Mohon tunggu...
Himam Miladi
Himam Miladi Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Penulis Konten | warungwisata.com | Email : himammiladi@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Menebak Makna di Balik Pujian Luhut Pada Prabowo

22 April 2019   23:17 Diperbarui: 22 April 2019   23:19 348
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Analisis Cerita Pemilih. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

Apabila ada lawan melontarkan pujian setinggi langit bagi rivalnya, sudah tentu ada maksud tersembunyi di balik pujian tersebut. Maka, ketika Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan (LBP) memuji Prabowo dan menyebutnya sebagai patriot dan aset bangsa yang harus dihargai, publik mulai menebak dan mencari petunjuk, apa maksud pujian Luhut tersebut?

"Bagaimanapun, Pak Prabowo itu harus menjadi bagian sejarah dari Indonesia, karena Pak Prabowo itu kan seorang pemimpin juga. Beliau aset bangsa, beliau patriot juga, patriotismenya tidak bisa dipungkiri. Kepeduliannya terhadap Republik ini juga tidak bisa dipungkiri, "ujar Luhut usai Rapat Kabinet Terbatas, Senin (22/04)

Luhut adalah utusan khusus dari Jokowi untuk menemui Prabowo. Meski belum bertemu langsung, Luhut mengaku sudah menelpon beberapa kali untuk menyesuaikan janji pertemuan. Luhut juga mengaku dalam percakapannya lewat telpon, Prabowo dan dirinya berbincang akrab dan banyak bergurau tentang masa-masa saat mereka berdua aktif di militer.

Sebagai orang yang berada di pihak lawan, pujian Luhut terhadap Prabowo bisa mempunyai makna tersembunyi. Seperti dalam permainan sepakbola, apabila ada pelatih yang menyanjung tim lawan sebelum pertandingan dimulai, biasanya itu dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian. Membuat lengah tim lawan dengan sanjungan dan buaian.

(Apakah maksud pujian Luhut juga seperti itu? Supaya Prabowo (dan para pendukungnya) lengah karena terbuai pujian?)

Sepertinya hanya Luhut (dan Tuhan) yang tahu persis. Bisa ya (ada maksud tersembunyi), bisa pula pujian itu datang dari hati yang tulus.

(Tapi, bukankah pertandingan sudah bubar? Bukankah pemilu sudah usai? Karena itu pujian dari Luhut semestinya dimaknai secara wajar, antar teman yang saling kenal akrab.)

Oh, siapa yang bilang pemilu sudah selesai? Justru saat inilah detik-detik yang paling menegangkan. Peluit tanda pemilu sudah selesai belum ditiup oleh KPU yang bertindak sebagai wasit. Proses pemungutan suara pada 17 April kemarin adalah tanda pertandingan baru dimulai.

Proses perhitungan suara adalah masa-masa krusial bagi kedua pasangan calon presiden, dan juga partai-partai politik. Kata Joseph Stalin sebagaimana saya kutip dari tweet Karni Ilyas, "Rakyat yang memberikan suara bukanlah penentu hasil pemilu. Pihak yang menghitung suara itulah yang bisa menentukan hasil pemilu."

Karena itu, secara pribadi saya memaknai pujian Luhut pada Prabowo itu seperti sebuah "racun" untuk melemahkan semangat pendukung Prabowo dalam mengawal proses perhitungan suara oleh KPU. Pujian Luhut adalah isyarat halus, dengan bahasa yang sangat halus, bahwa tanpa harus jadi pemenang (pilpres) pun Prabowo tetap akan dianggap sebagai bagian dari sejarah Indonesia, sebagai aset bangsa yang patriotismenya tidak diragukan lagi.

Dengan kata lain, saya menebak udang di balik pujian ini tak lain adalah permintaan Luhut pada Prabowo untuk "menyerah", mengakui apapun hasil yang diputuskan KPU nanti, dan tidak akan memperpanjang polemik dan masalah, misalnya dengan mengajukan gugatan ke MK!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun