koko anjar
koko anjar

Seorang penikmat senja dengan segala romantikanya. Menyukai kopi dan pagi sebagai sumber inspirasi dan dapat ditemui di Hitsbanget.com.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Senja, Gerimis dan Air Mata

13 Oktober 2017   18:11 Diperbarui: 13 Oktober 2017   18:18 96 2 0
Senja, Gerimis dan Air Mata
images : /i.ytimg.com

Siang itu Jogja tak seperti biasanya. Di pertengahan bulan Juli yang sedang panas-panasnya, langit mendadak mendung. Sesekali pula terdengar suara guruh menggelegar. Pertanda kalau kemarau yang panas ini akan berakhir lebih cepat dari biasanya.

Cakra masih belum beranjak dari tempat duduknya. Dipandanginya terus menerus surat itu. Sepucuk surat yang akan mengubah jalan hidupnya. Yang membuat dirinya berfikir seribu kali dan melamun berhari-hari.

"Masih bingung le?" tiba-tiba suara ibunya terdengar dari balik kamar.

"Iya buk." Jawabnya tanpa sekalipun melepaskan pandangan dari surat itu.

Dengan tergopoh-gopoh ibunya beranjak dari tempat tidur. Sakit maag yang dideritanya terkadang membuat tubuhnya langsung drop kalau sedang kumat. Perlahan ia berjalan, lalu duduk di samping anak semata wayangnya itu.

"Kamu itu anak laki-laki le, harus bisa menentukan pilihan."

"Kalau saya pergi, Ibu siapa yang menemani? Yang bantu-bantuin? Atau yang merawat ketika sakit?"

"Halah...ibuk kok kamu pikirin. Meski sakit ibuk ini kambuhan, tapi ibuk ini masih kuat kan buat berdiri? Masih kuat kan buat berjalan ke pasar? "

Cakra hanya tersenyum kecut. Ia masih terus memandangi surat itu. Hatinya bergejolak. Bingung antara berangkat atau tinggal ditempat.

"Le, ibuk sama bapakmu dulu menyekolahan kamu sampai bangku kuliah bukan untuk bantuin ibuk jualan dipasar, tapi biar kamu bisa kerja kantoran, bisa ngangkat derajat keluarga kita. Kamu masih ingat kan pesan almarhum bapakmu?"

"Iya buk, saya ingat. Bapak ingin lihat saya kerja kantoran. Gak seperti bapak yang kerjanya serabutan. Tapi...."

"Tapi apa? Kamu ini Sarjana Pertambangan dan dapat kerja di pertambangan, gusti Allah kurang baik kepie meneh le?"

"Tapi jauh buk."

Kini ibunya yang gantian tersenyum. Ia hanya menghela nafas panjang, lalu meminum air putih yang memang sejak tadi sudah tersedia di depannya.

"Papua itu memang jauh, terus kalau jauh memangnya tidak bisa pulang?"

"Ya bisa buk, tapi kan pulangnya enam bulan bahkan satu tahun sekali."

"Le.....ada baiknya kamu berangkat. Itung-itung kamu menjalankan amanah bapak kamu. Biar dia disana tenang le. Lagian kan sudah 2 tahun ini kamu nganggur. Gak enak juga diomongin tetangga. Masak lulusan ITB jualan di pasar, kan ora mboys to le?" katanya sambil tersenyum mengejek.

Cakra pun tersenyum lebar.

"Iya buk....saya akan berangkat, tapi saya masih punya beban satu lagi."

"Apa lagi le?"

"Sekar buk." Jawabnya singkat sembari beranjak dari tempat duduknya.

Ia pun bergegas untuk menemui Sekar, perempuan yang dipacarinya dari SMA. Dengan cepatnya ia langsung memakai jaket kulit dan helm. Tidak lupa pula ia berpamitan dengan ibunya. Dan dengan honda Tiger  2000 peninggalan bapaknya, Cakra pun berangkat menuju Bank Indonesia, tempat Sekar bekerja.

Tepat jam 3 sore  ia akhirnya sampai di bank yang arsitekturnya peninggalan jaman kolonial itu. Setengah jam kemudian Sekar keluar. Jam kerjanya memang hanya sampai setengah 4.

"Mas, kok tumben jemput? Untung aja aku belum telfon bapak untuk minta jemput."

"Iya, ada yang pengen mas omongin"

Mereka pun kemudian berboncengan. Langit Jogja semakin gelap. Gerimis pun mulai turun. Karena tidak membawa jas hujan, merekapun memutuskan untuk berteduh di bawah jembatan layang Janti.

"Kita mau kemana sih mas?"

"Sebenarnya aku pengen ngajak kamu ke bukit bintang, sudah lama kita gak kesana, tapi kayaknya gak bisa deh, cuaca gak mendukung"

"Ohh...kirain mau kemana.  Eh iya, kamu tadi katanya mau ngomong sesuatu?"

Cakra terdiam. Mengambil nafas sejenak lalu memulai pembicaraan.

"Masalah pekerjaan itu, yang di Papua."

"Oh iya, kamu tolak kan?"

Dengan perlahan Cakra menggeleng.

"Aku sudah putuskan aku akan berangkat."

"Papua itu jauh mas, ibuk juga tinggal sendiri."

"Ibuk sudah merestuiku"

"Oke...tapi aku gimana?"

"Gimana apanya?"

"Umurku sudah 24 mas, aku sudah bekerja, dan orang tuaku meminta untuk segera menikah."

"Hhhhhh...kita sudah sering bicarakan masalah ini. Tapi aku gak bisa."

"Gak bisa kenapa? Karena merasa kamu belum punya apa-apa?"

"Bukan...bukan itu saja masalahnya. Masih ada urusan yang harus kuselesaikan.Kamu sendiri bagaimana? Kenapa tidak mau menungguku?"

"Aku mungkin bisa menunggu mas...tapi mungkin orang tuaku tidak." Air mata pun mulai menetes di pipi Sekar.

Waktu semakin sore, gerimis pun tak kunjung reda. Sayup-sayup mulai terdengar adzan magrib. Dan mereka berdua masih saling membisu.