Mohon tunggu...
Prisma Nabila
Prisma Nabila Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang

Prisma Nabila, anak ke 2 dari 2 bersaudara. Bagian dari mahasiswa sastra Indonesia 2019 Universitas Negeri Semarang.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Aku Lupa Kalau Aku Orang Miskin

9 September 2022   12:44 Diperbarui: 9 September 2022   12:48 122 6 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Siang hari itu sungguh terik. Rasa-rasanya seperti matahari hendak membakar bumi. Langit tampak begitu biru seperti nyala api dari kompor gas yang masih dipakai Ibu untuk menggoreng tahu bakso. Suara letupan minyak goreng riuh berbaur bersama suara tv dan gemelinting gelas dan sendok yang beradu saat aku mengaduk es teh manisku.

Aku kembali ke ruang tengah untuk melanjutkan pekerjaanku yang tertunda sebentar untuk membuat es teh manis seraya menyeruput es teh itu. Rasanya begitu segar ketika air dingin tersebut melewati tenggorokan. Sejenak kutengok Ibu yang tiba-tiba mengaduh, wanita itu sedang melihat jarinya yang sepertinya terkena pinggiran wajan lantas kembali menggerakkan spatula untuk membolak-balikkan tahu bakso yang digorengnya.

Tak luput pula dari pandanganku ketika Ibu menghapus lelehan keringat yang hampir jatuh dari pelipis dengan menggunakan lengan daster ungu bunga-bunga yang beliau kenakan hari ini. Betapa panasnya cuaca hari ini.

Sekali lagi aku mencoba kembali pada pekerjaanku. Tangan kananku meraih stapler sedangkan tangan kiriku meraih kardus untuk kujepret untuk mengemasi pesanan jajan pasar hari ini. Tayangan sinema anak-anak mengisi hening dengan percakapannya yang tak terlalu aku pedulikan. Sesekali suara jegreg terdengar dari kipas tua yang berputar di atas kepalaku.

"Far!" Suara Ibu memanggil. 

Aku menoleh, menghentikan pekerjaanku yang barusaja dimulai.

"Dalem," jawabku.

"Jupukno duit. Ana wong pak jaluk (Ambilkan uang. Ada orang mau minta)," ucap Ibuku.

Aku dengan malas-malasan berdiri. Bukan karena aku tidak mau disuruh, tapi aku baru saja duduk dan harus berdiri lagi itu membuat kepalaku sedikit pusing. Aku mengambil beberapa uang koin pecahan lima ratusan dari dalam celengan besi yang diberikan Bapak untuk menyimpan uang koin dari hasil sweeping saat mencuci baju.

Aku mendapati seorang wanita berdiri di depan pintu. Wanita itu memakai setelan batik warna biru yang sudah pudar entah karena terlalu sering dicuci atau pudar oleh terik matahari dan debu. Kerudungnya berwarna ungu dan juga lusuh. Ada seorang bayi kecil yang digendongnya dengan menggunakan kain batik sementara tangan kanan wanita itu menggandeng tangan anak laki-laki yang kutaksir umurnya mungkin empat atau lima tahun.

Wajah bocah laki-laki itu sama lusuhnya seperti si Ibu. Gelap dan sedikit kemerahan karena terbakar terik matahari. Ada rasa iba yang muncul di dalam dada. Anak sekecil itu harus ikut Ibunya bekerja meminta belas kasih orang-orang. Bukannya bermain bersama teman sebayanya dan tumbuh di lingkungan yang nyaman. Bertambah rasa ibaku saat melihat si bayi kecil yang menggeliat kecil dalam tidurnya. Bibir mungilnya bergerak-gerak dengan suara geraman lirih. Mungkin dia haus, atau mungkin dia merasa kepanasan. Ada bintik-bintik kecil yang memerah di sekitar dahi si bayi. Itu biang keringat. Rasanya pasti tidak nyaman apalagi jika sedang berkeringat.

Aku memberikan uang koin kepada wanita itu yang langsung bergegas pergi tanpa ucapan terima kasih atau apalah. Aku tak peduli meski wajah jutek wanita itu sedikit menyenggol rasa sebalku. Hingga perkataan bocah laki-laki yang digandengnya itu sukses membuat langkahku yang hendak kembali masuk ke rumah berhenti.

"Buk, buk, kok tvne apik nggone dewe oh, Buk? Wek dewe tvne gede karo tipis. Ora koyo wek mbak kae tvne jaman biyen. (Bu, bu, kok tvnya bagusan punya kita ya, Bu? Punya kita tvnya besar dan tipis. Nggak kaya punyanya mbak itu tvnya jaman dulu)."

Bocah laki-laki itu sontak mendapatkan pukulan di punggungnya dari tangan sang Ibu. Sementara aku masih mematung di tempatku berdiri. Sarkas sekali, kataku dalam hati kendati aku pun tertawa karena ucapan bocah laki-laki tadi. Dia pasti lupa kalau dirinya sedang melakoni peran jadi orang miskin

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan