Edukasi Pilihan

Bukan Hanya Peran, Tapi PR!, Peran Komunitas Pemuda di Daerah-daerah Indonesia

10 Agustus 2018   23:49 Diperbarui: 11 Agustus 2018   00:01 430 1 1

109 tahun setelah kebangkitan nasional. 72 tahun setelah kemerdekaan. 20 tahun setelah Reformasi. 2017, Indonesia masih jauh dari apa yang diharapkan para Founding Fathers-nya. Pendidikan tidak merata dan penuh diskriminasi. Perekonomian dikuasai kapitalis asing. 

Disparitas kesejahteraan membuat perbedaan strata sosial sejelas sistem kasta di zaman Hindu dulu. Segelintir kaya yang semakin kaya, menguasai sepasukan besar massa yang miskin. Pelayanan kesehatan bergantung pada ketersediaan materi. Oksigen menipis ditekan polusi. Alhasil, masyarakat yang sudah sakit menjadi semakin sakit. Secara mental maupun fisik.

2017, ketidakadilan terus mendiversifikasi diri. Ada ketidakadilan hukum, ekonomi, sosial, hak asasi, dan masih banyak lainnya. Ketidakadilan kejam yang diterapkan penjajah terwariskan pada pribumi-pribumi yang mencintai kepentingan pribadi. Sejak 4 abad lalu hingga sekarang, KKN (kolusi, korupsi, nepotisme) masih terus merajalela. Bedanya, dulu yang melakukan terang-terangan alih-alih "main belakang", menggunakan "bedil" sebagai senjata alih-alih topeng kemunafikan.

2017, lagi-lagi yang dibutuhkan Indonesia adalah PERUBAHAN. Inisiasi perubahan tidak akan berhasil tanpa inisiator yang mumpuni dan berkarakter. Mahatma Gandhi pernah berkata,

"Here's to the crazy one. The misfits. The rebels. The troublemakers. The round pegs in the square holes. The one who see things differently. They're not fond of rules. And they have no respects for the status quo. You can quote them, disagree with them, glorify or vilify them. About the only thing you can't do is ignore them. Because they change things."

Dari kutipan tersebut, ada beberapa karakter inisiator perubahan yang dapat dipahami. Crazy (gila). Misfits (berbeda). Rebel (berontak). Ketiganya merupakan modal penting dalam menginisiasi perubahan, terutama jika hal tersebut diciptakan dalam kondisi gawat tapi tidak tersadari oleh "mereka" yang sudah merasa "nyaman". Dan siapakah kaum "non-mereka"? Kaum yang memiliki 3 karakter inisiator perubahan seperti yang Gandhi sebutkan? Jelas dan tidak terbantah. Jawabannya adalah PEMUDA.

Puluhan tahun lalu, Ir. Soekarno pernah menaruh kepercayaan besarnya kepada pemuda. Beliau mengungkapkan bahwa kekuatan segelintir pemuda dapat mengalahkan seratus orang tua. Pernyataan tersebut tentu bukan tanpa dasar. Sejarah bangsa Indonesia sendiri dibangun dengan keputusan-keputusan yang diambil oleh pemuda. Mulai dari berdirinya Budi Oetomo (1908), komunitas pemuda terorganisir yang pertama. 

Sumpah Pemuda (1928) yang melambangkan persatuan nagari-nagari di bawah satu panji sumpah, se-tanahair, setumpah, dan sebahasa Indonesia. Penculikan Rengasdengklok yang kemudian membuahkan Proklamasi pada 17 Agustus 1945. 

Di masa-masa berikutnya, pemuda terus berkontribusi, bahkan mengontrol terciptanya momen-momen krusial bagi masa depan bangsa. Klimaksnya tahun 1998, saat mahasiswa dari seluruh Indonesia tumpah ruah di Jakarta, menuntut diakhirinya tirani Orde Baru.

Beda zaman beda kondisi. Beda masa beda caranya. Memasuki zaman milenial, pergerakan komunitas pemuda lebih ramping dan rapi dibandingkan pendahulunya. Bentrok berdarah terminimalisasi. 

Dinamika tidak lagi sekeras sebelumnya, karena komunitas-komunitas tersebut tidak lagi berkonfrontasi dengan pemerintah. Setidaknya, pemerintah yang mereka hadapi bukan lagi pemerintah yang mengancam massa dengan ranjau kawat atau senjata api.

Secara garis besar, pergerakan komunitas pemuda era ini telah lebih leluasa dan aman. Dengan jaminan kebebasan hak berpendapat, komunitas pemuda memiliki area yang lapang untuk mengutarakan aspirasi, melakukan kegiatan-kegiatan diskusi kritis, dan memperbaiki masyarakat tanpa kekangan negara. Ditambah lagi dengan kemajuan teknologi informasi. 

Pergerakan komunitas pemuda dapat merambah hingga ke jejaring sosial yang luar biasa luas. Dari sekian banyak kelebihan yang ditawarkan era ini bagi komunitas pemuda, idealnya perubahan masyarakat yang dihasilkan menjadi lebih masif dan efisien. Pertanyaannya, bagaimana realitanya?

Dalam dinamika komunitas kepemudaan saat ini, komunitas pemuda terbagi menjadi banyak bagian. Ada komunitas yang memiliki struktur administrasi terorganisir dan ada yang tidak. Ada komunitas pemuda yang terorganisir dalam suatu institusi (sekolah atau perguruan tinggi) dan ada yang berdiri independen dalam masyarakat. Khusus komunitas pemuda yang mendasarkan tujuannya pada perbaikan masyarakat, baik intra maupun ekstra memiliki peran potensial yang sama.

Disebut potensial karena tidak semua komunitas mampu mengorganisasi aktivitasnya dengan baik untuk mencapai tujuan. Masih terdapat sebagian komunitas yang mengalami banyak kendala, seperti kurangnya kuantitas dan minat anggota dalam mencapai visi, disorientasi gerakan sehingga menyimpang dari tujuan, dan adanya kepentingan-kepentingan politis pribadi yang bertentangan dengan esensi komunitas. 

Akan tetapi di samping semua kendala tersebut, ada juga sebagian komunitas yang berhasil merealisasikan visinya, benar-benar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat.

Entah berjalan mulus atau penuh kendala, komunitas pemuda tetap memiliki nilai urgensi tinggi. Eksistensinya dalam masyarakat, utamanya masyarakat daerah, perlu dipertahankan. Hal tersebut dikarenakan komunitas pemuda memiliki tujuan dan arah gerak yang potensial digunakan untuk mengembangkan negara, dan khususnya lagi, daerah sekitarnya.

Terkait pengembangan dan perbaikan daerah-daerah di Indonesia, peran besar komunitas pemuda bukan hanya terletak pada competitiveadvantage-nya sebagai perkumpulan yang memiliki banyak potensi inisiator perubahan. 

Akan tetapi juga terletak pada kuantitas komunitas serta keterjangkauannya dengan lingkungan sekitar. Semakin banyak dan berkualitas gerakan komunitas pemuda dalam suatu daerah, maka semakin besar peluang daerah tersebut untuk berkembang.

Usaha peningkatan kuantitas dan kualitas demi kemajuan daerah menjadi tugas besar bagi setiap pemuda yang ada di dalam komunitas pemuda. Perlu adanya penekanan bahwa tugas yang diemban komunitas pemuda bukan sekadar peran yang menjadi potensi belaka, akan tetapi menjadi PR seumur hidup yang perlu direalisasikan menjadi nyata. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2