Mohon tunggu...
Rachmat PY
Rachmat PY Mohon Tunggu... Penulis - Traveler l Madyanger l Fiksianer - #TravelerMadyanger

BEST IN FICTION 2014 Kompasiana Akun Lain: https://kompasiana.com/rahab [FIKSI] https://kompasiana.com/bozzmadyang [KULINER] -l Email: rpudiyanto2@gmail.com l IG @rachmatpy @rahabganendra

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Celestial Movies Presents: Little Big Master "Haru Biru Pengabdian"

25 Oktober 2015   23:20 Diperbarui: 26 Oktober 2015   00:54 365
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Lalu bagaimana lanjutan kisahnya? Bagaimana dua benturan pengabdian mulia Hung itu terselesaikan? Bagaimana kisah TK Yuen Tin, apakah harus tutup?

*

'Kacamata hati' Hung sebagai kepala sekolah TK selama puluhan tahun membuatnya terbangun hatinya, mencintai bidang pendidikan. Profesi pengajar yang obyektif sebagai pendidik diantara beragam kendala dan kesulitan. Dimulai saat Hung berbincang dengan Martin, salah seorang muridnya di TK terkenal di kota. Kemurungan murid yang takut apabila mengecewakan kedua orangtuanya bila dirinya tak mampu berprestasi seperti didengungkan orangtuanya pada dirinya. Sebuah sikap yang mengkhawatirkan menurut Hung. Maka direkomendasikanlah Martin untuk kembali bersekolah di sekolah umum, bukan sekolah berbakat. Sebuah saran yang mengecewakan orang tua Martin. Tentu saja tak setuju. Hung pun memilih untuk mundur.

Jalan membukanya untuk mengabdi di sekolah Yuen Tin yang membawanya pada beragam persoalan. Murid yang hanya 5 orang, Ho Siu Suet, Tam Mei Chu, Lo Ka Ka, Kitty Fathima dan Jennie Fathima, terancam ditutup karena murid satunya akan lulus. Bukan itu saja, murid-muridnya berasal dari kaum yang kekurangan secara ekonomi dan persoalan membayangi masing-masing muridnya. Chu Chu yang menjadi yatim piatu dan dirawat bibinya, Bibi Han, seorang pencuci piring restoran yang sibuk bekerja demi sesuap nasi.  Siu Suet seorang piatu tinggal dengan ayahnya, pengumpul besi tua. Kondisi sang ayah sudah tua dan sakit-sakitan.  Siu menjadi penanggungjawab mengurus pekerjaan rumah. Mengharukan adegan saat dirinya memasak untuk ayahnya. Badannya yang mungil sementara kompor yang tinggi mengharuskan dirinya menggunakan kaleng di kakinya.  Ka Ka, yang memiliki orangtua selalu bertengkar, membuatnya takut untuk meninggalkan bersekolah. Ayahnya suka uring-uringan setelah kehilangan sebelah kakinya.

“Aku tak mau melihat ayah dan ibu saling bunuh, saat kutinggal sekolah,” isaknya.

Semetara kakak adik, Fatimah dan Jennie memiliki orang tua yang masa bodoh dengan pendidikan anak perempuan. Beruntung ibunya masih bersemangat mengantarkan bersekolah, meski belakangan tak sanggup membayar ongkos bus sekolah.

Praktis persoalan kelima muridnya itu mengguah rasa pengabdian Hung sebagai pendidik. “Mereka harus tetap sekolah,” kata Hung.

Maka upaya keras dimulai. Mengurus sekolah, kebersihan, mencari dana investor hingga antar jemput muridnya. Pengabdian seperti apa yang ditunjukkannya itu? Kepedulian akan masa depan anak didiknya, membuat Hung bukan saja hanay berperan sebagai guru. Hingga kedekatan emosinal terbangun. Bukan hanya pada murid-muridnya namun juga pada keluarga mereka. Hung makin dekat dan berkeyakinan tak menyerah.

“Guru yang baik, tidak akan pernah menyerah,” kalimat Hung di penghujung film.

Bentuk pengabdian Hung pada sekolah, terlihat nyata saat satu persatu mengungkap persoalan murid-muridnya. Ketidakharmonisan orang tua, ketidakpedulian, dan bagaimana Hung membantu membangkitkan harapan mulia pada anak didiknya.

“Apa impian kalian? Apa impian orangtua kalian?” Tanya Hung pada kelima muridnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun