Humaniora

Madrasatul Ula

6 Juni 2018   04:10 Diperbarui: 6 Juni 2018   04:21 305 0 0

Al-ummu madrasatul ula. Ungkapan yang 1000% benar. Masih belum bisa move on dari kisah ibu Thomas Alva Edison. DI saat dunia pendidikan formal tidak bisa menerima Edison karena "kelebihannya" ibunya tetap percaya dan tetap menganggap Edison bisa. Hasilnya?, saat ini kita bisa menikmati terang benderangnya dunia melalui lampu bohlam ciptaan Edison. Subhanallah. Kembali lagi semua karena kepercayaan dan usaha luar biasa seorang ibu.

Begitu juga dengan kisah nabi Ismail. Kisah abadi sepanjang masa tentang perjuangan tanpa lelah dan tanpa putus asa dari seorang ibu. Sendirian, di gurun pasir yang tandus, anak yang terus menangis kehausan. Alih-alih menyalahkan keadaan, Siti Hajar justru termotivasi dan terus berusaha untuk mencari solusi. Tujuh kali berlari dari bukit Shofa ke Marwa bukan hal yang mudah. Hajar tidak putus asa. Beliau terus berlari dan berlari dengan harapan yang pasti bahwa Allah pasti akan menurunkan pertolongannya. Dan Allah maha besar. Allah kirimkan air dari tanah yang dijejak jejak oleh bayi mungil Ismail. Zam-zam. Air kehidupan, air yang tak pernah berhenti mengalir. Bahkan hingga sekarang. Subhanallah. Sebuah akhir yang indah dari perjuangan yang tidak biasa.

Tantangan seorang ibu saat ini juga tak kalah hebat. Bagaimana menyiapkan generasi generasi yang kuat. Generasi yang seimbang antara urusan duniawi dan ukhrowi di tengah maraknya gempuran pengaruh-pengaruh negatif di lingkungan sekitar.

Konsisten memdampingi anak-anak belajar. Mendampingi dalam arti yang sebenarnya. Tanpa diselingi dengan bermain HP, nonton TV, atau aktivitas lainnya. Mendampingi yang benar-benar hadir baik secara fisik maupun pikiran. Semua akan mudah manakala tubuh dalam kondisi sehat, namun ketika badan dalam kondisi lelah, baik lelah fisik maupun pikiran setelah seharian bekerja di luaran, urusan mendampingi ini menjadi begitu tidak sederhana. Perlu "kewarasan" tingkat tinggi untuktetap bisa melakukan kegiatan pendampingan ini.

Sekali lagi, kuncinya adalah konsisten. Konsisten mendampingi, konsisten memotivasi dan konsisten tidak menyerah manakala anak-anak terkadang sulit untuk mengikuti apa yang ibu inginkan. Selalu percaya bahwa akan ada akhir yang indah untuk perjuangan yang tanpa lelah. Selalu percaya bahwa hasil tidak akan pernah menghianati usaha. Dan yang tak boleh terlupa adalah doa. Doa ibu yang selalu terpanjat untuk kebaikan anak-anaknya.

Al-ummu madrasatul ula. Ungkapan yang 1000% benar. Masih belum bisa move on dari kisah ibu Thomas Alva Edison. DI saat dunia pendidikan formal tidak bisa menerima Edison karena "kelebihannya" ibunya tetap percaya dan tetap menganggap Edison bisa. Hasilnya?, saat ini kita bisa menikmati terang benderangnya dunia melalui lampu bohlam ciptaan Edison. Subhanallah. Kembali lagi semua karena kepercayaan dan usaha luar biasa seorang ibu.

Begitu juga dengan kisah nabi Ismail. Kisah abadi sepanjang masa tentang perjuangan tanpa lelah dan tanpa putus asa dari seorang ibu. Sendirian, di gurun pasir yang tandus, anak yang terus menangis kehausan. Alih-alih menyalahkan keadaan, Siti Hajar justru termotivasi dan terus berusaha untuk mencari solusi. 

Tujuh kali berlari dari bukit Shofa ke Marwa bukan hal yang mudah. Hajar tidak putus asa. Beliau terus berlari dan berlari dengan harapan yang pasti bahwa Allah pasti akan menurunkan pertolongannya. Dan Allah maha besar. Allah kirimkan air dari tanah yang dijejak jejak oleh bayi mungil Ismail. Zam-zam. Air kehidupan, air yang tak pernah berhenti mengalir. Bahkan hingga sekarang. Subhanallah. Sebuah akhir yang indah dari perjuangan yang tidak biasa.

Tantangan seorang ibu saat ini juga tak kalah hebat. Bagaimana menyiapkan generasi generasi yang kuat. Generasi yang seimbang antara urusan duniawi dan ukhrowi di tengah maraknya gempuran pengaruh-pengaruh negatif di lingkungan sekitar.

Konsisten memdampingi anak-anak belajar. Mendampingi dalam arti yang sebenarnya. Tanpa diselingi dengan bermain HP, nonton TV, atau aktivitas lainnya. Mendampingi yang benar-benar hadir baik secara fisik maupun pikiran. Semua akan mudah manakala tubuh dalam kondisi sehat, namun ketika badan dalam kondisi lelah, baik lelah fisik maupun pikiran setelah seharian bekerja di luaran, urusan mendampingi ini menjadi begitu tidak sederhana. Perlu "kewarasan" tingkat tinggi untuktetap bisa melakukan kegiatan pendampingan ini.

Sekali lagi, kuncinya adalah konsisten. Konsisten mendampingi, konsisten memotivasi dan konsisten tidak menyerah manakala anak-anak terkadang sulit untuk mengikuti apa yang ibu inginkan. Selalu percaya bahwa akan ada akhir yang indah untuk perjuangan yang tanpa lelah. Selalu percaya bahwa hasil tidak akan pernah menghianati usaha. Dan yang tak boleh terlupa adalah doa. Doa ibu yang selalu terpanjat untuk kebaikan anak-anaknya.