Mohon tunggu...
Ns.Rahayu Setiawati Damanik, S.Kep, M.S.M
Ns.Rahayu Setiawati Damanik, S.Kep, M.S.M Mohon Tunggu...

1. Do your best and God will do the rest (Lakukan yang terbaik apa yang menjadi bagianmu dan biarkan Tuhan menentukan hasilnya) 2. Penulis lahir di Kabanjahe Sumatera Utara pada tanggal 15 Juni 1983. Menyelesaikan Pendidikan Sarjana Keperawatan di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dan Pasca Sarjana Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Penulis buku “Sakitnya Membuka Usaha Penitipan Anak” dan “Lepas dari Krisis Asisten Rumah Tangga”. Sejak Tahun 2013 hingga kini mengelola usaha day care (penitipan anak) “Happy Day Care”. Sering menulis artikel mengenai keluarga, pernikahan, perempuan, dan anak-anak. 3. Kini mengelola usaha Daycare dan Homeschooling DeanMores di Jatibening Bekasi 4. Percaya bahwa keluarga adalah kekuatan suatu bangsa. Keluarga yang teguh akan membangun bangsa yang kokoh. 5. Best in Specific Interest Kompasianival 2016 6. Tulisan lainnya bisa dibuka di www.rahayudamanik.com, www.rahayudamanik-inlove.com, dan www.rahayudamanik-children.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengatasi Perasaan Gagal Sebagai Orang Tua

30 Maret 2017   12:13 Diperbarui: 30 Maret 2017   12:22 2041 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengatasi Perasaan Gagal Sebagai Orang Tua
Anak tidak penurut terkadang membuat orang tua merasa gagal sebagai orang tua (foto: Times of India)

Pernahkah Bapak Ibu merasa malu atas perilaku anak yang terlihat nakal, tidak bisa diam, tidak penurut, bahkan usil ke teman-temannya? Saya ingat sekali kalau bapak saya pernah berkata kepada saya yang saat itu masih kecil. Bapak berkata beliau dipercaya untuk menasihati anak-anak temannya sehingga bapak berpesan jangan sampai kami anak-anaknya malah menjadi anak yang berperilaku memalukan orang tua. Mungkin bapak tidak siap kalau sampai ada yang mengolok-oloknya; dia sering menasihati anak orang namun tidak becus mengurus anak sendiri.

Namun kenyataannya menurut saya pribadi, saya adalah anak yang nakal ketika masih kecil dulu. Bagaimana tidak? Saya pernah menjajankan uang sekolah bahkan sering mencuri. Orang tua saya tidak tahu kalau anaknya lihai mencuri! Kini, setelah menjadi orang tua saya pun memahami kekhawatiran bapak saya. Terkadang ada perasaan malu dan merasa gagal sebagai orang tua ketika ternyata anak kita tidak mudah mengikuti apa yang kita sampaikan dan harapkan. Ada sebuah beban bila melihat anak sulit diatur. Perasaan demikian tentulah tidak baik sebab bisa membuat orang tua minder dan berputus asa sehingga tidak efektif mendidik anak. Lalu benarkah orang tua yang memiliki anak kecil sulit diatur benar sebagai orang tua yang gagal?

Bila saja hanya melihat kepada kondisi ketika saya masih kecil dulu tentu saja boleh dikatakan orang tua belum berhasil mendidik saya namun ternyata semua bisa berubah. Saya bertumbuh dewasa dan meninggalkan semua perilaku yang memalukan tersebut. Mungkin kita berpikir kalau anak kecil sudah bermasalah maka selamanya dia akan demikian; tidak bisa berubah menjadi anak yang membanggakan. Ujung-ujungnya ayah ibu bisa kehilangan kemampuan dan kepercayaan diri sebagai orang tua bila perasaan sebagai orang tua yang gagal terus dipelihara di dalam hati.

Itulah sebabnya orang tua harus membuang jauh-jauh perasaan gagal demikian dan menggantinya dengan kepercayaan diri sebagai orang tua sekalipun anak terlihat sangat mustahil untuk berubah. Hari ini belum berhasil namun besok atau di waktu yang akan datang akan berubah. Tidak ada yang tidak dapat diubah asalkan orang tua terus mencoba memberikan didikan dan berusaha menjadi teman baik bagi anak. Alih-alih tenggelam dalam perasaan gagal sebagai papa mama, lebih bermanfaat bila kita terus meningkatkan kemampuan dalam mendidik anak misalkan dengan mempelajari cara berkomunikasi yang membuat anak semakin nyaman terbuka dengan orang tua.

Kita sebagai orang tua juga perlu melihat anak secara utuh. Bukan hanya melihat kekurangan dan kenakalannya saja namun kelebihan-kelebihan yang dia miliki. Perubahan cara pandang membuat orang tua semakin peka menemukan nilai yang membanggakan dan semakin optimis memberikan didikan. Bukankah menghargai kebiasaan positif dan mengembangkan potensi anak juga tidak kalah penting dengan memperbaiki perilakunya yang kurang baik? Bukankah kebiasaan yang baik itu menegaskan kalau sebenarnya kita bukanlah orang tua yang gagal namun hanya belum selesai mendidik anak-anak?

Terlepas dari kenakalan anak-anak saat ini, sebenarnya kita bukanlah orang tua yang gagal selama kita selalu memprioritaskan kepentingan dan kebahagiaan anak-anak di atas kepentingan diri sendiri. Mungkin anak kita tidaklah anak penurut namun hal itu bisa berarti sang anak memiliki cara berpikir kreatif yang bisa mengantarkannya kepada kesuksesan. Bagaimana pun keadaan anak kita sekarang ini, kita teruslah memberikan teladan dan didikan yang berharga dengan tidak jemu-jemu agar anak-anak senantiasa bertumbuh seperti  pohon yang ditanam di tepi aliran air yang menghasilkan buahnya pada musimnya. Daunnya tidak akan layu dan apa saja yang diperbuatnya bisa berhasil. Saya bersyukur untuk orang tua yang tidak berhenti mengasihi saya dan menerima saya apa adanya termasuk dengan segala kekurangan saya. Hal ini sungguh menjadi motivasi bagi saya untuk menjadi anak yang membanggakan. So, don’t give up on our children and they will appreciate it (Jangan pernah menyerah atas anak-anak kita. Kelak, mereka akan sungguh menghargainya)

Salam,

Rahayu Damanik

VIDEO PILIHAN