Mohon tunggu...
Prajna Dewi
Prajna Dewi Mohon Tunggu... Guru - Seorang guru yang terus berjuang untuk menjadi pendidik

Humaniora, parenting, edukasi.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mengintip Fenomena Klitih Lewat Kacamata "The Triune Brain"

9 April 2022   05:30 Diperbarui: 10 April 2022   17:27 1472
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Berita tentang Klitih, geng remaja yang melakukan aksi brutal  di Yogya, membuat orang tersentak karena selama ini Yogya terkenal sebagai kota yang penduduknya halus, lembut, sopan penuh tata-krama.

Namun jika kita melihat lebih jauh dari sisi otak manusia, sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Otak manusia, sebagai arsitek, pelopor pendorong sikap dan tindakan memiliki struktur yang sama di belahan negara/kota manapun orang itu berada. Sehingga suatu aksi sebagai respon dari suatu kondisi, sangat mungkin terjadi di negara/kota manapun.

Seorang neuroscientist asal Amerika, Prof Paul MacLean di tahun 1960, lewat teorinya yang Bernama “The Tiune Brain”,  membagi  otak manusia berdasarkan letak dan karakteristiknya menjadi tiga bagian:  The Primitive Brain (Reptilian Complex), The Limbic System (Paleomammalian Complex), The New Cortex (Neomammalian Complex)

designpub.ru
designpub.ru

Setiap bagian otak ini memiliki fungsi dan karakteristik yang berbeda. Mari kita lihat satu persatu.

1. Reptilian Complex

Disebut juga sebagai reptilian brain, otak reptil.

Fungsi: Mengatur gerak, reflek, insting. Otak reptil ini dikenal sebagai penjaga, dia yang membuat makhluk hidup sigap mempertahankan keamanan dirinya.

Karena fungsinya adalah untuk mempertahankan diri, maka dia mempunyai tiga mode reaksi terhadap hal-hal yang membuatnya merasa tidak nyaman ataupun terancam

  1. Mode A. Freeze. Dia akan membeku, sampai dengan berlalunya si bahaya. Membeku ini bisa dalam artian tubuh yang membeku, diam tidak bergerak, namun tidak jarang sampai pikirannya pun membeku, alias “nge-blank”
  2. Mode B. Fight. Dia akan terbang, pergi melarikan diri. Berusaha sejauh mungkin menghindari si bahaya selagi dia masih mampu bergerak untuk lari.
  3. Mode C. Fight. Dia akan berkelahi, melawan habis-habisan semua yang membuatnya merasa terancam.

Mengutip tulisan Zabidi Mutiullah; (Tayang di Kompasiana.com dengan judul "Klitih Messi dan Ronaldo, Bukan Hanya Punishment"), diulas bahwa salah satu penyebab klitih karena pelakunya menggunakan klitih sebagai  jalan untuk mendapatkan pengakuan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun