Mohon tunggu...
Pramono Dwi  Susetyo
Pramono Dwi Susetyo Mohon Tunggu... Pensiunan Rimbawan

Menulis dan membaca

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Drama Banjir Kalsel

26 Januari 2021   20:57 Diperbarui: 27 Januari 2021   08:46 344 20 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Drama Banjir Kalsel
Warga menggendong anaknya melintasi banjir di Desa Kampung Melayu, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Jumat (15/01). Banjir ini digambarkan sebagai banjir terbesar yang melanda provinsi tersebut.(Antara Foto via KOMPAS.com)

Mengejutkan sekaligus memprihatinkan, bencana banjir yang melanda wilayah Provinsi Kalimantan Selatan. Dari 13 daerah kabupaten/kota, 10 daerah di antaranya terdampak banjir. Banjir di Kalsel ini tergolong parah dibanding banjir tahun-tahun sebelumnya. 

Pemerintah pusat dan daerah secara reaktif telah memberikan penjelasan penyebab banjir yang terjadi. KLHK melalui Dirjen Pencermaran dan Kerusakan Lingkungan menyatakan bahwa faktor dominan penyebab banjir adalah anomali cuaca (hujan ekstrem), daerah banjir berada pada pertemuan dua anak sungai yang cekung dan morfologinya merupakan meander dan tekuk lereng serta beda tinggi hulu hilir sangat besar. 

Sementara itu, Sekretaris Daerah provinsi Kalsel mengungkapkan kondisi banjir ini mungkin merupakan periode ulang 100 tahunan (Kompas, 20/1/2021).

Apapun faktor penyebabnya, banjir tetap mengikuti kaidah ilmu hidrologi. Air mengikuti mekanisme alur neraca air yang telah diatur oleh alam dan akan mengalir dari daerah tinggi ke daerah yang lebih rendah dengan berbagai macam cara. Banjir terjadi akibat aliran air dipermukaan tanah (run off) lebih besar volume dibanding dengan yang berinfiltrasi ke dalam tanah. 

Dalam konsep pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), air hujan yang jatuh di suatu wilayah daratan akan ditangkap oleh daerah tangkapan air (catchment area) dan dialirkan ke sungai utama dan bermuara ke laut. 

Konektivitas hulu-hilir DAS menjadi penting karena DAS tidak mengenal wilayah administratif. Meskipun DAS Barito terdapat dalam wilayah empat provinsi di Kalimantan, namun karena posisi wilayah Kalsel di bagian tengah dan hilir, sementara daerah hulu masuk dalam wilayah Kaltim dan Kalteng maka apabila terjadi limpasan air dengan volume tinggi, yang paling terdampak banjir adalah daerah Kalsel.

Menjaga tutupan hutan (forest coverage) di daerah hulu dan tengah menjadi suatu keharusan untuk menjaga keseimbangan hidrologis di daerah hilir. Makin luas tutupan hutannya dan makin rapat pohon serta makin berlapis strata tajuknya maka makin banyak pula air hujan yang masuk ke dalam tanah. 

Kesimpulannya adalah tutupan hutan di daerah hulu DAS Barito merupakan faktor dominan terjadinya banjir di daerah hilir terlepas dari faktor lain yang disebut di atas.

Bagaimana mungkin luas hutan di DAS Barito yang tinggal 18,2 persen mampu menahan volume hujan ekstrem yang mencapai 8-9 kali lipat curah hujan normal?

Sudah cukupkah luasan tersebut dan berapa persen luas kawasan hutan yang harus dipertahankan sesuai dengan kondisi fisik dan geografis DAS Barito atau Provinsi Kalsel? Atau masih sementara dihitung dan diatur oleh pemerintah pusat sesuai dengan UU Cipta Kerja. 

Wajar apabila alih fungsi lahan hutan untuk pertambangan dan kebun sawit dituding sebagai faktor penyebab banjir. Karena sesungguhnya tutupan hutan merupakan faktor variabel yang dapat diubah dan dibuat oleh manusia, sedangkan faktor penyebab banjir lainnya sifatnya variabel tetap/given (faktor konstanta).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN