Mohon tunggu...
Ramadhan Aji Muhammad
Ramadhan Aji Muhammad Mohon Tunggu... Just a casual writer

Mahasiswa FISIP UB, Ilmu Pemerintahan

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Wujud Krisis Moral Masyarakat Indonesia di Media Sosial

14 April 2021   15:08 Diperbarui: 17 April 2021   21:30 158 2 0 Mohon Tunggu...

Dewasa ini perkembangan teknologi di dunia kian bertumbuh pesat, dampaknya juga tidak terkecuali terasa di Negara Indonesia. Perkembangan tersebut merupakan salah satu dari pengaruh adanya arus globalisasi. Dengan adanya globalisasi, Indonesia dapat mengembangkan pembangunan negara baik dalam bidang pemerintahan, pendidikan, hingga kepada bidang kesehatan. Namun, meskipun memiliki dampak yang positif, globalisasi juga dapat berdampak buruk, seperti halnya penurunan moralitas dan etika masyarakat yang mulai mengikuti budaya-budaya Barat yang kurang sesuai dengan adab yang diterapkan pada masyarakat Indonesia khususnya.


Budaya-budaya Barat seperti perbedaan gaya bahasa yang bisa dianggap kurang sopan apabila dipergunakan di Indonesia. Gaya bahasa tersebut biasanya ditunjukkan melalui media entertainment luar baik berupa film, poster, maupun berbentuk lagu sekalipun. Selain gaya bahasa yang kurang baik, hal lain yang perlu diperhatikan adalah model fashion yang banyak ditiru oleh masyarakat Indonesia yang terkadang dapat menimbulkan esensi yang kurang baik bagi pemakainya. Perkembangan teknologi yang dibawa oleh globalisasi sangat mempermudah masyarakat untuk mengakses internet dan segala informasi yang diinginkan di dalamnya. Melalui mesin penelusuran seperti Google, maupun Yahoo, masyarakat dapat mendapatkan berbagai informasi yang diinginkan. Hal ini dapat membantu masyarakat baik dalam bidang pekerjaannya, kebutuhan sehari-hari, maupun dalam bidang pendidikan sekalipun. Namun, teknologi yang dapat mudah diakses oleh masyarakat tersebut juga dapat dipersalahgunakan, contohnya banyak informasi ataupun tontonan yang dianggap tidak cocok untuk dipertontonkan kepada anak-anak, baik dalam segi bahasa, maupun dalam segi visual sekalipun.


Peran pemerintah disini sangatlah penting untuk memberikan batasan dalam penggunaan akses teknologi internet. Caranya bisa dilakukan dengan pemblokiran situs-situs tertentu ataupun memberikan himbauan kepada para orang tua untuk turut memperhatikan aktivitas dari anaknya agar dapat terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.  Sejatinya akses internet merupakan hal yang sangat baik, contohnya pada era new normal seperti ini internet merupakan hal yang fundamental dalam melakukan pekerjaan, maupun pendidikan. Dengan internet para siswa tidak perlu putus sekolah sementara, melainkan dapat tetap melanjutkan pendidikan mereka melalui aplikasi-aplikasi seperti Zoom, Google Classroom, dan Google Meet.


Penggunaan internet kini merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan lagi, interaksi masa kini tidaklah harus berupa kontak langsung karena dapat dilakukan melalui media-media sosial yang ada di internet seperti Facebook, Whatsapp, Line, TikTok, dan Instagram. Di dalam dunia media sosial pun masyarakat Indonesia harus dapat memegang teguh yang namanya toleransi dan menerima perbedaan yang ada. Namun, banyak dari masyarakat yang dapat dibilang sebagai “keyboard warrior” yang memiliki arti sebagai orang-orang yang hanya berani bertindak di dunia media sosial saja. Tidaklah semua dari orang-orang tersebut merupakan orang yang buruk, namun mayoritas dari mereka seringkali mengutarakan perkataan atau tulisan-tulisan berupa hujatan yang menjatuhkan dan menyebarkan kebencian di dalamnya. Fenomena ini biasa terjadi karena orang-orang tersebut tidak dapat menemukan jati diri mereka di kehidupannya nyatanya, baik mereka yang tidak pernah memiliki kesempatan untuk menunjukkan jati dirinya dan juga orang-orang yang memang dapat dibilang kurang ber-etika dan senang apabila melihat ada orang lain yang mereka anggap lebih rendah darinya. Banyak diantara mereka yang terkadang tidak pernah menerima pendidikan yang cukup untuk membentuk karakter yang baik di dalam dirinya. Baik pendidikan yang diberikan oleh kedua orang tuanya, pendidikan di dalam dunia pendidikan/ sekolah, maupun pendidikan yang dia dapatkan dari lingkungan hidupnya sekalipun.


Fenomena tersebut juga dapat dikurangi dengan diberikannya penyuluhan atau sosialisasi yang didapat diberikan oleh pemerintah, maupun para ahli sosial untuk menyadarkan masyarakat yang dapat dikatakan moral/etikanya kurang baik akan pentingnya rasa toleransi untuk ditanamkan ke dalam karakter masing-masing individu. Fenomena tersebut juga dikonfirmasi berdasarkan riset yang dilakukan Microsoft dalam riset mengenai Digital Civility Index (DCI) menyebutkan bahwa netizen Indonesia paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Hal ini sangatlah berlawanan dengan survei yang dilakukan oleh The Smiling Report yang menyebutkan bahwa orang Indonesia merupakan masyarakat yang paling murah senyum. Selain itu, berdasarkan Pew Research Center dalam Survei Gallup dan Abt Associate pada tahun 2019 menyebutkan juga bahwa orang-orang di Indonesia merupakan masyarakat yang religius. Selain itu, terdapat pula servei dari Charities Aid Foundation yang menyebutkan bahwa Indonesia memiliki ranking pertama atas negara yang paling murah hati dari sejumlah 146 negara di dunia pada tahun 2018. Sampel yang diambil terdapat kurang lebih 150 ribu orang dari 146 negara tersebut. Dari survei sendiri dapat disimpulkan bahwa terdapat lebih dari 1/3 masyarakat Indonesia yang senang memberikan sebagian hartanya untuk membantu orang lain, lebih dari ½ masyarakat Indonesia yang rela menjadi sosialis atau relawan tanpa bayaran, mengikuti program sosial, hidup dengan bergotong royong, dan lain sebagainya.


Menurut pandangan saya sendiri, hal ini merupakan hal yang sangat ironis karena kenyataan yang saya rasakan sendiri adalah masyarakat sangat ramah dan baik terhadap orang asing, baik orang dari daerah itu sendiri ataupun orang-orang dari luar daerah tersebut. Walaupun tidak bisa disebutkan secara garis besar bahwa semua masyarakat di Indonesia merupakan orang yang kurang bermoral, ini menunjukkan adanya kontradiksi atas sikap yang diberikan masyarakat di kehidupan nyata dengan kehidupan mereka di media sosial. Selain itu, banyak dari masyarakat penikmat media sosial yang terdiri atas golongan muda dibandingkan dengan golongan tua, dari situ sendiri kita dapat memahami bahwa krisis moralitas Indonesia terdapat pada golongan tua yang mungkin belum memiliki pengetahuan ataupun wawasan yang baik akan adanya toleransi terhadap perbedaan di dalam kehidupan bermasyarakat.


Berita-berita yang diberikan di media sosial atau internet sangatlah bervariasi, tidak hanya masyarakat yang menjadi tokoh utama dalam sebuah isu di media sosial, melainkan media massa juga memiliki peran yang cukup signifikan. Keberadaan media massa sebagai sebuah organisasi yang memberikan wawasan atau informasi mengenai suatu hal merupakan jembatan informasi dari pihak berkaitan kepada lapisan masyarakat. Namun, pada kenyataannya banyak dari media massa yang seringkali melebih-lebihkan akan suatu berita. Hal ini mungkin tidak menjadi sebuah masalah bagi kalangan masyarakat yang sudah terdidik dan memahami akan penulisan suatu artikel dan sebagainya tetapi akan sangat berdampak besar pada kalangan masyarakat yang dapat dibilang kurang dalam pendidikan, serta pengetahuan literasinya. Maka dari itu pentingnya seseorang untuk teliti akan bahasan dari suatu judul pemberitaan yang dibaca keseluruhannya juga, serta memperhatikan dengan baik sumber bacaan primer dari pemberitaan tersebut.  


Apabila kita kembali kepada pengaruh adanya globalisasi terhadap perkembangan teknologi dan internet di Indonesia, adab dan sopan santun yang dimiliki oleh masyarakat Barat dengan masyarakat sangatlah berbeda. Pada masyarakat Barat, apabila ada seseorang yang ingin bepergian, maka lancang apabila ditanyakan kemana mereka akan pergi. Berbeda dengan di Indonesia yang sangat menjunjung tinggi rasa hormat yang dimana apabila ada orang bertany, maka mereka akan menjawab dengan baik sebagai bentuk menghargai pertanyaan dari orang tersebut, terkhusus lagi apabila orang tua kita sendiri yang memberikan pertanyaan tersebut.


Untuk mengatasi keresahan publik akan rendahnya moral masyarakat Indonesia di media sosial akankah lebih baik apabila terdapat penyuluhan sosial dari para ahli mengenai pentingnya etika dan adab pada perilaku penggunaan media sosial yang tidak hanya diterapkan di kehidupan nyata saja, melainkan diterapkan pada kehidupan media sosial juga. Selain itu, peran pemerintah dalam ikut membangun masyarakat yang kondusif dan beradab juga bersifat signifikan. Menanggapi mengenai pernyataan Microsoft sendiri, banyak dari kalangan masyarakat yang bukannya mengevaluasi perbuatan mereka, namun justru melontarkan kalimat-kalimat yang berisikan kebencian, bahkan sampai membawa-bawa sila ke-3 Pancasilam yaitu Persatuan Indonesia yang dimaksudkan agar masyarakat Indonesia berbondong-bondong menyerang akun media sosial Microsoft.

Untuk menanganinya saya rasa pemerintah di langsung menyalahkan kejadian tersebut sepenuhnya kepada masyarakat, melainkan mengevaluasi dengan baik sesuai dengan kebijakan dan aturan, serta menjunjung tinggi keadilan dalam masyarakat. 
Berdasarkan pernyataan-pernyataan diatas mulai bermunculan hipotesa yang kurang baik mengenai kontradiksi perilaku masyarakat Indonesia. Berdasarkan pengamatan saya melalui berbagai media sosial seperti Instagram ataupun Tiktok, banyak dari masyarakat luar khususnya yang menganggap bahwa selama ini masyarakat Indonesia memberikan kesan yang baik, akan tetapi tidak sesuai dengan kata hatinya dan menjelek-jelekkan orang lain di belakangnya. Menurut saya, kejadian tersebut dapat terjadi karena adanya suatu keadaan dari para pelaku yang mengalami ketidakadilan dalam kehidupan nyatanya, sehingga berusaha melampiaskannya melalui media yang lain.


Survei yang disebarkan Microsoft melalui media sosial, seperti Instagram tersebut tidak semata dilakukan dengan semena-mena, melainkan terdapat beberapa alasan yang krusial, antara lain peningkatan angka penyebaran hoax dan penipuan online yang menyentuh angka 13 poin, banyaknya lontaran kalimat kebencian yang diberikan oleh masyarakat Indonesia di media sosial yang berjumlah 5 poin dan masih adanya perilaku diskriminasi yang masih bersifat positif karena jumlahnya berkurang 2 poin dibandingkan dengan tahun sebelumnya.  
Pada akhirnya, kejadian yang dapat dibilang cukup memalukan dan banyak merubah perspektif dunia akan masyarakat Indonesia yang ramah ini dapat dikatakan sebagai kesalahan yang fatal dan merupakan problematika nasional yang harus segera ditangani. Meskipun banyak masyarakat yang berbondong-bondong menyerang akun Instagram Microsoft, tidak sedikit dari mereka yang berusaha menenangkan amarah masyarakat Indonesia untuk tetap tenang dan memahami konteks dari pemberitaan yang diberikan oleh Microsoft tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN