Mohon tunggu...
Indrian Safka Fauzi (Aa Rian)
Indrian Safka Fauzi (Aa Rian) Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Pemuda asal Cimahi, Jawa Barat kelahiran 1 Mei 1994 yang dikelilingi Orang-Orang Hebat dan Luar Biasa. Sang pemerhati abadi. Penuh perjuangan dan kebahagiaan tiada batas. Sang Pemimpin di Masa Mendatang.

🌏 Akun Kedua yang Concern Humaniora (Sembari Menggali Hikmah dalam Al-Qur'an/Ajaran Islam) juga Sesekali Fiksiana, Lyfe, OIahraga dan Vox Pop 🌏 Berbagi Tulisan sarat Manfaat 🌏 Senang disapa Aa Rian oleh Keluarga Besar, Para Guru, Sahabat dan Kerabat 🌏 Visioner 🌏 Kritikus juga Solutif 🌏 Gamers 🌏 Sedang dalam kondisi Uzlah dan Tirakat 🌏 Pengetahuanku untuk Dirimu 🌏 Kekuatan Kata Dapat Merubah Dunia, Namun Kekuatan Terbesarmu adalah Merubah Karaktermu menjadi Luar Biasa 🌏 Seorang pemuda single belum pernah berpacaran yang mendambakan kehadiran Gadis Muslimah Salihah berhijab cantik dan mulia luar dalam 🌏 Bertekad Penuh dalam Menulis Sepenuh Hati Jiwa Raga untuk Kemajuan Peradaban 🌏 Link Akun Pertama: https://www.kompasiana.com/integrityrian 🌏 Surel: indsafka@gmail.com 🌏

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Filosofi Kepompong dan Kaitannya Dengan Uzlah

19 November 2022   16:15 Diperbarui: 20 November 2022   04:43 306
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Hai sahabat Pembaca!

Terima kasih sahabat penuh perhatian dan selalu setia hadir di setiap tulisan saya.

Saya doakan Keberkahan hidup mengalir di kehidupan Sahabat selama-lamanya. Aamiin YRA.

Kali ini saya ingin membagikan sebuah Filosofi tentang Uzlah (Menyendiri) yang ada kaitannya dengan Transformasi Kepompong.

Jadi inget lagu Sindentosca Kepompong dong! Hehehe~

"Persahabatan bagai kepompong~ berubah ulat menjadi kupu-kupu~"

Nah.

Mengingat daku sedang kondisi Uzlah.

Aku masih belum pantas untuk berkemampuan menjadi seorang yang benar-benar dibutuhkan kehadirannya bagi negeri ini secara fisik, karena aku masih memantapkan diri dalam kondisi ketersendirian dan mengasingkan diri dari hiruk pikuk kehidupan modern kota.

Saya berfokus pada tirakat saya yang selalu saya gembor-gemborkan pada artikel saya sebelumnya di akun Kompasiana:

https://www.kompasiana.com/rian94168

Banyak yang mengungkapkan sahabat Kompasianer dan pembaca, mungkin saya unik, beda sendiri, dan sebagainya.

Karena itu semua adalah bentuk perjuangan untuk dirimu dan kamu-kamu semua sahabat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun