Mohon tunggu...
Puji Hastuti
Puji Hastuti Mohon Tunggu... DOSEN

Seorang pembelajar yang Ingin terus mengasah diri

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama

Sang Nahkoda

7 April 2015   14:36 Diperbarui: 17 Juni 2015   08:25 337 0 0 Mohon Tunggu...

Beratnya tanggung jawab sebagai pemimpin. Pemimpin dalam kehidupan rumah tangga, pemimpin dalam kehidupan bermasyarakat, pemimpin dalam kehidupan bernegara.Bagaikan sang nahkoda yang harus membawa kapalnya. Nahkoda pada perahu yang harus diselamatkan dari berbagai halangan, rintangan dan gelombang pasang yang tinggi menjulang. Dia menjaga jangan sampai perahu yang harus dikendalikannnya tenggelam ke dasar lautan dan tidak sampai ke tujuan. Perahu yang dikemudikan dengan membawa seluruh anggota keluarganya, anak, istri bahkan mungkin orang tua, saudara, handai taulan dan siapapun yang dibawanya serta.

Terkadang penumpang yang ada di dalam perahu tidak semuanya tenang, tidak semuanya bisa bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing bahkan mungkin tidak semuanya menikmati perjalanan. Ada saja yang berbuat ulah. Mengguncang-guncangkan perahu tersebut hingga berjalannya tidak stabil dan lama-lama terisi air yang bisa membuatnya tenggelam. Di suatu waktu bisa jadi gelombang pasang tinggi menukik tajam, mengguncang-guncangkan perahu dan membuat mabuk seluruh penumpang. Bahkan mungkin laju perahu menjadi tak terkendalikan dan bisa membuatnya tenggelam.

Sang nahkoda dengan ketegasannya memberikan intruksi kepada anak buah kapalnya agar kapalnya bisa berlayar dengan tenang. Melaju menembus angin yang berhembus menuju tanah harapan. Tanah harapan yang penuh dengan keindahan, tanah harapan yang penuh dengan kebahagiaan.

Namun tidak semua nahkoda mengetahui arah dan tujuan. Ada nahkoda Β yang menjalankan kapal dengan prinsip yang penting kapal berjalan, tidak tahu kemana harus menjalankan laju perahunya. Nahkoda tersebut bahkan tidak berpedoman kompas. Walaupun mungkin dia tahu fungsi dan guna kompas tersebut, namun enggan membukanya, enggan membacanya dan membiarkan saja tergeletak begitu saja. Bisa jadi jalannya kapal akan tersesat, hanya berputar-putar tak tentu arah dan tujuan. Hingga sampai pada suatu masa dimana kejenuhan datang dan perjalanan terasa hambar. Itupun kalau tidak menemui aral yang melintang, gelombang pasang yang menghadang dan rintangan yang menjulang.

Ada juga nahkoda yang dengan arogansinya dia memerintahkan ABKnya untuk menjalankan kapal sesuai dengan keinginannya. Kapalnya melaju ke kanan, ke kiri, lurus, berbelok sesuai dengan keinginannya tanpa memperhatikan arah angin, atau tujuan yang hendak dicapai. Kapal seperti inipun bisa jadi hanya berputar-putar tak tentu arah. Kalaupun dia sampai tujuan bukan tujuan yang dikehendaki bersama namun tujuan sang nahkoda belaka.

Di sisi lain ada nahkoda yang karena kelemahannya, tidak mempunyai sifat pemimpin, memilih menurut kehendak anak buahnya. Dia tidak mampu mengambil keputusan di saat genting. Dia tidak mampu mengambil alih di saat darurat. Dia tidak bisa diharapkan pengayomannya di saat anak buahnya membutuhkan. Apalah arti nahkoda seperti ini. Kapalnya hanya akan berjalan sekehendak anak buahnya dibawah kendali ABKnya.

Yang dibutuhkan adalah nahkoda yang bijaksana ketika harus mengambil keputusan agar semua merasakan keadilan bersama. Yang dibutuhkan adalah nahkoda yang tegas ketika harus mengambil keputusan, bukan nahkoda yang hanya mengekor saja. Yang dibutuhkan adalah nahkoda yang kuat karena dia harus melindungi semuanya. Yang dibutuhkan adalah nahkoda yang penuh kasih dan sayang karena dia harus bekerja dengan cinta. Cinta yang sesungguhnya bukan cinta palsu belaka. Yang dibutuhkan adalah nahkoda yang bertanggung jawab, berani mengambil keputusan dan berani mengambil resiko dari apa yang menjadi akibat dari keputusannya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x