Mohon tunggu...
puji handoko
puji handoko Mohon Tunggu... laki-laki tulen
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Hidup untuk menulis, meski kadang-kadang berlaku sebaliknya.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Pabrik Katalis Segera Dibangun, Temuan Penting Anak Bangsa Terlindungi

29 Juli 2020   19:14 Diperbarui: 29 Juli 2020   19:04 18 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pabrik Katalis Segera Dibangun, Temuan Penting Anak Bangsa Terlindungi
foto Dok. ITB.

Beberapa waktu sebelumnya telah ramai dibicarakan soal keberhasilan Pertamina mengolah sawit menjadi green diesel yang bisa menggantikan solar. Bahan bakar nabati itu diberikan kode D-100 yang bermakna green diesel 100%. Artinya, bahan bakar ini menggunakan sawit seluruhnya. Berbeda dengan saudaranya B-20 atau B-30 yang merupakan pencampuran biofuel (FAME) dengan Solar, D-100 murni berasal dari sawit.

Proses produksinya dilakukan dengan cara mencampurkan katalis. Yaitu zat kimia yang bisa mempercepat reaksi (katalisator), tanpa ikut berubah karena reaksi tersebut. Uniknya, katalis yang digunakan dalam proses pembuatan green diesel itu asli buatan putra Indonesia, namanya Katalis Merah Putih.

Menurut penemunya, Prof. Subagjo, Katalis Merah Putih memiliki kualitas yang jauh lebih baik dari produk serupa yang diimpor dari luar negeri.

Oleh sebab itu, Prof. Subagjo pernah meminta pada Presiden Jokowi untuk segera dibuatkan pabrik khusus katalis tersebut. Selama ini Katalis Merah Putih hanya diproduksi oleh lab kecil di Institut Teknologi Bandung (ITB), dengan jumlah produksi terbatas. Karena lab itu memang sebenarnya digunakan untuk pendidikan. Pertamina telah memberikan bantuan untuk pengembangan katalis itu di sana.

Harapan Prof. Subagjo akhirnya menjadi kenyataan. Sebab PT Pertamina (Persero), PT Pupuk Kujang, dan PT Rekacipta Inovasi ITB, sepakat untuk mendirikan perusahaan patungan pabrik Katalis Merah Putih pada Rabu 29 Juli 2020. Pabrik itu adalah hilirisasi dari pengembangan katalis yang dilakukan di ITB.

Pabrik katalis tersebut rencananya berkapasitas 800 ton per tahun. Dan ia adalah pabrik katalis nasional pertama di Indonesia yang 100 persen dikembangkan dan dibangun oleh anak bangsa. Pabrik ini berlokasi di Kawasan Industri Cikampek. Sebagaimana permintaan Prof. Subagjo dulu, pembangunan pabrik katalis itu dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan katalis industri pengilangan minyak, industri kimia dan petrokimia, serta industri energi.

Selain itu, agar penemuan katalis tersebut tidak dicuri oleh bangsa lain. Sebab banyak negara sangat ingin mengembangkan katalis tersebut. Prof. Subagjo tidak ingin proses panjang penelitian untuk menghasilkan katalis itu tidak dinikmati oleh bangsa sendiri.

Pabrik katalis itu akan mulai dibangun pada September 2020 dan diharapkan akan mulai berproduksi pada triwulan kedua 2021. Pengembangan dan pembangunan pabrik katalis ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mandiri dalam teknologi proses dan ketahanan energi. Tujuannya untuk mengurangi porsi impor katalis nasional.

Kabar gembira itu adalah langkah awal untuk menuju ketahanan energi nasional. Sebab dengan melimpahnya bahan biofuel, Indonesia akan menjadi produsen bahan bakar nabati yang patut diperhitungkan. Dengan produksi sawit terbesar di dunia, Negara ini akan mengubah haluan konsumsi bahan bakarnya.

Pertamina sendiri selain mengembangkan green diesel (penganti solar) juga sudah menjajaki green avtur dan green gasoline (pengganti bensin). Meskipun mungkin porsinya memang tidak akan mampu menggeser bahan bakar fosil dalam waktu dekat, tapi persentase dari bahan bakar nabati itu akan sangat mengurangi ketergantungan pada impor minyak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN