Mohon tunggu...
Poncho Gardy S
Poncho Gardy S Mohon Tunggu... Mahasiswa Ilmu Manajemen

membahasa tentang isu-isu terkini manajemen keuangan

Selanjutnya

Tutup

Finansial

Perilaku Investasi Saham pada Masa Krisis Keuangan: 1998, 2008, dan Pandemi Covid-19 Tahun 2020

6 Juli 2020   12:48 Diperbarui: 6 Juli 2020   13:01 173 2 0 Mohon Tunggu...

Kita telah mendengar investor miliarder, Warren Buffett telah menarik dana yang telah diinvestasikannya dari beberapa Perusahaan dan lebih memilih untuk memegang uang tunai. Ketika perlambatan ekonomi akibat pandemi COVID-19 mulai mencengkeram Amerika Serikat, investor Berkshire Hathaway Inc ini justru menumpuk kas dalam jumlah besar yakni di US$ 137 miliar pada akhir Maret. Berkshire mengatakan, angka itu naik lebih tinggi karena melepaskan lebih dari US$ 6 miliar sahamnya pada bulan April (www.kontan.co.id, Mei 2020). Apa yang sedang terjadi dengan pasar modal saat ini? pandemi COVID-19 telah mengakibatkan krisis keuangan di berbagai belahan dunia, dan telah mendorong investor berlaku irasional di pasar modal.

Pandemi COVID-19 (sebelumnya 2019-nCoV) disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Pandemi ini dipicu pada Desember 2019 di kota Wuhan di provinsi Hubei, Cina. Pandemi COVID19 terus menyebar di seluruh dunia. Pandemi ini telah mengganggu perekonomian Tiongkok dan menyebar secara global. Di tengah perlambatan ekonomi Tiongkok dengan gangguan produksi, berfungsinya rantai pasokan global telah terganggu. 

Perusahaan-perusahaan di seluruh dunia, terlepas dari ukurannya, yang bergantung pada input dari China mulai mengalami kontraksi dalam produksi. Transportasi menjadi terbatas dan bahkan dibatasi di antara negara-negara telah semakin memperlambat kegiatan ekonomi global. Yang paling penting, beberapa kepanikan di kalangan konsumen dan perusahaan telah mengubah pola konsumsi yang biasa dan menciptakan anomali pasar. Ini merupakan pertanda awal terjadinya krisis keuangan. Pasar keuangan global juga responsif terhadap perubahan, volatilitas yang berlebihan dan indeks saham global telah jatuh.

Krisis adalah keadaan dimana ketika faktor-faktor produksi berlebih namun tidak dapat diserap oleh pasar dikarenakan permintaan konsumen yang cenderung menurun yang diakibatkan oleh daya beli yang rendah. Pada masa krisis Perusahaan akan menahan capital expenditure karena daya beli yang sangat rendah. Hal ini berdampak pada Perusahaan yang memperoleh laba yang sangat rendah dan bahkan bisa menghambat keberlangsungan perusahaan itu sendiri.

Seperti cerita di atas Warren Buffet, investor tersukses di dunia, tidak hanya pada krisis yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19 saja menarik dananya melainkan juga pada krisis 2008, media mencatat Buffet telah sukses menyelamatkan dananya dari krisis yang terjadi di tahun itu. Perilaku ini tentu dianggap tidak biasa oleh pasar, mengapa investor cenderung menarik dananya di masa krisis?

Pada dasarnya seseorang ingin berinvestasi karena  mempunyai kelebihan dana dan ingin mendapat return di masa yang akan datang. Investasi diartikan sebagai kepemilikan atau pembelian produk investasi untuk memperoleh pendapatan tambahan di luar pendapatan dari usaha pokok atau penghasilan tetap. Daniel Kahneman, seorang peraih nobel ekonomi, menyatakan bahwa investor cenderung tidak menyukai kerugian (averision to loss), jika saham sudah hijau (untung), akan segera diuangkan sebelum dia jadi merah (rugi). 

Hal inilah yang banyak menjadi motivasi perilaku investasi pada masa krisis. Krisis mengakibatkan munculnya risiko ketidakpastian akan kemampuan Perusahaan memberikan return kepada investor serta risiko ketidakpastian akan keberlangsungan Perusahaan yang membuat investor takut bukan hanya pada risiko tidak menerima return melainkan juga risiko kehilangan dana yang telah diinvestasikannya.

Dalam berinvestasi faktor psikologis investor memiliki peranan yang besar. Faktor-faktor psikologi dapat membentuk perilaku keuangan (behavioral finance) investor dalam melakukan transaksi jual beli saham di bursa. Szyszka (2011) menyebutkan ada beberapa  perilaku dan psikologi investor, di antaranya:

1. Serakah (greed)

Menurut teori portofolio perilaku, orang dibimbing oleh dua jenis emosi ketika berinvestasi: ketakutan dan keserakahan (Shefrin & Statman, 2000). Karena takut akan turunnya konsumsi di bawah standar kehidupan mereka saat ini, mereka cenderung menyimpan sebagian dari tabungan mereka dalam sekuritas yang sangat aman yang dirancang terutama untuk menjaga nilai uang yang sebenarnya dalam waktu (mis. Obligasi treasury). 

Keserakahan, pada gilirannya, membangkitkan harapan untuk pertumbuhan konsumsi yang cepat dan lompatan cepat ke standar kehidupan yang lebih tinggi. Tampaknya keserakahan adalah faktor pendorong utama perilaku investor setidaknya beberapa tahun sebelum krisis keuangan terjadi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN