Mohon tunggu...
Christopher Reinhart
Christopher Reinhart Mohon Tunggu... Sejarawan Bidang Kolonial

Christopher Reinhart adalah asisten peneliti dari Prof. Gregor Benton pada School of History, Archaeology, and Religion Cardiff University. Tulisannya berfokus pada bidang sejarah kuno Asia Tenggara dan Indonesia, sejarah kolonial, dan sejarah perkembangan Buddhisme.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Perputaran Aneh Distribusi Pendapatan Kita dan Bandingannya pada Masa Klasik

14 Januari 2020   22:51 Diperbarui: 16 Januari 2020   10:58 1174 8 0 Mohon Tunggu...
Perputaran Aneh Distribusi Pendapatan Kita dan Bandingannya pada Masa Klasik
Ilustrasi: alamy.com/stock-photo/james-hazen-hyde

Judul yang tertulis pada bagian atas tulisan ini mungkin akan membawa pikiran kita menuju istilah ekonomi makro. Namun demikian, saya perlu menegaskan bahwa intisari tulisan ini tidak akan menyentuh bahasan tersebut. 

Bertolak dari sebuah fenomena yang beberapa lama saya amati, tulisan ini dibuat untuk memandangnya dari sisi kesejarahan. Sepanjang bulan ini, saya banyak menghabiskan malam untuk duduk di kedai-kedai samping jalan raya dan menikmati makanan jalanan yang disuguhkannya.

Pada setiap kesempatan, tanpa terkecuali, selalu saya mendapati setidaknya satu pengemis atau pengamen yang mendatangi kedai untuk meminta sedekah dari pengunjung. Ini adalah fenomena yang saya sebut sebagai skema distribusi pendapatan. 

Pengemis atau pengamen tersebut datang untuk memberikan jasa yang tidak diminta oleh pelanggan dan mengharap mendapat jatah kecil dari pendapatan pelanggan. Praktik ini kita sebut sebagai pemberian sedekah.

Namun demikian, saya tidak ingin mengamalgamasikan makna pemberian sedekah tersebut dengan penyaluran pendapatan kita melalui lembaga-lembaga amal atau cara yang lain selain memberi pengemis. Oleh sebab itu, saya menyebutnya sebagai aksi mendistribusikan pendapatan kita secara aneh.

Skema ini saya sebut aneh menyoal kondisi yang melingkupinya. Para pengemis atau pengamen hadir di atau menghadiri tempat-tempat yang umumnya diisi oleh masyarakat ekonomi menengah ke bawah. 

Dengan demikian, kedua pihak, baik yang meminta maupun diminta masuk ke dalam kategori masyarakat bawah. Aliran dana di antara mereka berputar dari orang yang serba terbatas kepada orang yang miskin, lalu berakhir pada rantai ekonomi kapitalis yang menyediakan kebutuhan mereka.

Maksudnya, sebagian pendapatan masyarakat menengah ke bawah mengalir ke kantong pengemis yang sama-sama akan digunakan untuk membeli produk kebutuhan yang diproduksi oleh raksasa ekonomi, produsen rokok, atau roda kapitalis yang lain. 

Dengan demikian, sekalipun pendapatan mereka terdistribusi, kedua pihak akan tetap menjadi bagian dari masyarakat bawah. Fenomena ini sangat menarik dalam pandangan saya. 

Dengan latar belakang bidang sejarah, saya bertanya-tanya mengenai asal mula para pengamen yang kini menjadi salah satu fenomena problematis dan penting.

Bila kita menelusuri jawaban atas pertanyaan ini dengan jalan masuk melalui masyarakat agraris, kita akan menemukan sepotong jawaban.

Masyarakat agraris Asia Tenggara memiliki struktur masyarakat yang tegas dan pengaturan yang kuat namun cukup sederhana. Kelompok masyarakat petani memiliki skala yang kecil dan keterikatan yang kuat.

Masyarakat tani Asia Tenggara yang hidup subsisten ini sesungguhnya dapat dikategorikan sebagai masyarakat bawah pada masanya -setaraf ekonomi dengan masyarakat bawah yang saya maksud sebelumnya. Pada masyarakat ini, terdapat pula lembaga sosial yang menjamin adanya distribusi pendapatan.

Lembaga sosial ini mewujud dalam dana seremonial. Masyarakat petani Asia Tenggara yang hidup secara subsisten setidaknya harus memenuhi empat beban biaya yang mendukung kehidupan mereka, yaitu makanan minimum mereka, biaya penggantian alat dan barang yang rusak atau berumur, biaya seremonial untuk hubungan sosial, dan biaya sewa tanah. 

Biaya atau dana seremonial adalah aspek yang berkaitan dengan kehidupan sosial. Biaya ini dikeluarkan untuk menjaga hubungan antarindividu dan hubungan keluarga-masyarakat. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x