Posma Siahaan
Posma Siahaan internist

Bapak Matius Siahaan, Markus Siahaan dan Lukas Siahaan.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Ketika Sang Dokter Pria Harus Menyingkap Baju Terusan Pasien Wanitanya

23 Mei 2012   04:58 Diperbarui: 25 Juni 2015   04:56 157456 12 42
Ketika Sang Dokter Pria Harus Menyingkap Baju Terusan Pasien Wanitanya
13377460131126649206

[caption id="attachment_189959" align="alignleft" width="300" caption="Baju terusan, koleksi istri, hehehe"][/caption]

"Sesak nafas, dok. Sudah seminggu ini. Matanya kuning, kakinya bengkak. Batuk-batuk berdahak."Kata ibu si wanita usia 20 tahunan akhir yang tampak tersengal-sengal.

"Darahnya normal, tapi nadinya cepat sekali. Saya permisi mau periksa jantung dan paru-parunya, lalu mau periksa hati dan ginjalnya karena bengkak-bengkak tungkai. Tetapi anak ibu pakai baju terusan begini. Bagaimana ya?"tanyaku.

"Tidak bisa diperiksa dari luar baju ya dok? Masak saya harus menyingkap baju?"Tanya si wanita sambil tersengal-sengal dan batuk.

"Bajunya tebal begitu. Ya, sebenarnya saya sudah bisa menebak arah penyakitnya apa. Tapi kalau nanti tidak diperiksa benar yang menyentuh langsung kulit, lalu langsung dikasih obat saja dan ibu ada apa-apa di rumah, bilangnya ke orang-orang dokter tidak memeriksa benaran."Kataku.

Dan ditawari rawat inap pun mereka tidak mau. Padahal sebaiknya kasus ini diobservasi, lalu dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang seperti ronsen dada,ekokardiografi, USG abdomen serta rekam jantung tetapi biayanya pasti mahal.

Nah, karena pemeriksaan dan rawat inap mahal, saya harus melakukan pemeriksaan fisik dengan teliti, eh si pasien keberatan baju terusannya disingkap ke bawah untuk periksa jantung-paru dan disingkap ke atas untuk periksa ginjal-hati dan perut.

"Nah, saya bisa memberikan obat untuk diagnosis yang paling mungkin dari keluhan yang disebutkan dan pemeriksaan fisik yang tidak maksimal. Tolong tanda tangani di status pasien, kalau keberatan diperiksa secara seharusnya."Dan si pasien pun menandatandangani status rawat jalan bahwa dia menolak diperiksa secara maksimal. Jadi kalau ada apa-apa di rumah, dokter tidak dipersalahkan lagi memeriksanya dianggap main-main.

Diagnosis sementara si pasien menderita sakit jantung bawaan yang membuat sesak dan bengkak serta kuning. Namun tidak etis seorang dokter memeriksa jantung dengan stetoskop sambil baju si pasien masih menutupi kulit, demikian juga memeriksa hati dan organ lain. Apalagi baju si pasien lumayan tebal.

Seharusnya, kalau si pasien malu-malu diangkat baju terusannya bagian bawah atau dipelorotkan baju atasnya, maka dia harusnya memakai baju kemeja berkancing sampai bawah dan terpisah dengan rok. Tambah lagi pakai celana hotspan/pendek untuk menghindari risih celana dalam kelihatan.

Dan setelah 1 minggu diberikan obat pelancar kencing dan penguat jantung, si pasien mulai mendingan dan saat kontrol sudah memakai baju kemeja serta celana panjang, jadi saat memeriksa jantungnya cukup membuka beberapa kancing saja.

Hasilnya perbaikan, sesak, bengkak dan kuningnya berkurang.

"Nah, kan dokter bisa ngobatin juga tanpa buka-buka baju,kan?"Kata si pasien dengan senyum manisnya.

"Nasib baik bu. Kebetulan diagnosis saya mendekati walau pemeriksaannya tidak maksimal. Kalau ternyata hasilnya jelek, baru jadi masalah dan keluarga mungkin saja cari-cari kambing hitam."Kataku.

"Iya, dok. Saya kalau berobat janji tidak pakai baju terusan lagi dok. Masalahnya kalau disingkap-singkap malu, kalau cuma buka kancing sedikit-sedikit begini sih tidak malu."Katanya lagi.

Oke, demikianlah. Ternyata perlu ada penyuluhan tata busana sebelum berobat ke dokter,ya?