Pulung Arbiarto
Pulung Arbiarto Kontraktor

Suami - Bapak - Pendaki Gunung - Suka Lari - Penggiat Trail Running - Kontraktor Interior - Race Director GP100

Selanjutnya

Tutup

Atletik

Ultra Trail di Gunung Gede Pangrango

2 November 2018   08:34 Diperbarui: 7 November 2018   10:05 1446 0 1
Ultra Trail di Gunung Gede Pangrango
utmbmontblanc

Acara Gede Pangrango 100 Ultra ini dilatar belakangi oleh keterbatasan race saat itu yaitu tahun 2014 yang digunakan untuk kualifikasi pelari-pelari Indonesia yang akan berlaga di event dunia di UTMB utmbmontblanc dan bermanfaat bagi para pelari trail tanah air untuk mewujudkan mimpi berkompetisi di Event Akbar Trail Running tersebut.

Dengan kolaborasi FoneSport dan Pihak Taman Nasional Gede Pangrango kami mewujudkan event Ultra Trail Running berkelas Dunia yang kami namakan GEDE PANGRANGO 100 ULTRA atau biasa dikenal dengan GP 100 ULTRA. ULTRA itu sendiri adalah bahasa yang digunakan dalam dunia lari baik road atau trail dengan jarak diatas 42KM.

Gede Pangrango 100 Ultra akan diadakan pada tanggal 30 November 2018 sampai dengan 2 Desember 2018 dengan melombakan kategori 25KM, 50KM, 100KM, dan 150KM dengan start di Kantor Balai Besar Taman Nasional Gede Pangrango Cibodas, Jawa Barat.

Gede Pangrango 100 Ultra merupakan kegiatan acara lari trail tahunan yang memiliki tujuan untuk menciptakan pelari-pelari trail tingkat dunia. Keunggulan Gunung Gede Pangrango (Taman Nasional Gunung Gede Pangrangro) dibandingkan gunung lain di Indonesia untuk kegiatan ini dapat kami sampaikan sebagai berikut:

  • Berdasarkan karakteristik rute yang didasarkan pada Endurance Points, Mountain Level, dan Finisher Criteria maka gunung Gede Pangrango merupakan satu-satunya gunung di Indonesia yang masuk dalam lima besar gunung di Asia yang menyelenggarakan kegiatan lari gunung (selengkapnya dapat dilihat pada itra run).
  1. Aturan mengenai kuota pendakian di TNGGP sejalan dengan panitia GP 100, dimana jumlah peserta dibatasi berdasarkan kriteria yang ketat untuk memastikan standar keselamatan dan kualifikasi pelari yang memenuhi syarat secara internasional.
  • Standar operasional prosedur (SOP) Pemeriksaan Kesehatan di TNGGP sejalan dengan SOP panitia GP 100, dan di TNGGP telah menyediakan Unit Layanan Kesehatan (ULK) yang akan memastikan setiap peserta lari akan di cek kondisi kesehatannya pada hari H (saat akan melakukan kegiatan lari, ini sejalan dengan SOP Pemeriksaan Kesehatan kegiatan pendakian di TNGGP). Terlampir kami sampaikan SOP Pemeriksaan Kesehatan di TNGGP dan SOP panitia GP 100. gedepangrango100
  • Jalur yang digunakan pelari melalui jalur pendakian resmi pintu Cibodas ke Lembah Mandalawangi Gunung Pangrango, Alun-Alun Surya Kencana Gunung Gede dan kembali ke Cibodas memiliki jarak tempuh 25 KM, sehingga sangat ideal untuk kategori lomba lari gunung 25KM, 50KM, 100KM dan 150 KM. Dapat kami sampaikan juga untuk rute tersebut untuk kategori lomba 25 s.d. 150 KM masuk salah kategori tersulit dan kategori finisher rata-rata tersulit di dunia, hal ini berdasarkan website ITRA  (International Trail Running Association) itra run.
  1. Kesepahaman antara TNGGP dan panitia GP 100 dalam pengelolaan sampah pada jalur pendakian (lari) dimana sesuai petunjuk pendakian di TNGGP bahwa setiap peserta akan di cek barang bawaan yang berpotensi menjadi sampah pada saat dan setelah pendakian dan panitia GP 100 juga melarang peserta untuk membawa minuman dengan botol plastik sekali pakai.
  • Keselamatan pendaki/pelari menjadi prioritas utama, hal ini ditandai dengan pemeriksaan medis setiap peserta dan panitia di Klinik Edelweis dikawasan Kantor Taman Nasional Gede Pangrango dan penggunaan Simaksi atau ijin pendakian.

Dari tahun 2014 sampai dengan 2018 lulusan terbaik dari Gede Pangrango 100 Ultra sudah melanglang buana di Dunia Trail berkelas internasional. Sebut saja:

Rhenaldy Firdaus dari Tim Bandung Explorer adalah juara kategori 25KM diperhelatan pertama Gede Pangrango 100 Ultra tahun 2014 dan setiap tahun beliau hadir untuk GP 100 Ultra, telah menjadi finisher UTMB 2018 untuk kategori 120KM atau biasa disebut TDS 2018 dengan menjadi Juara 3 dikategori usia muda. Dan ini adalah catatan terbaik karena menjadi orang pertama Asia Tenggara bahkan Asia dalam perhelatan Ultra Trail tersebut.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Arief Wismoyono dari tim Bandung Explorer adalah Juara Asian Trail Master tahun 2015 adalah penamat terbaik Indonesia di UTMB 2017 dengan waktu 36 jam. Beliau menjadi pemegang catatan waktu tercepat untuk GP 100 Ultra kategori 25KM di even Gede Pangrango 100 Ultra sampai saat ini dibawah 5 jam.

Dzaki Wardana dari Tim Trail Runner Jogja, Aziz Darmawan dari Tim Bandung Explorer, dan Alan Maulana dari Tim Bandung Explorer adalah finisher PTL 320KM juga sebagai penamat-penamat terbaik di Gede Pangrango 100 Ultra.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Fandy Achmad dari Tim Depok Running Buddy orang kedua Indonesia yang berhasil mecatatatkan sejarah finish di UTMB 170KM tahun 2015 dan PTL 320KM tahun 2017 di Perancis dan satu-satunya orang Indonesia yang pernah menyabet podium ketiga di Elbrus Race 2018.

Hendra Wijaya selain founder beliau menjadi finisher Gede Pangrango 100 Ultra tahun 2016 dan 2017. Untuk beliau kami sudah tidak bisa menyebutkan prestasi-prestasi gemilangnya karena dari even-even yang beliau ikuti hampir menjadi orang pertama Indonesia. Sebut saja orang pertama yang finish di UTMB 170KM Perancis 2013, Tor Des Geant 332KM Italia, 6633Arctic Ultra 950KM Nothpole Canada, Transpyrenea 700KM Italia, dan banyak lagi race-race ultra yang telah diikuti.

Dengan keunggulan tersebut kami dan Taman Nasional Gede Pangrango patut berbangga karena event Gede Pangrango 100 Ultra menjadi "KAWAH CANDRADIMUKA" bagi pelari-pelari trail Indonesia untuk menyelesaikan even-even terbaik dunia.

Untuk ketua panitia atau biasa disebut Race Director dijabat kali ke-4 oleh Mohamad Pulung Arbiarto. Harapan kami even tahun ini berjalan dengan baik dan lancar dan memberikan atlit-atlit terbaik Indonesia untuk seleksi mengikuti even Tor Des Geant 332KM di Italia sebagai rangkaian terakhir GrandSlam Ultra Indonesia setelah Rinjani 100, Mesastila Peak Challenge 100, dan Bromo Tengger Semeru 100.