Eko Prasetyo
Eko Prasetyo profesional

Hingga Januari 2015, penggemar wedang kopi ini baru menulis 30 buku. Kini ia melanjutkan sekolah di Pascasarjana Unitomo Surabaya. Alasan utamanya kuliah S-2 adalah menghindari omelan istri.

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Pengakuan Amoroso

23 Desember 2012   11:10 Diperbarui: 24 Juni 2015   19:09 2147 1 0
Pengakuan Amoroso
Amoroso sebagai pemeran Mayjen Soeharto. (sumber: lsmlidik.wordpress.com)

Amoroso sebagai pemeran Mayjen Soeharto. (sumber: lsmlidik.wordpress.com)

Dalam suatu sesi wawancara, sutradara kenamaan Rudi Sujarwo pernah ditanya tentang film yang menginspirasi dirinya menjadi seseorang yang berada di balik layar lebar. Rudi pernah terlibat dalam film Ada Apa dengan Cinta (2002). Film ini meraup sukses besar di negeri sendiri dan membangunkan kembali gairah dunia perfilman Indonesia yang lama lesu. Apa jawabnya atas pertanyaan tersebut?

”Saya sangat terkesan dengan film Pengkhianatan G-30-S/PKI garapan Arifin C. Noer,” tegasnya. Rudi mengatakan bahwa film tersebut sangat menakjubkan. ”Luar biasa, seolah-olah itu semua nyata,” tuturnya. Ia lantas bercita-cita untuk bisa membuat film yang mampu membawa para penonton seakan-akan mengalaminya.

Sejak jatuhnya pemerintahan Soeharto, film tersebut dilarang diputar (setiap 30 September, film ini wajib diputar di TVRI) karena dianggap mengultuskan seorang tokoh dan terdapat pemutarbalikan fakta sejarah. Namun, Soeharto tetap menjadi sosok yang menarik untuk dikupas.

Patut kita simak pengakuan Amoroso Katamsi. Ia adalah pemeran Mayjen Soeharto dalam film Pengkhianatan G-30-S/PKI. Amoroso adalah dokter tentara yang lahir pada 21 Oktober 1938. Ia pernah berdinas aktif di TNI-AL dengan pangkat terakhir laksamana pertama TNI alias perwira tinggi bintang satu. Ia sempat menjabat Dirut PT Perusahaan Film Negara (PFN) pada 1991-1999. Ia juga aktif di pramuka sebagai wakil ketua kwartir nasional gerakan pramuka. Terakhir, pria kelahiran Jakarta tersebut mengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Sebelum memerankan Mayjen Soeharto, Amoroso melakukan observasi terlebih dahulu. Termasuk bertemu Pak Harto guna mendalami peran. Suatu saat Amoroso mengikuti Soeharto di peternakan Tapos, Bogor, untuk riset peran. Di sana Soeharto menjamu tamu-tamu dari Australia. Amoroso sangat kaget ketika Soeharto berbicara dengan bahasa Inggris yang sangat fasih saat mendampingi para tamunya.

Amoroso lantas bertanya pada Gufron Dwipayana, salah satu orang dekat Soeharto kala itu. ”Pak Dipo (sapaan G. Dwipayana) Kenapa Pak Harto selalu pakai bahasa Indonesia jika pidato (internasional)?”

Dipo mengaku pernah menanyakan hal tersebut. Soeharto menjawab ada dua alasan. Pertama, ia sangat menghargai bahasa Indonesia. Soeharto mencontohkan pemimpin Jepang dan Tiongkok yang bangga dengan bahasa mereka.

”Kalau berunding, kan mewakili bangsa, jangan sampai terjadi kesalahan karena akan berbahaya. Saya khawatir penguasaan bahasa Inggris saya untuk berunding atas nama bangsa kurang tepat. Jadi, lebih baik orang lain saja yang menerjemahkan omongan saya,” ujar Soeharto kepada Dipo.

Pascareformasi, Soeharto dicap buruk. Teriakan ”Gantung Soeharto” bergemuruh di sudut-sudut ibu kota. Ia dianggap sebagai diktator yang menyuburkan korupsi. Terlepas dari segala kontroversi itu, sebagai manusia Soeharto masih punya sisi lain yang bakal dikenang orang. Sesuatu yang humanis. Salah satunya seperti yang dikatakan Amoroso, yakni bangga terhadap bahasa Indonesia. Adakah kita juga demikian?

Sidoarjo, 20 Desember 2012

Eko Prasetyo