Mohon tunggu...
Eko Prasetyo
Eko Prasetyo Mohon Tunggu...

Hingga Januari 2015, penggemar wedang kopi ini baru menulis 30 buku. Kini ia melanjutkan sekolah di Pascasarjana Unitomo Surabaya. Alasan utamanya kuliah S-2 adalah menghindari omelan istri.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Jaka Tarub

14 Oktober 2012   11:15 Diperbarui: 24 Juni 2015   22:51 0 0 0 Mohon Tunggu...

Kisah Jaka Tarub penuh dengan pesan moral. (Sumber: mcwillibarcelonista.blogspot.com)

Ada keasyikan tersendiri tatkala membaca buku-buku cerita rakyat. Banyak hal-hal menarik yang bisa aku dapatkan untuk menjadi inspirasi ketika mengajarkan menulis bagi anak-anak, terutama usia sekolah dasar (SD). Misalnya, dengan membacakan kembali cerita rakyat, aku bisa memberikan ilustrasi kepada mereka tentang perbedaan dongeng, hikayat, fabel, legenda, ataupun mite.

Secara tidak langsung, mereka bisa belajar banyak hal dan mendapatkan pengalaman baru. Salah satunya, memahami apa itu pikiran pokok dalam sebuah cerita.

Yang pasti, ada nilai-nilai kearifan lokal dan pesan moral dari sebuah cerita rakyat yang bermanfaat. Dan hari itu aku ketiban sampur untuk mendongeng bagi anak-anak yang les pada istriku di rumah kami tiap Minggu siang. Karena jam les sudah selesai, aku tak keberatan untuk bercerita di depan mereka. Sesuatu yang sebenarnya begitu mereka nantikan dan sukai.

Setelah sebelumnya menceritakan kisah tentang Calon Arang, kali ini giliran aku membagikan cerita rakyat mengenai Jaka Tarub.

Di masyarakat Jawa, cerita rakyat tentang Jaka Tarub disajikan dalam berbagai versi. Namun, tokoh utamanya tetap si pemuda asal Desa Tarub tersebut.

Alkisah, Jaka Tarub bermimpi punya istri seorang bidadari. Ia pun melaporkannya kepada sang ibunda. Apa kata ibunya? ”Itu cuma bunga tidur,” jawabnya bijak. Maksudnya, mimpi tersebut tidak memiliki arti dan membawa firasat apa pun.

Jaka Tarub sehari-hari diceritakan bekerja sebagai petani. Terkadang ia berburu ke hutan untuk mencari hewan sebagai persediaan makanan. Misalnya, rusa, ayam hutan, ataupun kambing hutan. Hari-harinya kemudian sepi seiring dengan meninggalnya sang ibunda tercinta.

Sejak itulah ia mulai memikirkan dan ingin mencari pendamping hidup. Ada pula warga Desa Tarub yang menawarinya sang jejaka tersebut untuk menikah dengan putrinya. Namun, Jaka Tarub menolak. Ia ingin memilih sendiri calon istrinya.

Suatu saat ia berburu kijang di Hutan Wanasana. Ia sangat terkejut ketika mendengar suara cekikikan beberapa gadis. Jaka sempat ketakutan karena menyangka itu makhluk halus penunggu hutan. Setelah mencari asal suara, ia kaget melihat beberapa gadis sedang mandi di sebuah telaga hutan. Cantik-cantik. Rupanya, mereka adalah sekelompok bidadari kahyangan yang tengah turun ke bumi dan menyegarkan diri di telaga yang jernih tersebut.

Jaka Tarub pun langsung terpikat. Kemudian, muncul niat dalam benaknya untuk mencuri selendang milik salah satu bidadari agar tak bisa kembali ke negeri kahyangan. Setelah berhasil, ia menyembunyikan selendang itu di lumbung padi miliknya di rumah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x