Mohon tunggu...
Riana Dewie
Riana Dewie Mohon Tunggu... Freelancer - Content Creator

Simple, Faithful & Candid

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Artikel Utama

Nostalgia "Lempeng Juruh", Jajanan Primadona saat Saya Masih SD

28 Juli 2016   11:36 Diperbarui: 28 Juli 2016   16:14 438 9 8
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Jajanan Lempeng Juruh di Pasar Kangen Jogja 2016 (Dok.Pri)

Satu kuliner unik saya temukan di Pasar Kangen Jogja 2016. Jajanan berwarna cokelat, krispi, dan cukup besar ini memang pantas untuk dinikmati. Berbahan dasar singkong yang diolah sedemikian rupa hingga menjadi sangat tipis berbentuk persegi panjang tentu menambah keseruan para pengunjung Pasar Kangen Jogja. Sajian jajanan dengan percikan juruh di atasnya ini menambah sensasi jadoel yang membuat setiap orang dewasa rindu akan masa kecilnya, tak terkecuali saya. Pantas saja ini menjadi jajanan favorit para pengunjung di sana. Siapa sih primadona ini?

Yuk, nostalgia dengan lempeng juruh, jajanan lawas yang dulu hampir setiap hari bisa kita nikmati di beberapa tempat, seperti di depan sekolah, di pasar tradisional, ataupun pasar-pasar tiban saat event tertentu. Nah, pada perayaan Pasar Kangen 2016 di Jogja kali ini, lempeng juruh kembali menjadi primadona karena sukses dipopulerkan oleh pasangan suami-istri, Kris-Lita, yang memiliki sebuah stand kuliner unik “Warung Moro Lego”. Tak hanya lempeng juruh, warung mini ini juga diramaikan dengan berbagai makanan dan minuman ‘tempoe doeloe’ yang kebanyakan berasal dari Jogja.

Pengunjung Pasar Kangen Jogja 2016 (Dok.Pri)
Pengunjung Pasar Kangen Jogja 2016 (Dok.Pri)
Antusiasme masyarakat untuk mengikuti event tahunan yang berlangsung mulai tanggal 19 hingga 27 Juli ini memang besar, terbukti dari padatnya pengunjung, apalagi saat weekend. Ditambah lagi dengan koleksi kuliner yang sangat menggoda, tentu para penjual di sana takkan merugi karena dagangan mereka diipastikan laris-manis, tak terkecuali “Warung Moro Lego” ini. Sajian jajanan unik yang ditawarkan sangat mengundang perhatian pengunjung bahkan sempat menjadi viral di media sosial Jogja dan sekitarnya. Sebenarnya, bagaimana ceritanya kok lempeng juruh populer lagi?

Saat berbincang dengan Lita, owner warung “Moro Lego”, ia menjelaskan bahwa ide jualan lempeng juruh ini adalah hasil dari flashback-nya di masa lalu. Selama beberapa tahun terakhir, ia dan suami selalu mengunjungi event Pasar Kangen dari tahun ke tahun. Sambil menikmati kuliner, ia temukan bahwa kebanyakan yang dijual di pasar ini adalah jajanan tradisional.

Warung
Warung
Menolak lupa akan jajanannya di masa kecil, tebersitlah lempeng juruh yang sempat menjadi primadona di masa lalu. Dulu, setiap 17 Agustus-an, selalu saja ada acara panggung hiburan di mana di kanan-kirinya selalu dipenuhi oleh para bakul (pedagang) makanan tradisonal dengan harga murah meriah. Jajanan yang dijual memang beraneka ragam, di antaranya sate kere (sate gajih), siomay, dan lempeng juruh. Terekam di memorinya bahwa aneka makanan tradisional ini biasanya dijual oleh simbok-simbok (ibu-ibu) yang membawa bakul. Meriah juga ya acara kampung di masa lalu.

Lita melanjutkan, dulu saat ia masih kecil, ibunya selalu mendisiplinkannya untuk tak jajan di luar, tak seperti teman-temannya. Terpaksanya ingin jajan, saat duduk di bangku kelas 3 SD, ia diberi sang ibu uang Rp. 50,- untuk jajan sesuai pilihannya. Nah, dia berpikir uang segitu buat beli apa ya? Kebanyakan camilan harganya lebih dari itu, cepat habis dan gak bikin kenyang tentunya. Suatu ketika dilihatlah lempeng-lempeng besar di atas bakul simbok-simbok, ia dekati dan diamatilah pembeli-pembeli lainnya saat menikmati jajanan supergede ini. Nah, disinilah ia tertarik untuk menikmati lempeng juruh juga. Jajanan yang gede tapi harganya supermurah.

Juruh untuk melengkapi sajian Lempeng (Dok.Pri)
Juruh untuk melengkapi sajian Lempeng (Dok.Pri)
Saat Juruh dipercikkan/dialirkan di atas Lempeng (Dok.Pri)
Saat Juruh dipercikkan/dialirkan di atas Lempeng (Dok.Pri)
“Nek mangan lempeng dulat-dulit ra entek-entek (kalau makan lempeng colak colek gak habis-habis...),” ucap Lita saat menjelaskan begitu menariknya jajan tradisional ini di masa lalunya. Ya, colak-colek itu maksudnya adalah colak-colek juruh (gula jawa yang dicairkan ditambah rempah penambah rasa) yang dipercikkan di atas lempeng tadi. Pernyataannya ini mengandung sebuah pesan menarik. Saat ia menyaksikan panggung hiburan, sekalipun acara sudah selesai, lempeng juruh yang dimakannya belum habis-habis karena ukurannya yang lumayan besar. Asyik yaaa :)

Itulah nilai unik yang mendorong Lita dan suami ingin mempopulerkan jajanan ini kembali di Pasar Kangen 2016. Dibantu oleh sang Ibu yang aktif hunting bahan makanan kuno (jadul) untuk bisa "dipamerkan" di event ini, mereka tampak antusias untuk mengajak para pengunjung bernostalgia dengan jajanan tempo dulu yang tak kalah menarik dengan jajanan kekinian. Selain lempeng juruh, stand mereka juga menyediakan jajanan kuno lainnya, seperti klethik-klethik jawa, bolu emprit, sate kolang-kaling, kue satus, dan geplak pupur. Adapun minuman yang tak kalah menarik, di antaranya es campur yang istimewa karena sirupnya ia buat sendiri serta menggunakan buah asli Indonesia, seperti bengkoang, nanas, dan kolang-kaling.

Saat Owner Warung Moro Lego, Lita dan Kris, Sibuk Menggoreng Lempeng (Dok.Pri)
Saat Owner Warung Moro Lego, Lita dan Kris, Sibuk Menggoreng Lempeng (Dok.Pri)
Bahan baku lempeng juruh ia dapatkan dari seorang perajin lempeng original di mana bentuk dan ukurannya benar-benar sama sesuai dengan memorinya di masa lalu. Dimensi besar, persegi panjang dengan ukuran kira-kira 30 x 15 cm serta dominasi rasa gurih dan manis, itulah keistimewaannya. Dipadupadankan dengan manisnya gula jawa kualitas terbaik, lempeng juruh buatan Lita memang sungguh menggoyang lidah. Tak heran jika warung mininya ini selalu dipadati pembeli karena harganya yang murah meriah, yaitu hanya Rp3.000,- per lembar lempeng dan hebatnya mereka rela antre panjang lho hanya demi menikmati jajanan kuno ini.

Antrian Pembeli Lempeng Juruh di Warung
Antrian Pembeli Lempeng Juruh di Warung
Pada hari pertama event Pasar Kangen ini, Lita sukses menjual 400 lembar lempeng. Saat weekend (Sabtu dan Minggu), ia sediakan 1.000 lempeng per hari dan ludes dibeli pengunjung yang membeludak. Biasanya ia menggoreng lempeng mulai jam 3 sore dan terus menggoreng hingga tak ada pengunjung lagi yang beli. Omzet dari penjualan lempeng juruh ini juga tentu tinggi jika dilihat dari reaksi masyarakat yang sangat berantusias mengejar jajanan kuno ini. “Banyak pengunjung kecewa jika datangnya malam hari karena lempeng juruh sudah pasti habis...,” tegasnya. Menariknya, semua makanan yang diolahnya berbahan dasar alami, tanpa bahan sintesis/kimia serta diolah secara higienis sehingga pembeli tak perlu takut saat menikmati makanannya.

Tim Warung
Tim Warung
Lempeng juruh, terakhir saya nikmati saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Dan semalam, saya dipaksa bernostalgia saat merasakan gigitan demi gigitan kuliner gurih-manis ini. Rontokan serpihan lempeng mengotori lantai di mana saya berdiri, aliran juruh menodai baju yang saya kenakan, itulah sensasinya. Terobati sudah rasa kangen saya dengan satu jajanan kuno yang sempat hits di masa lalu. Anda sudah sempat menikmatinya? Jika belum, ada sedikit bocoran nih, jajanan primadona ini bakal memeriahkan kuliner pada event Prambanan Jazz Agustus mendatang. Yukk Serbuuuu :D

Riana Dewie

Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan