Mohon tunggu...
Dokter Andri Psikiater
Dokter Andri Psikiater Mohon Tunggu... Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa

Psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik Medis. Lulus Dokter&Psikiater dari FKUI. Mendapatkan pelatihan di bidang Psikosomatik dan Biopsikososial dari American Psychosomatic Society dan Academy of Psychosomatic Medicine sejak tahun 2010. Anggota dari American Psychosomatic Society dan satu-satunya psikiater Indonesia yang mendapatkan pengakuan Fellow of Academy of Psychosomatic Medicine dari Academy of Psychosomatic Medicine di USA. Dosen di FK UKRIDA dan praktek di Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang (Telp.021-29779999) . Twitter : @mbahndi

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Mencegah Pikun Sejak Dini

9 Desember 2017   21:37 Diperbarui: 10 Desember 2017   21:38 7100 3 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mencegah Pikun Sejak Dini
Ilustrasi: Shutterstock

Saat menuliskan tulisan ini saya sedang berada di Taipei, Taiwan dalam rangka memenuhi undangan mengikuti 3rd International Leaders in Alzheimer's Disease Summit 2017. Saya merupakan psikiater satu-satunya selain tiga neurologis lain dari Indonesia  yang diundang ke acara ini. 

Saya baru saja tiba semalam di Taipei dan sore tadi mulai mengikuti rangkain acara sejak jam 14.30 sampai dengan 20.00 waktu setempat. Beberapa topik yang dibahas pada hari pertama ini adalah kemungkinan penelitian ke depan terkait dengan biomarker atau penanda yang bisa mendeteksi adanya masalah kepikunan lebih dini sebelum terjadi penyakit demensia khususnya demensia Alzheimer. 

Kita mengetahui bahwa penyakit demensia Alzheimer bukanlah kepikunan biasa seperti yang dianggap wajar terjadi pada orang lanjut usia. Penyakit demensia Alzheimer adalah penyakit otak yang mempunyai dampak terhadap penurunan fungsi daya pikir orang yang mengalaminya. 

Pada tahapan ringan atau mungkin lebih sering disebut Mild Cognitive Impairment, pasien yang mengalami penurunan kognitif atau fungsi daya pikir mungkin hanya mengalami lupa menaruh barang atau kunci yang biasanya tidak masalah sebelumnya atau mungkin sulit mengingat apa yang dilakukan tadi pagi atau kemarin malam. 

ILEAD Summit,Taipei, Taiwan 9-10 Desember 2017 (Dokumentasi pribadi)
ILEAD Summit,Taipei, Taiwan 9-10 Desember 2017 (Dokumentasi pribadi)
Namun dengan berkembangnya penyakit demensia sampai tahapan yang berat orang bisa sama sekali kehilangan ingatannya dan seperti hidup dengan dunianya sendiri. Ini belum lagi ditambah dengan sering adanya gejala perilaku dan psikologis terkait dengan demensia yang sering kali seperti halusinasi, delusi, gangguan tidur dan terkadang agresifitas. 

Tentunya akan lebih baik jika demensia bisa dicegah atau setidaknya dideteksi di saat awal terjadi sehingga bisa lebih awal diobati. Sayangnya sering kali ini tidak terjadi. Hal ini disebabkan karena masalah pikun sering kali dianggap sebagai sesuatu yang biasa dialami oleh orang lansia

Beberapa hal yang dibahas tadi sore berhubungan dengan kemajuan penelitian terkait dengan biomarker yang terdapat dalam cairan otak seperti amyloid-b1-42, tau dan phosphorylated tau

Biomarker ini bisa digunakan sebagai salah satu pemeriksaan penunjang dalam evaluasi klinis terutama pada kasus-kasus yang tidak jelas atau tidak spesifik untuk mengidentifikasi atau menyingkirkan demensia alzheimer sebagai salah satu penyebab gejala demensianya. 

Selain itu juga diperlihatkan kemungkinan untuk menggunakan pemeriksaan imaging seperti pet-scan untuk melakukan pemeriksaan amyloid.  Hal ini seperti pada pemeriksaan biomarker juga bertujuan untuk menyingkirkan adanya kemungkinan demensia alzheimer pada pasien yang mengalami gejala-gejala demensia. 

Gejala dan tanda gangguan psikiatrik juga kembali diingatkan karena kita memahami bahwa gangguan demensia alzheimer ini sering kali terkait dengan adanya gangguan neuropsikiatrik yang terjadi di dalam praktek sehari-hari. 

Penelitian mengatakan bahwa depresi, apatis, agitasi, psikosis (adanya delusi dan halusinasi), gangguan tidur dan kiecemasan adalah gejala-gejala yang sering dialami oleh pasien demensia alzheimer dan prevalensinya berkisar antara 12-74% dari berbagai -penelitian yang telah dilakukan. Tentunya ini merupakan tantangan buat klinisi baik dokter jiwa/psikiater dan dokter saraf yang sering menemui pasien seperti ini. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x