Radivadilla
Radivadilla Pejuang Sarjana Sastra

Mahasiswa Sastra Jepang yang tidak bisa bahasa Jepang. Senang menulis apapun kecuali skripsi. Kritik dan saran, silakan layangkan e-mail ke : radivadilla@gmail.con

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

"The Witness" (2018) , Nilai Kemanusiaan di Balik Pembunuhan Sadis

24 Januari 2019   02:17 Diperbarui: 24 Januari 2019   02:37 202 1 2
"The Witness" (2018) , Nilai Kemanusiaan di Balik Pembunuhan Sadis
hancinema.net

Ada banyak kasus pembunuhan sadis di dunia ini kemudian diangkat menjadi sebuh film dengan tujuan tertentu. Biasanya film yang diangkat dari kisah nyata pembunuhan sadis ingin mengungkapkan alasan di balik pembunuh tersebut melakukan pembunuhan terhadap orang tidak bersalah. 

Sebagian besar dikarenakan dendam, patah hati, sakit mental, kasus pembulian maupun trauma yang ditinggalkan oleh keluarga sejak kecil.

Sebut saja aktor tampan Ross Lynch yang harus memerankan tokoh psikopat homoseksual, Jeffrey Dahmer dalam film 'My Friend Dahmer (2017)' yang diangkat dari kisah nyata. 

Dalam film tersebut Lynch harus mengubah total penampilannya menjadi Dahmer, seorang pemuda kaku dan introvert yang sering di-bully oleh teman-teman sekolahnya. 

Di rumah, Dahmer juga mesti menghadapi ayah dan ibunya yang selalu bertengkar. Faktor-faktor tersebut membangun karakter pemberontak dari dalam diri seorang Jeffrey Dahmer, hingga akhirnya ia menjadi pembunuh yang namanya tercatat sebagai salah satu psikopat tersadis di dunia.

Keteneran kasus Jeffrey Dahmer sudah banyak disinggung oleh media masa, sehingga rilislah film yang mengangkat kisahnya di tahun 2017. 

Film tersebut didasari oleh sebuah buku berjudul serupa yang ditulis oleh salah satu korban selamat yang juga merupakan teman sekolah Dahmer, Derf Backderf. 

Film ini jelas ingin menunjukkan sisi lain di balik alasan pembunuhan sadis Dahmer kepada penonton. Baik sebagai refeleksi pembelajaran, maupun sekadar untuk hiburan.

Berbeda dari kebanyakan film kasus pembunuhan yang diangkat dari kisah nyata pada umumnya, The Witness (2018) menghadirkan sudut pandang baru mengenai pesan moral yang ingin disampaikan penulis naskah Lee Young Jong dan sutradara Jo Kyung Jang kepada para penonton. 

Film yang meraih 1,6 juta penonton dalam 6 hari  ini lebih memfokuskan pada tokoh Song Hoon (Lee Seung Min) yang tanpa sengaja menjadi saksi mata dalam kasus pembunuhan seorang wanita di depan apartemen barunya. 

Song Hoon ingin menghubungi pusat bantuan polisi 119 untuk melaporkan kejadian tersebut, namun karena si pembunuh (Kwak Si Yang) melihat wajah dan lokasi kamar apartemennya, Sang Hoon membatalkan niat untuk melaporkan kesaksiannya kepada polisi.

Ide kisah pembunuhan di depan apartemen ini diangkat dari sebuah kejadian nyata yang terjadi di New York pada tahun 1964 silam. Kitty Genoves ditemukan tewas mengenaskan di depan apartemennya yang seketika menggemparkan seluruh kota. 

New York Times kemudian merilis pernyataan bahwa ada kemungkinan sekitar 30 penghuni apartemen yang mengetahui kejadian pembunuhan tersebut, namun tidak ada seorang pun yang berani melaporkannya pada polisi. 

Ketakutan akan dijadikan korban berikut oleh si pembunuh menjadi alasan kenapa orang-orang tersebut enggan melakukan tindakan.

Masalah yang mungkin terdengar sepele dan egois ini sempat mengundang banyak pro dan kontra. Banyak yang memperdebatkan keapatisan sikap mereka yang tidak melakukan apapun untuk membantu memberi kesaksian, namun tidak sedikit pula yang merasakan ketakutan untuk membuka suara. 

Bagaimana seharusnya saksi mata melindungi diri dan keluarganya dengan tidak memberi kesaksian apapun, atau mereka harus tetap mengedepankan jiwa sosial untuk menolong sesama manusia dengan melaporkan kejadian yang telah disaksikan. 

Film The Witness (2018) akan mengajak Anda untuk merasakan betapa terdesaknya bila berada dalam posisi Sang Hoon. Apakah tindakan yang Anda lakukan ketika menjadi seorang saksi mata kasus pembunuhan? Apakah Anda akan melindungi diri sendiri atau membantu orang lain?

"Kematiannya adalah bukti dari sikap apatis," kata sutradara Jo Kyu Jang. "Setelah mendalami kasus tersebut, saya pikir bahwa kasus tersebut memiliki nilai yang cukup untuk sinematisasi."

Lee Sung-min yang menjadi tokoh utama dalam film ini juga mengatakan dia terpikat oleh skenario film yang sangat terjalin dan imersif.

"Saya juga merasa bahwa film thriller yang terjadi di lingkungan hidup kita sehari-hari akan menjadi sangat menarik. Saya pikir akan sangat menyenangkan jika saya bisa menjadi bagian dari film tersebut," katanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2