Mohon tunggu...
riap windhu
riap windhu Mohon Tunggu... Sales - Perempuan yang suka membaca dan menulis

Menulis untuk kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Membangun Moral Bangsa, Dimulai dari Kursi Prioritas

28 Februari 2017   23:54 Diperbarui: 1 Maret 2017   20:00 3096
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

“Tolong bapak dan ibu, berikan kursi prioritas kepada yang sedang hamil, orang tua, dan bawa anak,” ujar seorang petugas Trans Jakarta, saat transportasi publik itu melaju dari halte ke halte, melintasi jalur bus yang disediakan sesuai dengan koridornya.

Anjuran seperti ini pasti  pernah didengar tidak cuma sekali oleh para pengguna Trans Jakarta. Terutama di koridor 9 dan 10 yang mulai beroperasi sejak tahun 2010.

Lantaran transportasi publik ini sudah lebih dari lima tahun, sebenarnya petugas hingga kini tak perlu selalu mengingatkannya kepada setiap penumpang yang naik. Namun, ternyata  cara ini masih cukup ampuh untuk membangkitkan kesadaran dan kepedulian para penumpang yang sengaja duduk di kursi prioritas.

Seperti halnya kursi-kursi lain yang tersedia di dalam Trans Jakarta, kursi prioritas juga menjadi incaran duduk para penumpang supaya tidak berdiri sepanjang rute perjalanan. Maklum, kapasitas kursi untuk penumpang duduk lebih sedikit daripada untuk penumpang yang berdiri.

Tanda kursi prioritas di Trans Jakarta (dokpri)
Tanda kursi prioritas di Trans Jakarta (dokpri)
Jika dapat tempat duduk, lumayanlah untuk mengurangi rasa lelah selama perjalanan. Apalagi, kalau sehabis berpergian atau bekerja yang melelahkan. Bisa   duduk di Trans Jakarta saat jam padat dan penuh penumpang, bisa menghela napas lega.

Di saat penumpang yang lain berdiri, yang mendapatkan tempat duduk bisa beristirahat, sibuk dengan ponsel mulai dari mendengarkan musik, membuka sebuah permainan, chatting, buka internet, hingga menelepon.

Jadi wajar, jika mendapatkan sebuah tempat duduk, baik yang prioritas atau bukan, hingga kini masih memberikan kebahagiaan pelepas lelah. Usia muda, laki-laki dan perempuan pun tak mau melewatkan adanya kursi prioritas yang kosong.  

Salahkah duduk di kursi prioritas? Tidak juga menurut saya, jika memang kosong dan tidak ada ada penumpang lain yang masuk 4 kategori, yang berhak dan sangat pantas duduk di kursi prioritas, yakni sedang hamil, lansia, membawa anak, dan  disabilitas.   

Duduk di kursi prioritas itu seharusnya membuat siapa pun penumpang menjadi lebih peduli dan lebih peka. Kenapa? Karena sebenarnya di atas kaca jendela yang berada di atas kursi prioritas yang warnanya dibedakan dengan kursi penumpang lain, biasanya sudah ada tempelan gambar mereka yang masuk golongan prioritas. Hal itu sudah bisa terlihat jelas.

Kereta khusus perempuan, mengajarkan kepedulian terhadap penumpang lain (dokpri)
Kereta khusus perempuan, mengajarkan kepedulian terhadap penumpang lain (dokpri)
Nah disinilah saya melihat ada beberapa tipe penumpang saat duduk di kursi prioritas. Ada penumpang yang peduli dan segera berdiri memberikan kursinya kepada para penumpang kategori prioritas, ada penumpang yang baru  memberikannya saat hendak akan turun, dan ada juga penumpang yang tidak begitu peduli dan tidak memperhatikan karena tertidur ataupun sibuk dengan ponselnya.

Tidak satu atau dua kali saya melihat justru penumpang yang duduk bukan di kursi prioritas, dengan tanggap justru yang  memberikan kursi yang telah didudukinya kepada yang lebih berhak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun