Mohon tunggu...
Reza Paradisa
Reza Paradisa Mohon Tunggu... Pemulung Waktu Luang

Menulis adalah memberi kesempatan orang lain untuk membaca isi pikiran kita.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Memperingati Hari Santri, Napak Tilas Resolusi Jihad 1945

22 Oktober 2019   10:29 Diperbarui: 24 Oktober 2019   12:59 0 0 0 Mohon Tunggu...
Memperingati Hari Santri, Napak Tilas Resolusi Jihad 1945
dokpri

"Berperang melawan penjajah itu fardhu 'ain bagi yang berada dalam radius 94 KM dari tempat kedudukan musuh", begitu kiranya cuplikan seruan yang dilancarkan KH.Hasyim Asy'ari pada tanggal 22 Oktober 1945 pada pertemuan ulama-ulama NU seluruh jawa dan madura di Surabaya yang berlangsung pada tanggal 21 -- 22 Oktober 1945.

Tahun 1945 tercatat dalam sejarah sebagai tahun kemerdekaan Republik Indonesia bertepatan pada bulan Agustus seteleh melalui perjuangan yang sangat panjang dan berdarah demi tercapainya kemerdekaan. Namun 1945 bukanlah akhir dari segala perjuangan itu, pertempuran selama lima hari meletus pada tanggal 15 -- 20 Oktober di Semarang.

Pertempuran melawan sisa pasuka Jepang ini akhirnya melatarbelakangi PBNU menggelar pertemuan ulama-ulama se-Jawa dan Madura guna membahas situasi tanah air dan perjuangan mempertahanan kemerdekaan. Lahirlah sebuah Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober  yang sekaligus menguatkan fatwa jihad KH. Hasyim Asy'ari.

Tidak sampai di situ, perang dahsyat akhirnya pecah kembali pada tanggal 10 November dengan kembalinya tantara Sekutu dan Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia setelah mereka berhasil menang pada Perang Dunia II. Rakyat Surabaya tidak bisa tinggal diam, bagi mereka kemerdakaan adalah harga mati.

Fatwa resolusi jihad KH.Hasyim Asy'ari telah mengobarkan semangat perjuangan seluruh  rakyat tanah air terkhusus para kaum sarungan dari kalangan pesantren yang turut mengorbankan nyawa dan darahnya demi mempertahankan kemerdekaan. Situasi sangat genting, perang hebat yang banyak menggugurkan para pejuang itu akhirnya berhasil membuat pasukan Sekutu kocar-kacir, yang kemudian hari di mana perang dahsyat itu pecah pada tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Pada tahun 2015, melalui Keppres No. 22 Tahun 2015 Presiden Jokowi menetapkan Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober. Akhirnya peran santri yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia mendapatkan tempat dan penghormatan yang layak di mata Negara. Tentu saja kita berharap bahwa para santri hari ini dapat meneladani para santri yang dahulu gugur dalam medan perang dalam hal meneladani kecintaan dan semangat rela berkorban demi keutuhan dan kemajuan bangsa dan tanah air.

Bersyukur sekali penulis pernah nyantri selama enam tahun di pesantren yang didirikan oleh Mbah Hasyim Asy'ari, suatu nikmat dan syukur yang tidak mungkin tak akan ternilai oleh materi, Allahummayarham.

Hari ini, tepat sudah tahun ke-lima kita memperingati Hari Santri Nasional. Dalam momentum ini, mari kita sama-sama menapaki jejak yang pernah dilalui oleh para pejuang kemerdekaan sebagai hadiah termahal bagi Bangsa yang luar biasa ini. Tanpa jejak-jejak itu, barangkali bangsa ini akan kehilangan arah tujuan untuk berpijak. Bung Karno pernah mengatakan "Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri".

Perjuangan mempertahanan kemerdekaan tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun. Setiap masa pasti memiliki konteks perjuangan dan aktualisasi yang berbeda. Hari ini mungkin kecil kemungkinannya kita berjuang dalam bentuk angkat senjata seperti yang terjadi di masa lalu, medan perangnya sudah berbeda.

Dengan berpedoman pada sejarah besar bangsa yang besar ini, seharusnya menjadi dorongan besar bagi diri kita untuk senantiasa bersyukur untuk setiap hal yang telah terjadi di masa lalu. Bentuk rasa syukur itu seharusnya diaktualisasi dalam diri kita untuk senantiasa menciptakan hal-hal yang positif seperti peningkatan dalam belajar, bekerja, berkarya ataupun hal-hal positif lainnya. Jangan jadikan darah yang sudah bertumpah pada masa lalu tak lagi ada harganya.

Selamat Hari Santri!

-Reza Paradisa, 22 Oktober 2019