Mohon tunggu...
Radityo
Radityo Mohon Tunggu... Cuma manusia biasa, banyak salahnya. Gimana donk?

Lewat 7 tahun lebih tinggal di Singapura. Banyak pelajaran, masih banyak juga yang harus dipelajari dari negeri yang disebut titik merah di peta oleh Habibie.

Selanjutnya

Tutup

Digital Artikel Utama

Saatnya Indonesia Berlakukan Kode Pos Digital

30 April 2020   11:59 Diperbarui: 2 Mei 2020   02:50 359 12 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Saatnya Indonesia Berlakukan Kode Pos Digital
Contoh kode pos digital | Dokumentasi pribadi yang diolah dari designbundles.net

Beberapa bulan lalu, aku coba tulis ke lapor.go.id untuk memberikan saran tentang modernisasi Kode Pos Indonesia ke Kantor Pos meski bisa jadi ini bukan ranah mereka. Tetapi setidaknya pemerintah bisa meneruskan ke pihak terkait. Ada UPDATE dari Pos Indonesia ada di halaman terakhir.

Aku sendiri punya latar belakang di bidang Teknologi Informasi, dan saat ini tinggal di Singapura.

Latar Belakang

Latar belakang singkatnya, tentu Singapura. Negara ini sedemikian modern hingga dijuluki negara digital. Hampir semua orang menggunakan layanan digital, identitas digital, dan banyak hal lagi yang bisa dikaitkan dengan digital. 

Sejak aku tinggal di Singapura, layanan pemerintahan tidak banyak makan waktu dan sangat efisien, sama halnya dengan layanan pos. 

Berkaitan dengan kode pos, setiap gedung atau rumah di Singapura memiliki kode pos unik. Ini termasuk gedung kantor, gedung apartemen, atau rumah hunian. Bahkan kalian bisa lihat sendiri di Google Maps lalu cari "Serangoon Gardens Singapore" dan klik di setiap kotak yang mewakili sebuah rumah.

Setiap kotak yang tertera pada gambar mewakili sebuah rumah yang ditunjukan dengan kode pos|Dokumentasi pribadi
Setiap kotak yang tertera pada gambar mewakili sebuah rumah yang ditunjukan dengan kode pos|Dokumentasi pribadi

Keuntungan

  • Alamat menjadi lebih singkat.
    Ketika mengirimkan pos atau mencari alamat, bahkan kalian nggak perlu alamat lengkap. Di Singapura cukup kode pos sudah cukup jika kalian tinggal di rumah biasa. Jika di apartemen, hanya perlu kode pos, nomor lantai dan nomor unit. Dan berbekal kode pos, kalian bisa cari alamat dengan mudah hanya pakai Google Maps.
  • Tentunya, logistik jadi lebih mudah!
    Bayangkan, ketika kalian punya rumah yang beralamat di Jl. Provinsi Palembang-Lampung KM. 59. Alamat model seperti ini seringkali dipakai untuk petak tanah yang tidak ada nomor rumahnya. Mungkin mudah jika dalam satu kilometer ada 1 rumah saja yang dimaksud. Tetapi hal ini sulit dipraktikkan pada saat lokasi tersebut ada ratusan atau ribuan rumah dan beberapa pabrik. Tukang pos pusing, orang yang baru tahu daerah situ juga pusing, sopir mobil sewaan pusing, pengantar makanan online pun juga pusing.
    Jika semua itu bisa dihindari hanya dengan masukkan kode pos saja di aplikasi peta yang terdapat di handphone dan posisi rumah langsung diketahui, tentu semuanya akan lebih mudah. Waktu pengiriman logistik (baik kantor pos, atau hingga pengantar makanan online) jadi dipersingkat sekian kali lipat. Jika awalnya tukang pos butuh waktu 1 jam untuk mencari-cari alamat, bisa dipersingkat hingga 15 menit tanpa beban. Semua orang yang menggunakan jasa pos juga senang karena paketnya pasti sampai dan cepat.

Aku punya pengalaman sendiri, ketika mengirimkan pos ke negara lain yang menggunakan kode pos yang sudah dimodernisasi seperti Jepang dan Belgia, atau ke Inggris. 

Paket yang dikirim dari Singapura ke negara-negara tersebut umumnya sampai dalam jangka waktu 1 minggu. Tidak jarang bisa sampai dalam waktu 4 atau 5 hari. 

Hal ini juga berlaku kebalikannya, dari negara-negara tersebut ke Singapura. Negara paling cepat adalah Jepang. Tapi ketika mengirimkan ke Indonesia, 1 bulan kelihatannya waktu yang paling cepat padahal di kota besar di Jawa. Apalagi ketika mengirimkan paket ke pelosok Sumatera, bisa 2 bulan atau bahkan hilang entah kemana.

Singapura kan kecil, ngurusnya gampang. Indonesia besar, ngurusnya susah!

Celetukan di atas sering aku dengar, baik di kolom komentar di internet, maupun dari orangnya langsung yang aku ajak berbincang. Kita punya mentalitas MALAS kalau boleh aku pertebal. 

Kita tidak pernah berusaha berpikir di luar kotak (think out of the box), selalu di dalam tempurung kita sendiri. Merasa negara lain bisa mengatur karena ukurannya yang kecil, merasa mereka bisa karena kecil, sedangkan besar itu sulit. Come on!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN