Mohon tunggu...
Renny Indah Kantiti
Renny Indah Kantiti Mohon Tunggu... a Teacher... a Mom of 3... a Wife...

Guru SDN Muhara 01, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor # Calon Magister Pendidikan Dasar # Calon Guru Penggerak Kabupaten Bogor

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Merajut Masa Depan Pendidikan Indonesia dengan Memaknai Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

30 Oktober 2020   23:31 Diperbarui: 31 Oktober 2020   00:49 214 7 2 Mohon Tunggu...

Oleh : Renny Indah Kantiti

Selama ini yang sering kita pahami dari teori-teori belajar yang pernah kita pelajari saat  kuliah adalah memahami anak-anak sebagai sehelai kertas kosong putih dan bersih. Peran kita sebagai seorang guru adalah mengisi kertas-kertas kosong itu menjadi tulisan-tulisan dan warna-warna yang sesuai dengan apa yang kita ajarkan kepada mereka.

Kegiatan pembelajaran pun sebetulnya sudah mengikuti tren perkembangan zaman. Menerapkan Kurikulum 2013, menerapkan model pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skill), serta meningkatkan keterampilan Abad 21(Critical thinking, Creative thinking, Collaborative, Communication). Akan tetapi, kita sebagai guru selama ini seringkali ternyata hanya terus menuntut, masih jauh dari kata menuntun. Banyak guru masih terkungkung dengan target kurikulum dan terus menuntut mereka untuk mampu mencapai kompetensi dasar yang seharusnya mereka kuasai di jenjang kelas tertentu.

Timbullah banyak pertanyaan dalam benak saya. Apakah anak-anak menikmati proses pembelajaran yang dilakukan? Apakah kegiatan pembelajaran yang dilakukan meninggalkan kebermaknaan bagi mereka? Apakah anak-anak suka dengan cara saya mengajari mereka? Mungkin saja mereka hanya terpaksa melakukan itu semua, agar mendapatkan nilai yang bagus dan bisa naik kelas. Tuntutan saya justru menuntun mereka kepada ketidakmerdekaan belajar dan mungkin saja sayalah yang membuat potensi dan bakat mereka tidak bisa muncul.

Pemahaman saya berubah setelah memahami pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Apalagi setelah mendengarkan cerita Ki Priyo Dwiarso dari Perguruan Taman Siswa tentang ide-ide brilian yang disampaikan Ki Hadjar Dewantara hampir 100 tahun yang lalu. Banyak hal yang menyadarkan saya bahwa pemikiran inilah yang seharusnya dikembangkan dan diterapkan di Indonesia, yang seharusnya diajarkan secara mendetail kepada mahasiswa calon guru dan diterapkan oleh guru-guru di semua sekolah di Indonesia. Pendidikan yang berkebudayaan Indonesia.

Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa anak adalah sehelai kertas putih yang sudah ada tulisannya, hanya saja masih samar. Tugas guru adalah menebalkan tulisan yang sudah ada.  Oleh sebab itu, guru hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.

Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Ki Hadjar Dewantara memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab, maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan.

Lalu, harus bagaimana agar kelas kita bisa mencerminkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara? Ki Hadjar Dewantara mengingatkan bahwa pendidikan anak sejatinya melihat kodrat diri anak dengan selalu berhubungan dengan kodrat zaman. Bila melihat dari kodrat zaman saat ini, pendidikan global menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad 21 dengan melihat kodrat anak Indonesia sesungguhnya. KHD mengingatkan juga bahwa pengaruh dari luar tetap harus disaring dengan tetap mengutamakan kearifan lokal budaya Indonesia. Oleh sebab itu, isi dan irama yang dimaksudkan oleh KHD adalah muatan atau konten pengetahuan yang diadopsi, sejatinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. KHD menegaskan juga bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri.

Guru mampu menginternalisasi semboyan “Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” dalam kesehariannya sebagai seorang pendidik dan pembelajar. Ing Ngarso Sung Tuladha artinya didepan dapat memberikan contoh yang baik. Ing Madya Mangun Karsa artinya di tengah dapat membangun karsa, tidak hanya memerintah tetapi juga mau “tandang gawe”. Tut Wuri Handayani artinya di belakang dapat mendorong dan memberikan semangat.

Untuk menerapkan filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara tersebut di dalam kegiatan pembelajaran dengan mengenali lebih dekat karakter dan potensi masing-masing siswa.  Guru mendidik dengan hati. Guru melakukan pembelajaran yang berorientasi dan berpusat pada siswa. Guru memberikan kesempatan dan kebebasan siswa untuk  berpendapat dan berekspresi sesuai yang mereka inginkan. Guru dan siswa secara rutin bersama-sama melakukan refleksi pembelajaran agar pembelajaran yang dilakukan selanjutnya bisa diperbaiki dan lebih bermakna bagi siswa. Tidak lupa pula kegiatan pembelajaran sebaiknya kontekstual dengan budaya lokal. Think globally, act locally. 

Dengan implementasi demikian, diharapkan akan lahir generasi muda terpelajar yang memiliki profil Pelajar Pancasila di dalam diri mereka. Pelajar yang beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, kreatif, bernalar kritis, serta mandiri. Tugas kitalah yang menuntun mereka menjadi Generasi Emas Indonesia di masa mendatang. Semangat berjuang Guru Penggerak! (RIK-2020)

VIDEO PILIHAN