Mohon tunggu...
Rendra Trisyanto Surya
Rendra Trisyanto Surya Mohon Tunggu... I am a Lecturer, IT Auditor and Trainer

I am a Lecturer of IT Governance and IT Management. And IT AUDITOR and Trainer in CISA, CISM, CGEIT, CRISC, COBIT, ITIL-F, PMP, IT Help Desk, Project Management, Digital Forensic, E-commerce, Digita Marketing, CBAP, and also Applied Researcher. My other activity is a Citizen Journalist who like to write any interesting small events in my around to be excellent articles that would share with DIARY approached style. Several items which I was writing in here using different methods for my experimental, such as "freestyle with maybe avoided certain grammar," "feeling record on my certain expression," "poetry," "short stories," "pros," "travel writing," and also some about popular science. I use this excellent weblog (Kompasiana) as my experiment laboratory in writing exercise and increasing my Personal Branding... So, hopefully..these articles will give you beneficial inspiration and motivation for other people like my readers...! ... Rendratris2013@Gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Wejangan Menarik Pak Lurah di Acara Pernikahan Desa di Lampung

5 April 2017   16:34 Diperbarui: 7 April 2017   09:41 13105 1 2 Mohon Tunggu...
Wejangan Menarik Pak Lurah di Acara Pernikahan Desa di Lampung
(Acara akad nikah keponakan: Liliana dan Muhamamd Hatta di Desa Tekad, Kec Pulau Panggung, Kab Tanggamus, Lampung, dengan mengenakkan pakaian adat Palembang / Photo by: Rendra Tris Surya)

Selama seminggu, 24 -31 Maret 2017, saya pulang ke kampung istri di Sumatra. Di antara berbagai acara yang kami hadiri dengan agenda yang lumayan padat itu,  adalah menghadiri acara pernikahan keponakan di Desa Tekad, Kecamatan Pulau Panggung, Kab Tanggamus, Lampung. Sebagaimana acara serupa di mana-mana, acara ini juga diawali dengan kegiatan prosesi yang sebenarnya biasa saja. Di sana hadir “Tuan Kadi (Petugas KUA)”,  yang atas nama negara bertugas mengesahkan pernikahan pasangan muslim ini, yang kebetulan pengantin wanita merupakan turunan Suku Semendo MuaraDua, Lampung bernama Liliana, yang ibunya Aslana orang Semendo  di sini dan ayahnya Nggoey turunan Cina  yanglahir di DesaTalang Padang. Sudah cukup banyak proses pembauran terjadi di kawasan kampung di sini. Sedangkan pengantin pria merupakan  turunan Cina dari Palembang, yang saat ini bekerja pada suatu perusahaan Indonesia di negara Kamboja. Mereka berkenalan melalui dunia maya (medsos) yang membuat dunia ini menjadi "kecil" dan dekat. Pasangan ini hari ini, kemudian diarahkan oleh Tuan Kadi untuk  mengucapkan Ijab Kabul.  

Seperti biasa, usai pengucapan Ijab Kabul tersebut, para undangan dipersilakan mencicipi hidangan  khas Lampung yang tersedia, diiringi oleh Musik Live Dangdut  “Amanda”, yang sound system-nya nyaris memekakkan telinga. Begitu kerasnya suara musik  tersebut, membuat sebagian besar undangan setelah usai makan, tampak lebih banyak  duduk terdiam: entah karena menikmati musik gembira tersebut, atau cuma bisa melamun. Suasana yang terlihat bingar itu,  memang membuat banyak orang tidak bisa lagi  meng-ngobrol bebas satu sama lain, sebagaimana lazimnya jika menghadiri suatu acara silaturahmi. 

Justru karena  tidak bisa lagi men-ogobrol bebas dalam suasana seperti ini, maka saya kemudian tertarik memperhatikan tamu-tamu  di sekitar ruang tenda tersebut, yang datang. Siapa saja tamu-tamu kehormatan dalam hajatan yang lumayan besar,  sampai-sampai memotong seekor kerbau segala itu. Yang menarik perhatian saya, bahwa dalam acara akad nikah pasangan dari desa ini mengundang tokoh-tokoh masyarakat formal maupun informal dari di lingkungan Desa terdekat.  Tampak Pak  Camat Pulau Panggung yang menyempatkan hadir di pagi hari itu. Mungkin karena ini  hari libur. Lalu, tampak beberapa Kepala Pekon (Desa) yang ada di sekitar Desa Tekad yang juga hadir.  Mereka adalah pejabat desa, sehingga  duduk dikursi VIP  berbentuk lingkaran dengan taplak meja putih. Sementara tamu lain yang undangan biasa duduk di belakang di kursi biasa. 

Kemudian,  tampak pembawa acara yang dengan santai berdiri di panggung,  bolak balik memberi salam hormat terlebih dahulu ke para pimpinan Desa ini, sebelum memulai acara.  Pemandangan yang mengingatkan saya terhadap sebuah lagu dangdut nasional dari artis ibukota. Dalam laagu itu, penyanyinya berterima kasih karena dapat saweran lumayan banyak dari  Pak Lurah, Pak Polsek, dan terutama, dari Bang Mandor.  Bang Mandor (pengontrol suatu Projek), tampaknya akhir-akhir ini menjadi simbol tokoh informal masyarakat   yang cukup berpengaruh saat ini di Desa. Hal ini  sejalan dengan semakin banyaknya dana desa yang masuk ke kampung, untuk menjalankan berbagai projek pembangunan infrastruktur. Bang Mandor, kemudian menjadi simbol baru karena dianggap di desa sebagai orang yang berduit (orang “kaya baru”) itu,  seringkali tampak royal, terutama saat memberi saweran menghadiri berbagai hajatan  yang dilengkapi dengan musik dangdut hingga larut malam, ke para penyanyi. Bang Mandor  biasanya ikut berjoget dengan para biduan yang bergoyang hot dan seringkali  menggunakan rok mini tersebut, dan mengharapkan saweran (pemberian uang secara spontan) dari Bang Mandor dan pengunjung  lain yang bergoyang di atas panggung...

Memang dibandingkan dengan acara musik dangdut yang biasanya sampai  tengah malam, maka acara akad nikah  di pagi hari ini terlihat lebih kalem, serius, formal  dan hikmat. Berbagai doa dan pengajian pun dikumandangkan menyelingi acara akad nikah tersebut. Setelah pasangan pengantin ini dinyatakan sah, maka acara berikutnya adalah mendengar berbagai pidato sambutan dan wejangan yang silih berganti yang diberikan oleh para Kepala Desa dan tokoh yang diundang. Awalnya, tampak tidak ada yang istimewa dari berbagai kata sambutan yang disampaikan mereka tersebut. Karena terdengar banyak berbasa-basi dan klise.  Namun tiba-tiba, saya tersentak dari kantuk saat mendengar sambutan singkat dari Lurah DEsa Penantian yang naik ke panggung dengan penampilan yang sangat sederhana berjaket coklat, memberi  wejangan perkawinan yang “tidak biasa”. Kalimatnya terlihat cerdas dan bermakna dalam, seperti  mewakili problema banyak orang di dalam berumahtangga di kota maupun di desa. Pandangannya terlihat  “out of the box”.

Ananda berdua, hari ini telah dinyatakan sah sebagai suami-isteri. Mulai hari ini juga kalian telah membentuk rumah tangga yang mudah-mudahan 'Sakinah Mawaddah Wa Rahmah'. Tapi jangan lupa, untuk selalu saling belajar dalam perjalanan rumah tangga kalian. Tidak mungkin di dalam suatu perkawinan, semuanya akan berjalan dengan mulus-mulus saja,  tanpa ada satu pun rintangan dan perselisihan yang terjadi. Karena kalian berdua sebenarnya dua pribadi yang berbeda, dan tetap akan berbeda sampai kapan pun. Kalian masing-masing  juga dibesarkan serta  berasal dari lingkungan yang juga berbeda-beda pula. Oleh karena itu, jangan bosan untuk saling belajarlah satu sama lain  selama umur perkawinan kalian. Saya pun, yang sudah berkerut dan beruban tua seperti ini, masih tetap terus belajar dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Sampai nanti akhir nyawa masuk kubur, atau terjadinya perceraian” kata Pak Lurah Desa yang mulai tampak unik,  memulai wejangan tentang perkawinan.

Manusia dalam hidupnya akan selalu mengalami perubahan berkali-kali, sesuai perkembangan usianya. Mungkin saja di dalam setiap perubahan tersebut kalian akan sedikit berubah menjadi orang lain yang berbeda dari sebelumnya. Jadi, jangan pernah ragu-ragu untuk belajar terus saling memahami karakter pasangan kalian. Karakter  yang sekarang maupun dan yang nanti akan berubah,” lanjutnya.

Saya tiba-riba, terpesona dengan sambutan Pak Lurah yang satu ini. Kalimatnya sederhana, namun bermakna luas dan  dalam. Kalau kalimat ini diucapkan oleh seorang Profesor, Ulama,  atau intelektual yang berasal dari kota-kota besar, mungkin ini menjadi hal yang biasa-biasa saja. Tapi kali ini, diucapkan oleh seorang Kepala Pekon (Lurah Desa) dari suatu tempat yang jaraknya sekitar 90 Kilometer dari kota Bandar Lampung di Propinsi Lampung.

Semakin menarik lagi, ketika Pak Lurah kemudian menguraikan berdasarkan  versinya, tentang hubungan antara Nafsu Seks dan Ijab Kabul. Kalimat yang dilontarkannya terhitung berani, meski tidak terlihat vulgar.  Hal ini menunjukkan, bahwa Pak Lurah ini sudah kenyang pengalaman dan asam garam dalam  kehidupan rumah tangga. “Dalam suatu perkawinan dan ber-rumah tangga, istri itu memiliki tugas yang sangat  mulia. Karena dia juga berfungsi menjaga nama dan martabat suami di masyarakat.  Seorang Laki-laki  yang mempunyai istri, selalu lebih mudah  tercegah dari berpikir macam-macam ketika sedang berada di luar rumah,” lanjutnya. Maksud Pak Lurah mungkin, bahwa suatu perwakinan yang sah dan yang dibangun berdasarkan Cinta dan Kasih Sayang, akan  berfungsi memanusiakan hubungan seks,  sehingga terhindar dari mudharat suatu perbuatan perzinahan.

Di dalam Agama Islam, memang perzinahan (hubungan seks di luar nikah), dinyatakan sebagai suatu dosa besar yang tak termaafkan. Dan pelakuknya bisa dihukum dengan sangat keras. Oleh karena itu, jika ketahuan, maka pelaku akan dihukum rajam dengan dilempari 100 batu, yang biasanya berakhir dengan kematian. Tapi, disinilah uniknya: setelah seorang Pria dan Wanita secara sah mengucapkan Ijab Kabul yang hanya membutuhkan waktu beberapa menit tersebut. Maka hubungan seks antara pria dan wanita tersebut, justru  tidak lagi HARAM, tapi Halal (dibolehkan). Malah kemudian sudah menjadi kewajibkan.

Bahkan, suami-istri akan mendapatkan sanksi, jika tidak melakukan kewajiban tersebut secara baik dan teratur. Sebagaimana dikatakan juga dengan tegas oleh Tuan Kadi (Petugas KUA)  saat menikahkan pasangan ini “ Bahwa jika selama tiga bulan berturut-turut, suami tidak memberi nafkah lahir maupun batin (seks), maka istri berhak menggugat cerai..”  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x