Mohon tunggu...
Himawan Pradipta
Himawan Pradipta Mohon Tunggu... Copywriter

Teknisi bahasa di perusahaan konsultasi teknologi di Jakarta Barat. Suka membaca, nonton film, dan berenang.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Aksen British

24 November 2015   12:30 Diperbarui: 24 November 2015   13:58 675 1 1 Mohon Tunggu...

[caption caption="British Accent (2.bp.blogspot)"][/caption]

Baru-baru ini, saya diundang di sebuah acara lomba pidato bahasa Inggris se-SMA Jawa Barat, dan tugas saya adalah menjadi juri dalam hal speech development, effectiveness, dan speech value. Sebelum datang ke tempat lomba, saya sudah meyakinkan diri bahwa kebanyakan pesertanya akan bicara dalam aksen yang "begitu-begitu saja." Aksen amerika yang mainstream, seperti yang didengar di film-film Hollywood.

Tak disangka-disangka, dari 50 peserta, 5 orang membawakan pidatonya dengan aksen British yang betul-betul enak didengar. Dan kelima-limanya tampak sangat (atau terlalu?) percaya diri, tidak seperti kebanyakan peserta.

Mereka mampu membawakan pidato dengan berbagai fitur dan piranti yang mesti dikuasai untuk mampu bicara dalam aksen British. Saya pun tak sengaja terlempar ke masa-masa SMA dulu, tepatnya ketika saya sedang tergila-gila dengan serial Harry Potter. Setiap kali habis pulang menonton, saya langsung menenggelamkan diri di depan layar komputer dan berselancar ria tentang ke-aksen-british-an sampai lidah saya luwes bicara dalam aksen British.

Waktu itu begitu bangga rasanya bisa menjadi orang pertama di sekolah yang bisa bicara bahasa Inggris dengan aksen British. Aneh? Mungkin. Yah namanya juga anak baru gede. Semuanya harus serba mau duluan. Seolah ada semacam superioritas dalam menguasai british accent. Dan aksen-aksen lainnya tidak ada apa-apanya dibandingkan aksen British.

Duduk di bangku kuliah, saya pun sadar bahwa aksen British punya banyak jenis aksen lagi, dan aksen-aksen itu sebetulnya tidak ada bedanya dengan aksen di daerah lain di dunia. Pandangan naif saya dulu tentang aksen British akhirnya kalap ditelan jaman. Aksen seperti cockney, bristol, scottish, welsh, dan geordie hanyalah beberapa di antaranya, begitu juga di Amerika, Spanyol, dan daerah-daerah lainnya.

Sudut pandang ini pun kemudian saya perlebar ke potongan bumi lain: Singapura. Dengan mayoritas penduduk yang berkebangsaan Cina, Singaporeans menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi dalam hal berdagang atau bisnis, yang bisa dibilang sudah jadi rutinitas, berbeda dengan di Indonesia, yang menggunakan bahasa Inggris hanya di sekolah di bawah kekangan konteks buku-buku modul atau mungkin dalam percakapan sehari-hari agar terdengar lebih kece.

Namun begitu, Singapura justru punya aksennya (atau bahasa?) sendiri, yaitu singlish, yang di dalamnya bercampur tiga bahasa sekaligus: Cina, Inggris, dan Melayu. Pertanyaan pun membenak, apakah singlish kemudian statusnya menjadi lebih rendah dibandingkan, misalnya, aksen British atau Bahasa Inggris secara umum? Bukankah justru Singlish menjadi trademark bagi Singapura, dan tidak akan dikenal luas seperti sekarang jika penduduknya tidak melanggengkan bahasa yang mereka buat sendiri, kalau memang mau dibilang "dibuat"?

Lantas, mengapa Indonesia tidak begitu?

Mungkin pertanyaan itu yang membuat saya tercengang ketika yang keluar sebagai pemenang dalam lomba pidato yang saya rujuk sebelumnya justru menyampaikan pidatonya dengan aksen yang kedengarannya seperti campuran aksen Jawa dan Amerika, which is surprisingly sexier!

Lalu, saya bertanya dalam hati: ngapain ya dulu saya susah-susah mau bisa bicara bahasa Inggris dengan aksen British, sementara kalo pake "aksen lokal" justru yang mendengar mungkin lebih tertarik, atau justru terhibur?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x