Mohon tunggu...
Refly Andika
Refly Andika Mohon Tunggu... Mahasiswa Ilmu Komunikasi

still learning about writing.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Unggahan Tweet Tentang Anak Lelaki Merajut, Mengapa Viral?

10 April 2021   14:42 Diperbarui: 10 April 2021   14:58 60 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Unggahan Tweet Tentang Anak Lelaki Merajut, Mengapa Viral?
Tweet dari aku twitter @trianovandaptr

Dengan adanya perkembangan teknologi media sosial sekarang, membuat segala hal mampu berpotensi menjadi sesuatu hal yang akan viral. Ini terjadi karena ada banyaknya pola interaksi yang terjadi di masyarakat dan sering kali menjadi hal yang kontroversial. Suatu hal dapat dikatakan viral apabila hal tersebut dapat menyebar luas dengan cepat dan mendapatkan banyak atensi dari masyarakat di media sosial. Dengan adanya ruang interaksi yang besar dan interaktif di media sosial membuat pengguna media sosial ini dapat mengakses informasi ataupun menanggapi isu-isu di media sosial  dengan cepat dan mudah.

Salah satu isu yang tidak pernah habis dan selalu diperbincangkan akhir-akhir ini adalah isu tentang bias gender. Pengertian gender menurut Simamora (2019) yaitu merupakan sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh faktor-faktor sosial maupun budaya, sehingga lahir dengan beberapa anggapan tentang peran sosial serta budaya laki-laki atau perempuan. Jadi gender adalah suatu sifat yang melekat dari diri laki-laki ataupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Gender merupakan kondisi sosiokultural atau kategori sosial yaitu maskulin dan feminim yang tercermin melalui perilaku dan keyakinan antar individu, oleh karena itu gender adalah sebuah konsep sosial. Pembahasan tentang problem gender tidak akan pernah luput dari peran gender (gender role), Gagasan tentang kesetaraan gender (gender equality) dan ketidaksetaraan gender (unequality gender).

Fenomena bias gender umum nya dapat kita temui dengan mudah di media sosial dan sangat ramai dibicarakan dalam berbagai waktu dan kesempatan. Seperti beberapa waktu yang lalu, sebuah unggahan tweet yang viral dari akun Twitter @trianovandaptr yang berisi tentang keponakan laki-laki nya yang tidak diperbolehkan merajut oleh ibunya. "2 hari yang lalu keponakanku menangis gara-gara semua mainan benang dan pita yang dia punya dibuang ama Mamanya. Mama dia marahi dia supaya jangan main benang & pita lagi karena itu mainan cewe. Mamanya ingin dia main sepak bola & layangan spt anak2 laki di sekitarnya," ujar akun @trianovandaptr dalam tweetnya. Per tanggal 8 April 2021 unggahan tersebut sudah menggapai 24,9 ribu retweet dan 81 ribu likes. Merajut yang identik dengan kegiatan ibu-ibu, memang tidak terlalu populer dijadikan hobi anak-anak. Namun, anak laki laki tersebut yang bernama Tama justru melakukannya sebagai hobi. Pada thread yang di unggah akun @trianovandaptr mengisahkan kesedihan Tama setelah dimarahi oleh ibunya karena hobi nya itu, Menurut perspektif sang ibu, anak laki-laki seharusnya bermain bola atau layangan, bukan bermain benang dan alat merajut karena itu untuk anak perempuan. Tama tertarik untuk merajut karena sering melihat tante nya (pengunggah tweet) merajut sehingga dia penasaran dan minta diajari, namun belum juga karyanya selesai ia dimarahi sang ibu dan tidak diperbolehkan untuk merajut lagi. Ova (pengunggah tweet) pun mengaku sedih karena keponakannya dimarahi sang ibu yang mengaggap bahwa Tama tidak semaskulin anak laki-laki pada umumnya, namun menurut Ova, Tama tidak memiliki sifat feminim. Hanya saja, Tama memiliki sifat yang lembut.

Unggahan tweet tersebut pun menjadi viral karena banyak warganet menyayangkan bias yang dilakukan oleh sang ibu terhadap hobi Tama. Sang ibu tidak ingin anak nya menjadi laki-laki yang feminim, ia ingin anaknya menjadi seperti anak laki-laki pada umumnya yang hobi bermain permainan yang seharusnya dilakukan oleh laki-laki. Tama tidak suka bermain permainan yang melibatkan fisik, dan dalam olahraga juga ia selalu tertinggal, Tama lebih suka memainkan pita dan benang. Menurut Psikolog anak sekaligus Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Nael Sumapow, tindakan yang dilakukan oleh orang tua Tama yaitu adalah stereotip gender. Dilansir dari Kompas.com, Rabu (1/7/2020), Seorang anak laki-laki yang melakukan aktivitas merajut atau menyulam tidak kemudian menjadi anak perempuan, tidak ada yang salah dengan anak laki-laki merajut atau menyulan. Menurut Nael ada beberapa faktor yang menyebabkan sang ibu melakukan pembatasan pada sang anak. Seperti sosialiasi tentang gender yang sang ibu dapatkan sepanjang hidupnya, keluarga besar, lingkungan pergaulan. Orang tua dari Tama dapat menyimpulkan bahwa kegiatan merajut dan menyulam adalah kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh perempuan karena pandangan sang ibu terhadap gender yang masih beranggapan laki-laki dan perempuan dibedakan melalui sifat, perilaku dan kegiatan yang dilakukannya yang akhirnya menciptakan stereotip gender.

Stereotip gender yang dilakukan oleh sang ibu pun membuat banyak user twitter berkomentar dan memberi dukungan kepada Tama melalui akun twitter @trianovandaptr yang akhirnya membuat tweet tersebut viral. Tidak sedikit dari mereka yang membagikan kisah nya dan ingin mengirimkan alat rajut kepada Tama pada thread yang dibuat akun twitter @trianovandaptr.

"SMP gua belajar merangkai bunga. SMA ekskul mesin dan musik paling populer, tapi gua pilih tata boga dan hari ini gua tetep cowok!" komentar akun @ari_trismana.

"Jadi ingat teman SMA-ku, dia jago banget menggambar, tp suatu hari semua gambarnya dirobek dan dibakar sama mamanya. Katanya menggambar itu pekerjaan laki-laki. Aku selalu dukung dia, tp katanya skrng udah nggak berani menggambar lagi." Akun @oxyiesva pun turut membagikan kisahnya.

"Pesen buat orang tua, please stop bunuh mimpi anak-anak kalian kelak. Arahin bukannya cuman ngelarang tapi nggak ngasih solusi. Percaya atau enggak, ini akan berdampak ke anak ketika mereka sekolah, bisa jadi crisis identity berkepanjangan. Luntang-lantung passion-nya dikubur." Respon akun @kayrazing yang berpesan kepada para orang tua agar tidak membuang mimpi anaknya

VIDEO PILIHAN