Mohon tunggu...
Rheandita Vella Aresta
Rheandita Vella Aresta Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Mahasiswa Filsafat UGM semester akhir.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

KKN dan Rasanya Menjadi Beda

8 Agustus 2023   09:29 Diperbarui: 8 Agustus 2023   09:49 265
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Padukuhan Kaliwaru dikenal sebagai "Kampung Hindu" yang menjunjung "toleransi" oleh laman pencarian Google. Di samping itu, padukuhan ini juga terkenal dengan kerajinan bambu capingnya dan kaya akan pelestarian budaya-budaya, Sadranan, misalnya. Daerah ini beralamat lengkap: Padukuhan Kaliwaru, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Berbekal gambaran awal seperti ini, saya menjadi sedikit tertarik untuk menjalani 50 hari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Padukuhan Kaliwaru. Sebab, saya bertumbuh dalam lingkungan dengan mayoritas Islam dengan kadar keberagamaan yang bisa dibilang tinggi. Terbiasa dengan budaya keislaman, rasa penasaran muncul dalam diri saya, mengenai: "bagaimana rasanya menjadi minoritas?" dan "bagaimana konsep dari budaya agama-agama selain Islam?"

Berpadu dengan Budaya Hindu

Padukuhan ini memiliki sebuah Pura bernama Pura Podo Wenang. Umat Hindu di sini kerap melakukan peribadatan di sore menuju malam hari dan juga pada hari-hari besar agama Hindu. Mereka juga memasang dupa di depan rumah setiap waktu menuju maghrib. Rutinitas ini mengingatkan saya pada suasana saat berkeliling Bali.

Selama KKN, saya belum pernah mengikuti prosesi peribadatan umat Hindu secara langsung. Sebab, dalam beberapa kali kesempatan, saya mengalami cuntaka atau halangan yang menyebabkan saya tidak suci. Jadi, saat sedang menstruasi, kita tidak boleh memasuki Pura.

Hal yang saya kagumi dari peribadatan umat Hindu adalah pakaian yang mereka kenakan dan dekorasi serta alat pemujaan yang digunakan. Umat Hindu di sini beribadah mengenakan kebaya putih dan jarik yang terlihat sangat apik. Tidak lupa, mereka mengenakan riasan wajah dan menata rambut, serta kadang memakai semacam "bindi"-nya orang India.

Walau tidak pernah mengikuti peribadatan, kami pernah ikut membuat "alat" untuk persembahan. Menghaluskan kulit luaran kelapa tua, juga mengisi wadah janur dengan serundeng, teri, dan kacang tanah yang memiliki aturan penempatan dan jumlah masing-masing dalam satu wadah. Mengenai dekorasi tempat peribadatan, umat Hindu sering menggunakan anyaman janur dan bebungaan seperti bunga mawar dan bunga bulat yang bewarna kuning. Saya baru melihat bunga yang sering terpampang dalam serial India tersebut secara langsung pada saat KKN ini.

Pasraman merupakan kegiatan rutin untuk anak-anak Hindu di sini, semacam sekolah minggu atau TPA-nya umat Hindu. Bila TPA biasanya dilakukan pada saat sore hari, Pasraman ini dilaksanakan setiap hari Minggu pagi sekitar jam 10-an. Seragam pasraman ialah kaus hitam dan jarik sebagai bawahan. Menurut mbak Ida, pengampu pasraman di Pura Podo Wenang, pasraman di Kaliwaru ini lebih menekankan kegiatan bermain anak yang bertujuan merekatkan sense of belonging mereka sebagai umat Hindu. Harapannya, mereka tidak merasa sendirian dan measa kecil ketika keluar dan menjadi minoritas nantinya. Mereka akan mengingat bahwa mereka juga memiliki keluarga se-agama. Saya tidak bisa menilai ketepatan dari tujuan tersebut. Namun, saya merasa kok bisa-bisanya kepikiran seperti itu? Terbiasa menjadi mayoritas, saya tidak pernah memikirkan hal itu: Bagaimana jika budaya saya tidak lestari dengan baik di suatu daerah dan saya merasa asing dengan daerah yang menganut budaya berbeda? Mungkin dalam situasi seperti itu, sense of belonging dari orang-orang di belakang kita menjadi terasa berarti dan meng-empower diri kita.

Dokpri
Dokpri

Sementara itu, pasraman di daerah lain biasanya berisikan materi penguatan nilai-nilai Hindu. Dengan kata lain, pasraman sebagai kelas agama tambahan. Sebab, di daerah lain, guru agama Hindu seringkali terbatas atau  bahkan tidak ada.

Terakhir, saya baru mengetahui mengenai "sloka" saat anak-anak remaja di pasraman berlatih sloka untuk lomba. Sloka adalah semacam tembang keagamaan yang berbahasa Sansekerta dan Jawa.

Tantangan dalam Merekatkan Keberagamaan

Mempelajari atau sekadar mengetahui budaya baru tentunya merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi banyak orang. Ketika mengenal budaya baru, kita tidak serta merta meninggalkan budaya lama kita. Kita hanya menambah perspektif sehingga cara pandang kita menjadi lebih luas. Masalah memilih switch dari budaya lama ke budaya baru,  itu persoalan yang lain lagi. Kita bakal memasuki proses menimbang dan memilih opsi-opsi yang ada untuk akhirnya memutuskan untuk berganti budaya atau gaya hidup. Mungkin kita memilih atas dasar kalkulasi untung-rugi, sekadar mengikuti nurani, atau pertimbangan-pertimbangan lainnya yang menurut saya wajar sekali. Jika salah pilih, itu akan menjadi pelajaran hidup bagi masing-masing secara personal.

Namun, mengapa beberapa kalangan merasa tidak aman atas fenomena tersebut? Penolakan terhadap budaya agama lain, sentimen negatif terhadap orang-orang yang berpindah agama, hingga penolakan terhadap perkawinan beda agama kerap kali kita temui di lingkungan sekitar. Pernikahan beda agama dan perubahan keyakinan agama juga merupakan hal yang wajar terjadi di Padukuhan Kaliwaru ini. Apabila boleh menilai, saya merasa fenomena tersebut merupakan hal yang positif: warga di sini memiliki kebebasan untuk memilih keyakinannya sendiri.

Beberapa gesekan antara agama mayoritas dan minoritas juga timbul secara halus, selayaknya yang terjadi di berbagai daerah lain. Namun, untuk merekatkan perbedaan yang ada, warga Kaliwaru melakukan beberapa upaya penyatuan. Misalnya saat hari raya besar keagamaan, mereka saling melibatkan tetangga beda agama untuk membantu memasak. Selain itu, umat Hindu juga sempat merencanakan pengadaan lomba anak-anak lintas agama untuk menipiskan jarak yang ada.

Dari pengalaman KKN ini, saya menyadari bahwa sebagai mayoritas, ternyata kita juga memiliki semacam kewajiban untuk merangkul kelompok minoritas di sekitar kita. Bila menjadi minoritas, kita juga memiliki kewajiban untuk melestarikan budaya kita sendiri tanpa berasumsi buruk tanpa dasar terhadap kelompok mayoritas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun