Mohon tunggu...
RD Putri
RD Putri Mohon Tunggu... A learner.

I think therefore I am.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Saya Korban Pelecehan Seksual, Saya yang Salah?

8 Juli 2020   21:58 Diperbarui: 10 Juli 2020   04:04 445 19 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Saya Korban Pelecehan Seksual, Saya yang Salah?
ilustrasi perempuan. (sumber: KOMPAS)ilustrasi perempuan. (sumber: KOMPAS)

Pelecehan seksual yang terjadi pada korban banyak dikaitkan dengan struktur budaya yang ada di masyarakat seperti sistem patriarki

Sebuah pandangan di masyarakat dimana perempuan dijadikan objek seksualitas atau objek kekuasaan laki-laki. Pelecehan seksual memang rentan terjadi pada perempuan namun tidak dapat dikecualikan bahwa laki-laki pun mengalaminya.

Masyarakat Indonesia menanggapi pelecehan seksual yang terjadi pada laki-laki sebagai hal yang tidak perlu diperhatikan. Hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana korban perempuan lebih mendapatkan sorot dibanding ketika korbannya adalah laki-laki. 

Toxic masculinity yang sudah ditanam sejak kecil menjadikan para korban laki-laki enggan speak up terkait pelecehan yang terjadi. Stereotip pada laki-laki digambarkan sebagai seseorang yang kuat, rasional dan otoriter (memiliki control) membuat para korban dicap gagal sebagai laki-laki.

Korban pelecehan seksual di masyarakat kerap kali diberi stigma negatif seolah-olah merekalah yang menjadi "penjahatnya". Mereka dianggap berlebihan ketika melapor atau mempermasalahkan pelecehan yang terjadi. 

Sering kali masyarakat menanggapinya dengan "lebay", "cuma bercanda" atau hanya "main-main". 

Besar-kecil bentuk pelecehan seksual yang diterima korban tetaplah sebuah pelecahan seksual. Dari pelecehan seksual seperti cat calling atau menggoda, perilaku seksis sampai pelanggaran seksual seperti pemerkosaan.

Masyarakat seolah-olah memberikan pembenaran bagi para pelaku pelecehan seksual dengan mengalihkan isu pelecehan pada korban. Jika korban pelecehan seksual terjadi pada perempuan, mereka dianggap sebagai penyebab terjadinya pelecehan tersebut. 

Pakaian menjadi salah satunya. Busana yang dianggap paling nyaman untuk digunakan oleh para perempuan dituduh sebagai alasannya. Pandangan ini bagai menganggap bahwa perempuan yang berbusana tidak memakai jilbab boleh (bebas) dilecehkan.

Beda halnya ketika korban pelecehan seksual tersebut adalah laki-laki. Di lingkungan masyarakat, laki-laki yang kurang (tidak) menunjukan sisi maskulinitasnya rentan dilecehkan. 

Para pelaku pelecehan seksual kerap kali merasa lebih berkuasa dibandingkan korbannya. Perlakuan seksis dan kekerasan verbal banyak diterima oleh korban laki-laki. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x