiba. Kalau saat bulan puasa, apalagi jika bukan menunggu saat  beduk maghrib, yang merupakan penanda waktu berbuka puasa.

Haha, saya sejak dulu memang suka corat-coret. Biasanya saya lakukan kalau sedang iseng, sedang menunggu, dan sedang jenuh terhadap sesuatu. Sekedar mengisi waktu yang ada supaya tidak terbuang begitu saja. Supaya waktu tidak terbuang percuma kalau hanya diisi dengan bengong-bengong tidak jelas. Waktu menunggu nggak boleh mubazir, begitu kira-kira. 

Seperti halnya saat menunggu buka puasa. Supaya pikiran nggak melayang kemana-mana atau sudah capek membaca, maka corat coret menggambar pun saya lakukan. Ya, selain corat coret, saya juga punya hobi membaca dan menulis. Nah saat itulah, saya mulai keluarkan senjata pensil 2 B dan penghapus yang biasanya selalu saya simpan dalam tas.  Saatnya bergembira dengan corat-coret karya tangan sendiri. 

Soal kertas yang digunakan, saya tidak pernah ambil pusing. Toh, namanya hobi untuk mengisi waktu. Jadi yang terpenting adalah ada kertas kosong untuk dicorat-coret. Hasil yang paling utama adalah membuat saya bahaga. Melarutkan diri dalam corat coret yang digoreskan dari sebatang pensil. Soal bagus atau tidaknya gambar, eits itu berdasarkan penilaian orang. Kalau saya, tetap berpatokan pada pelukis Pak Tino Sidin yang selalu bilang kalau semua gambar adalah bagus, hahaha. 

Komik Sederhana

Ketertarikan terhadap komik jelas ada sejak lama. Dulu, sampai bela-belain beli buku Yuk Bikin Komik sambil senyum karya Dwi Koendoro Br, Komikus keren yang kerja di harian Kompas. Kalian pasti tahu deh Panji Koming, Pailul, Ni Woro Ciblon, atau Sawung Kampret, kalau sering baca koran yang masih merajai dunia surat kabar hingga kini. 

Nah, setiap melihat komik-komik goresan Dwi Koen, saya terkagum-kagum.Keren banget. Bukan cuma gambarnya, tapi biasanya ada sisipan cerita bermakna yang membuat tersenyum. Dalam bukunya itu, disinggung ruh mengenai komik. Jika membaca novel, seorang pembaca seakan mengarungi samudera kata yang tertulis. Novel memiliki The Magic of written words. Kata-kata yang mampu memicu rasa, menumbuhkan pesona, melahirkan penafsiran, kadang-kadang membuat terharu, tertawa, tegang, dan sebagainya. Padahal tidak ada gambarnya.

Kalau komik, memiliki pesona penggabungan dari gambar-gambar diam dan kata-kata, serta suara yang tertulis. Seorang komikus setidaknya mengenal 4 elemen utama yang akan membangun wujudnya jadi komik, yakni :

1. Sosok Gambar atau ilustrasi. Ya, kalau tidak ada gambar bukan komi. Diperlukan kreaktivitas, ketajaman pandang, dalam meilih poso subyek yang paling mirip. Seperti pemotret, gitu.

2. Unsur tulisan atau teks

Berupa dialog (bicara lebih dari satu orang), monolog (bicara seorang diri), narasi (keterangan, penceritaan), dan efek suara (sound effect). 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Kisah Untuk Ramadan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan