Mohon tunggu...
R. Syrn
R. Syrn Mohon Tunggu... Lainnya - pesepeda. pembaca buku

tentang hidup, aku, kamu dan semesta

Selanjutnya

Tutup

Entrepreneur Pilihan

Pengalaman Gagal Beternak Ayam

31 Januari 2023   17:26 Diperbarui: 31 Januari 2023   17:31 715
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber foto : japfacomfeed.co.id

Kalau tips ataupun trik cara sukses beternak apapun rasanya sudah jamak, saya sengaja membuat tulisan ini agar siapapun yang berminat untuk berbisnis atau bikin usaha di bidang peternakan, khususnya ayam, agar tidak mengalami hal yang tidak dikehendaki oleh siapapun, yaitu merugi.

Sebenarnya ini kejadian lama, sewaktu saya bersekolah di sekolah kejuruan dulu di jurusan peternakan.  Sekolah yang awalnya tidak saya minati sama sekali bahkan nama sekolah peternakan pun baru saya tahu saat diminta orangtua untuk mendaftar sekolah di situ, intuisi abah lah yang mengakibatkan saya manut dan akhirnya menimba ilmu di sana.  Mungkin masalah jurusan sekolah yang tak sesuai dengan kehendak dan minat ini akan dibahas lain kali.  Kali ini fokus pada persoalan ternak ayam saja.

Jadi dulu itu sesuai kurikulum sekolah, siswa di awal kelas dua alias semester tiga, diwajibkan untuk membikin kelompok yang terdiri atas empat sampai lima orang, dan diwajibkan untuk melakukan praktek manajemen ternak secara keseluruhan, dari perencanaan sampai evaluasi hasil praktek.  Soal hewan yang akan diternakkan itu berdasarkan kesepakatan kelompok.  Kebetulan ayam broiler alis pedagingadalah jenis ternak yang memungkinkan untuk dilakukan dan biaya pemeliharaannya tak sebesar ternak lainnya semisal ayam petelur, kambing apalagi sapi.  

Pertimbangan lainnya adalah lama pemeliharaan hewan ternak dari DOC (day old chicken) alias ayam usia sehari sampai nantinya panen di usia sekitar satu bulan. Kemudian juga kebetulan fasilitas kandang di lahan praktek sekolah juga memungkinkan untuk dipinjam pakai selama praktek pemeliharaan dengan sistem litter, yaitu menggunakan sekam sebagai alas di atas lantai tanah.

Setelah urunan biaya pemeliharaan untuk seratus ekor ayam, akhirnya DOC pun datang di malam hari, sebelumnya kandang untuk ternak sudah didesinfektan tentu saja, biar terbebas dari hama penyakit.  Anak ayam yang datang langsung divaksin, saya lupa via tetes mata atau lewat air minum, atau malah DOC yang telah dibeli sudah divaksin semenjak dari perusahaan bibit.  Pokoknya vaksin adalah hal terpenting yang dilakukan setelah desinfektan kandang biar kesehatan ayam terjaga.

Sampai tahap ini bibit ayam kelompok kami masih aman, pemberian pemanas untuk ayam pun dijaga biar tetap hangat.  Memang anak-anak ayam itu manja, karena selain bukan ayam kampung, mereka toh tak punya induk, jadi kasihan juga, makanya kehangatan kandang harus stabil, pemanasan dilakukan dengan memberikan penerangan dengan bohlam lampu.

Makan dan minum untuk anak ayam diberikan secara adlibitum, alias kudu tersedia terus, jangan sampai habis, jangan pula sampai dirubung semut ataupun binatang lainnya, harus dijaga agar berat badan dan kesehatan mereka stabil.  DI air minumnya pun dikasih vitamin sebagai penguat.

Secara berkala anak ayam divaksin lagi,  yang diberikan adalah vaksin ND alias newcastle disease atau yang biasa disebut dengan tetelo.  Tetelo adalah salah satu penyakit yang mematikan bagi ayam, apalagi ayam pedaging sangat rentan terkena penyakit, daya tahan tubuhnya tak sekuat ayam kampung memang.

Secara bertahap pemberian pakan ayam ditambah sesuai dengan perkembangan berat badannya yang harus ditimbang secara berkala, berat badan adalah salah satu indikasi kesehatan ayam-ayam.  Sampai menjelang satu bulan masih tidak ada masalah terkait pemeliharaan ayam broiler kelompok kami.

Sampai pada saat kira-kira usia ke 25 kalau tidak salah, kelompok lain yang memelihara ayam di kandang samping kandang kami memutuskan untuk menghentikan pemeliharaan ternak ayamnya dan menjual hasil ternak mereka alias panen, kebetulan saat itu harga ayam potong sedang cukup tinggi.  Kebetulan kelompok lain itu dipimpin oleh kawan kami yang memang sudah berpengalaman dengan ternak ayam karena memiliki peternakan sendiri di rumahnya.

Kelompok kami keukeuh untuk tidak menjual dulu, karena kalau sesuai perhitungan penambahan berat badan ayam di akhir bulan alias hari ke 30 akan meningkatkan penghasilan yang didapat dari ternak yang kami pelihara.

Apa daya, ternyata cuma beberapa hari setelah kandang kelompok tetangga kosong karena telah dipanen dan mendapatkan untung yang lumayan, ternyata wabah ngorok alias CRD (Chronic Respiratory Disease) melanda.  Ngorok pada ayam adalah musibah, karena kalau sudah terkena wabah pernapasan, ayam mendadak lemah lesu tak bertenaga, tak mau makan, mogok minum, sampai akhirnya satu per satu ayam ternak kami tumbang.  

Berat badan ayam yang masih bertahan hidup pun akhirnya malah turun drastis, bukannya untung di dapat, malah rugi di depan mata, akhirnya diambil keputusan kalau ayam yang tersisa kurang lebih setengah dari jumlah awal, dipotong saja dan dijual dalam bentuk karkas alis ayam potong.  Karena pengepul ayam tak ada yang mau membeli ayam kami yang terkena penyakit.  

Biasanya ayam yang sehat dibeli dengan harga per kilogram berat badan, tapi karena kasus penyakit dan terpaksa dipotong, ayam pun dijual per ekor.  Saya lupa kerugian kelompok kami berapa, yang jelas berakhir tragis dan menyedihkan.

Pelajaran yang didapat adalah, pertama : seharusnya kami mengikuti jejak kelompok kandang di samping kami yang mempunyai intuisi bisnis yang bagus serta mampu memperkirakan kapan waktu yang tepat untuk panen.

Kemudian seharusnya pula lebih teliti melihat gejala penyakit yang menimpa ternak, walau kalau penyakit pernapasan semacam CRD dan Snot memang efeknya mengerikan, hanya dalam waktu satu malam ternak bisa habis kolaps nyaris semuanya.  Kemudian kemungkinan desinfekatn juga kurang maksimal sehingga tak bisa membentengi kandang dari penyakit yang ada.

Terakhir, memang harusnya namanya manajemen, apapun objeknya, harus diperhitungkan dengan lebih detil lagi, serta mempersiapkan rencana A sampai Z, dari kemungkinan terbaik sampai terburuk, apalagi ini terkait dengan bisnis, walaupun skalanya sangat kecil.

Jadi begitulah, semoga apa yang pernah saya alami bersama kawan satu kelompok dalam beternak ayam bisa menjadi pelajaram agar tidak terulang oleh siapapun yang berminat untuk berbisnis di bidang ternak, khususnya ayam pedaging.  Saya sendiri sih contoh pebisnis yang tidak baik, baru mendapat satu kali kegagalan itu, langsung kapok tak mau beternak lagi. Tolong ini jangan ditiru, ya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Entrepreneur Selengkapnya
Lihat Entrepreneur Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun