Mohon tunggu...
Priyandono Hanyokrokusumo
Priyandono Hanyokrokusumo Mohon Tunggu...

Guru di SMAN 1 Gresik. Nyambi sebagai penulis lepas

Selanjutnya

Tutup

Novel

Seribu Jalan Berkhidmat, Seribu Tantangan Menghadang

10 Januari 2019   08:09 Diperbarui: 10 Januari 2019   08:38 0 1 0 Mohon Tunggu...
Seribu Jalan Berkhidmat, Seribu Tantangan Menghadang
dokpri

Judul Buku : Guru Pengangkut Air
Elegi Seorang Pengajar Honorer
Penulis        : PRIYANDONO
Editor.          : S. Jai
Penerbit.     : Pagan Press
Tebal.          : 116 hal
Ukuran.       : 13 x 20
Cetakan Pertama : Desember 2018
ISBN : 602-5934-36-0
Persensi : MAYA HARSASI *)

Tugas mengajar dan mendidik bagi seorang guru sejatinya ditopang oleh banyak unsur. Keikhlasan, kemampuan berkomunikasi dan rasa welas terhadap anak, tidak akan berarti banyak tanpa didukung dengan penguasaan materi yang memadai. Maka, peningkatan kualitas diri menjadi harga mati untuk mengabdikan diri. Namun, pilihan cara untuk meningkatkan kualitas berbeda antara satu dengan yang lain. Ada yang lebih memilih berkhikmad dengan membersamai siswanya di kelas. Dua puluh empat jam siap untuk dihubungi untuk keperluan apapun yang berhubungan  dengan mereka. 

Peningkatan pengetahuan cukuplah dengan membaca beberapa buku atau koran seadanya, yang ada di perpustakaan sekolah. Namun jangan salah, dengan mengabdikan diri sepenuhnya ini para guru ini pada hakikatnya juga sedang mempelajari sumber ilmu yang tidak ada habisnya: siswa. Karakter unik mereka menjanjikan banyak ilmu, yang mungkin lebih aplikatif jika dibandingkan paparan seminar manapun.Tentunya, apabila digali dengan cara yang benar.

Tipe kedua, berusahaberdiri di tengah. Di satu sisi berusaha membersamai siswa sebanyak yang ia mampu namun di sisi lain juga ingin menguasai ilmu-ilmu 'luar'. Jalan tengahnya, guru ini biasanya menyukai diklat-diklat online. Walaupun harus banyak tombok untuk membeli kuota internet, namun tidak perlu meninggalkan keluarga maupun siswanya.

Tipe ketiga, ya seperti yang diceritakan  Priyandono dalam novel ini. Rajin ikut bimtek, seminar, dan lomba-lomba guru yang keren-keren. Ilmunya jelas banyak, kenalannya juga banyak, apalagi sangunya. Namun jangan khawatir, mereka bukan tipe yang pelit berbagi ilmu. Dekati saja, maka ilmu-ilmu antahberantah dari bimtek satu ke bimtek lain akan diturunkan kepada kita, gratis tis. Pergaulan yang luas juga membuat pandangan mereka semakin luas.Maka, berbincang dengan mereka seperti minum es kelapa muda di teriknya siang. Segar, dengan ide-ide baru yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Namun ya  itu, yang nyinyir juga banyak.  Persis yang diceritakan ada dalam novel ini.

Saya memang belum pernah menjadi guru tipe ketiga ini, namun saya memahami benar tantangan yang dihadapi rekan-rekan yang memilih berkhikmad dengan jalur ini. Tipe pertama dan kedua, nampaknya memang 'aman'. Tetapi menjaga 'kewarasan' untuk membersamai  anak-anak tanpa 'selingan' --saya menyebutnya begitu untuk acara guru yang keren-keren- juga bukan pekerjaan yang mudah. Belum lagi dihadapkan dengan pekerjaan administratif yang tak henti-hentinya, ditambah cicilan panci yang belum lunas...

Membaca novel ini adalah belajar memetik hikmah. Bahwa di balik 'gemerlapnya guru yang keren-keren itu, ada banyak tantangan yang menghadang. Guru biasa seperti saya, belum tentu punya ketahanan mental untuk menjalaninya. Pun juga mereka, belum tentu mampu berkhikmad seperti yang sedang kita jalani. Jalan yang kita tempuh mungkin berbeda, tetapi tujuannya sama. Maka, tebalkanlah buku ini ... Agar hikmah yang dapat dipetik semakin banyak.  

 ( MAYA HARSASI, kawan lama tinggal di Semarang Jawa Tengah)