Pipiet Senja
Pipiet Senja profesional

Seniman, Teroris Tukang Teror Agar Menjadi Penulis, Pembincang Karya Bilik Sastra VOI RRI. Motivator, Konsultan Kepenulisan, Penyunting Memoar: Buku Baru: Orang Bilang Aku Teroris (Penerbit Zikrul Hakimi/ Jendela)

Selanjutnya

Tutup

Edukasi headline

Penggila Seks Telah Menghancurkan Rahimku

7 Februari 2010   00:27 Diperbarui: 26 Juni 2015   18:03 86106 0 44

Prolog: ini kisah nyata, seorang perempuan kita yang terjebak biro internasional, dijanjikan dinikahi oleh bule Belanda, ternyata malah dilecehkan, sadis, tak pernah terbayangkan oleh akal sehat manusia.

Benarkah langkah yang kuambil ini?” demikian sebuah tanya masih melintas dalam benakku, tatkala kami berdua, aku dan anakku sudah berada di atas pesawat KLM.

Sesungguhnya ada yang serasa menyayat pilu dalam dadaku, merejam telak ke ulu hati, jantung dan sendi-sendi tulangku. Kupeluk erat-erat tubuh mungil anakku yang mulai banyak diam, hanya sesekali mencuri pandang, menatap wajahku dengan cemas. Aduuuh, Tuhanku... segera kubuang jauh-jauh kecengengan yang membalun jiwa dan ragaku.

“Tenanglah, Nak, Mama kan sudah janji. Ke mana pun dan di mana pun, kita akan selalu bersama, bersama!” bisikku mendesir di telinganya, berusaha keras meyakinkan dirinya.

Dengan visa turis kami pun terbang menuju Negeri Kincir Angin, tepatnya 29 Juni 1986. Esoknya kami tiba di Bandara Schiphol, Amsterdam. Ya, inilah negeri bangsa kolonial yang pernah menjajah negeriku selama tiga setengah abad. Pada zaman revolusi, ayahku bersama pasukan pejuang pernah menyabung nyawa, melawan Belanda. Demi sebuah cita-cita mulia bernama; Kemerdekaan!

Sekarang, di sinilah aku dan anakku, putri dan cucu seorang pejuang ’45. Demi mengadu nasib, demi meraih masa depan, demi melacak jejak surga yang kudamba. Aku sadari sepenuhnya bahwa diriku tidak seorang diri, melainkan mengusung serta belahan jiwaku.

“Ya Tuhanku... kami mohon. Lindungilah kami berdua, lindungilah,” desisku mengambang di udara musim panas negeri asing.

Beberapa saat aku menghirup aroma Negeri Kincir Angin sebanyaknya-banyaknya, seluas paru-paruku mampu menampungnya. Berharap bahwa ini hanya mimpi belaka yang segera terbangun, kemudian kutemukan anakku berada di ruang keluarga yang nyaman tempat favoritnya asyik bermain-main. Namun tidak, tidak, ini adalah sepenggal awal perjalanan melacak jejak surga!

“Mama... dia siapa?” suara mungil anakku merenggut seluruh khayal dan kenyataan yang sempat nyaris tak bisa kubedakan lagi.

Aku tersentak, mengikuti telunjuk mungil yang mengarah kepada seorang lelaki bule. Sosok itu, ya, ternyata berwajah keras, terkesan angkuh dan show-off alias tukang pamer dalam berbusana. Ini persis sekali dengan mantan suami. Seketika ada yang berdesiran dalam dadaku, sesuatu yang seharusnya kumaknai sebagai pertanda buruk. Namun, semuanya telah telanjur!

Lelaki itu, Gez, menghampiri kami diikuti oleh beberapa orang yang diperkenalkannya sebagai keluarga besarnya. Dia menyalamiku, tepatnya menciumi pipi-pipiku dengan atraktif. Apabila tak kucegah dengan gerakan tegas, bibirnya memaksa akan melumat bibirku saat itu juga.

“Yeah... inikah jagoan kecilmu, hem?” ujarnya seraya hendak memangku anakku dengan gerakan kasar.

“Mama... gak mau!” protes Peter spontan menghindarinya, berlari dan bersembunyi di balik tubuhku sambil memegangi ujung blazerku.

Aku bisa melihat perubahan pada raut wajah Gez, perpaduan antara geram dengan hasrat menguasai. Dia berhasil mengekang dirinya dengan bersikap santun terhadap diriku, penyayang terhadap anakku. Empat lelaki dan tiga perempuan, keluarganya itu, berusaha pula menyambut kami bedua dengan ramah dan sukacita. Untuk sementara hatiku merasa tenang, meskipun keyakinan yang kudamba belum sepenuhnya kupegang.

“Nah, kita berpisah di sini,” berkata Gez saat berada di parkiran. “Mereka akan pulang ke apartemen masing-masing dan kita... Yeah, kita harus segera menyelesaikan urusanku!”

“Urusanmu?” buruku tak paham, sedetik kemudian kami sudah berada di dalam mobilnya dengan anakku meringkuk di jok belakang.

“Maksudku urusan kita, Darling... jangan takut, semuanya akan membuat dirimu puas, yakinlah!” sahutnya disertai kekehannya yang aneh.

Aku berusaha keras membunuh rasa takut yang mulai membayangi setiap helaan napasku. Kulihat anakku sudah kelelahan dan tertidur lelap. Sungguh, dia anak yang manis, tenang, sama sekali tak pernah rewel. Itu bukan anakku yang biasanya periang, banyak bertanya dan berkomentar. Namun, aku tak bisa berpikir banyak lagi tentang perubahan sikap anakku. Benakku dipenuhi berbagai rencana, pengharapan dan kecemasan.

“Minumlah ini, Darling,” Gez menyodorkan botol minuman, baru kusadari ada boks minuman keras di antara kaki-kaki kami.

“Bolehkah nanti saja supaya tetap segar?”

Mungkin dia mengartikannya lain, bahwa aku menjaga kesegaran selama mendampinginya, meladeninya. Ya Tuhan, bulu kudukku merinding mendengar tawanya yang terbahak-bahak, dan sorot matanya yang ceriwis liar. Namun, lagi-lagi semuanya telah telanjur. Tahu-tahu kami sudah sampai di apartemennya di Hilversum. Dalam sekejap kami pun telah berada di dalam ruangan yang segera dikunci dengan sigap oleh lelaki itu.

“Apaaa... mau apa kamu?!” seruku kaget saat Gez dengan gerakan tak terduga, tiba-tiba menodongkan pistol ke kepalaku.

“Sini, anak setan, siniiii!” Gez merenggut anakku dari tanganku, sedetik kemudian dia telah menyeret tubuh mungil kesayanganku itu ke dalam toalet, lalu menguncinya rapat-rapat.

Mataku melotot hebat dan tubuhku lunglai, sendi-sendi tulangku bagai berlepasan. Seketika aku merasa hanyalah seonggok daging yang tak bernyawa. Separuh jiwaku, belahan nyawaku telah direnggut dari dekapanku...

Tuhan, di manakah Engkau saat ini?

“Kamu diamlah! Jangan coba-coba melakukan tindakan bodoh. Kalau tidak, aku akan bunuh anak kesayanganmu itu!” ancamnya terdengar tidak main-main. Gez, sosok yang tampak gentle dalam video itu, telah berubah dalam sekejap. Makhluk yang ada di hadapanku kini adalah monster mengerikan!

“Kumohon, kumohon... demi Tuhan yang kamu sembah...” aku mulai meratap, memohon dengan segenap jiwaku. “Jangan sakiti anakku... Dia sama sekali tak berdosa...”

Hancur hatiku mendengar tangisan anakku lamat-lamat dari dalam toalet, hingga tak terdengar lagi, mungkin kelelahan atau pingsan?

“Wuakakaka...” Monster itu terbahak-bahak, semakin gencar menenggak minuman keras, sedang tangannya yang satu lagi mulai liar menggerayangi tubuhku. “Kamu ini memang bangsa yang sangat bodoh!”

Baru kusadari koper, tas, perhiasan, uang, paspor, semua bawaanku dari Indonesia sudah diamankan oleh lelaki keparat itu. Mengapa profilnya di video yang direkomendasi biro jodoh internasional itu tampak begitu simpatik, ganteng dan lembut? Belakangan baru kutahu bahwa semuanya memang telah direkayasa. Gez adalah seorang interniran militer, penipu, pemabuk dan... psikopat!

Sejak saat itu, si durjana sering menghajar tubuhku hingga babak-belur.

Demi Tuhan, kuseru nama-Mu. Di manakah Engkau saat ini, Ya Robb?

Walau dalam kelam kehidupan, masih kucoba senantiasa, kutanamkan dalam jiwaku, nun di sana, Dia Sang Pengubah Segala tetaplah hadir.

Sejak saat itu pula, aku dipaksa melayani kebutuhan seksualnya secara biadab, kapan pun dan di mana pun. Dia sering menggunakan scherp en vreemde voorwerpen, alat-alat aneh dan tajam yang dimasukkan ke vaginaku.Bila aku menjerit karena menahan sakit, dia akan tertawa terbahak-bahak. Kepuasan menguasai dirinya, hingga ia akan melampiaskannya lagi dengan lebih keji, lebih brutal... Dajal!

Aku berusaha keras untuk tidak menjerit, menangis apalagi meratap-ratap, memohon belas kasihnya. Dalam ketakberdayaan sekalipun aku sungguh ingin tetap memberontak. Beberapa kali aku mencoba membebaskan diri dari kungkungannya. Namun, sebanyak itu aku mencoba lolos, sebanyak itu pula aku dipergoki, kemudian tanpa ampun lagi dihajar habis-habisan.

Yang paling tidak tahan adalah kalau dia mengancam akan membunuh anakku, tidak memberi makan dan minum. Jika aku dibiarkan menemui anakku, kami berpelukan dan kutahan sedemikian rupa air mataku agar tidak tumpah. Kuperhatikan anakku sudah seperti robot, sepasang mata bintangnya yang cemerlang telah hilang, disilih oleh dua butir mutiara hitam yang kelam, dingin dan suwung...

Suatu malam aku menemukannya dalam keadaan mengenaskan, meringkuk di sudut kamar mandi, demam dan menggigil. Daya tahan tubuhnya anjlok drastis, tubuhnya seakan-akan menciut. Selain kelaparan niscaya mentalnya pun tak tahan lagi harus sering dijauhkan dari ibunya.

“Nak, Anakku... aduuuh, demi Tuhan!” jerit tangisku kini tak terbendung lagi. Aku sungguh panik, dan merasa sangat berdosa karena tak mampu melindunginya. “Bangunlah, Nak, bangunlah... Jangan tinggalkan Mama sekarang, jangaaan...” ratapku histeris, tak peduli lagi akan angkara si durjana yang melongok di belakang tubuhku.

Melihat keadaan gawat begitu agaknya si durjana tergerak juga hatinya. Pasti dia hanya menakutkan dampak terhadap keselamatannya sendiri.

“Diamlah, perempuan dungu! Kamu jangan berteriak-teriak terus!” sergahnya, diangkutnya sosok mungil kesayanganku, kemudian dilumbrukkan di ruangan lain apartemen itu.

Sejak malam itu anakku diperbolehkan menempati ruangan yang layak huni, meskipun kemungkinan cuma gudang, sebab banyak barang. Hatiku agak lega, setidaknya anakku berangsur membaik dan tidak selamanya dikurung di kamar mandi. Kami berdua diperbolehkan bersama kembali. Pada saat-saat aku dibutuhkan, melayani nafsu bejatnya, terpaksa kuberi pengertian anakku.

“Peter, Cinta, jangan berteriak-teriak, jangan nangis selama Mama pergi, ya? Kalau kamu lakukan itu kita akan dipisahkan lagi,” bisikku sambil menahan bendungan air mata yang nyaris tak tertahankan.

Kubelai wajahnya, ooh, baru kusadari tampak tirus. Tubuhnya pun tidak lagi gemuk, pipi-pipinya yang tembam... ke mana gerangan?

“Iya... aku gak akan nangis, Mama. Gak akan jerit-jerit, Mama. Asalkan Mama ke sini lagi, hati-hati, ya Mama...” Dia mengiyakanku sambil berlinangan air mata, dipandanginya diriku dalam isak tertahan.

Aku tidak pernah tahu, dan tak mau mengungkitnya di kemudian hari; apakah selama ibunya ini diperlakukan keji, anak yang malang itu tetap tinggal di tempatnya? Ataukah dia diam-diam mengintip?

“Ya Tuhan, jangan tinggalkan kami, kumohon, jangan tinggalkan kami, ibu dan anak yang malang ini,” jeritku mengawang nun ke lapisan ketujuh.

Apabila monster itu meninggalkan rumah kami akan dikunci dari luar. Tiada televisi, tiada telepon, bahkan aliran listrik pun akan dimatikan. Makanan yang diberikan alakadarnya; sepotong roti keras, semangkuk sup krim dingin dan segelas susu tawar. Adakalanya aku diperbolehkan memunguti remah-remah roti atau pizza bekas makanannya.

“Aku masih lapar, Mama,” pinta anakku takut-takut, mengerling secuil roti yang baru saja akan kumasukkan ke mulutku.

“Ya, tentu saja... ini boleh buatmu, Cinta,” segera kusuapkan roti jatahku itu ke mulutnya.

Tangisku pecah jauh di dalam dada melihat hasrat dan kelahapan anakku. Secuil roti yang hanya pantas buat mainan tikus dan kecoa saat di Tanah Air. Namun, lihatlah, Tuhan! Hari-hari ini begitu dibutuhkan anakku sebagai pengganjal perutnya. Entah bagaimana reaksi kakek-neneknya jika mengetahui hal ini.

Adakalanya otakku berputar-putar dengan berbagai kemungkinan, berbagai macam hal. Apakah ayahnya masih peduli akan keberadaan kami, terutama anakku? Masihkah dia bernafsu untuk menculik dan menguasai anaknya? Mengapa aku begitu panik menghadapi ancaman-ancamannya? Bagaimana kalau itu hanya omong kosong belaka?

Bukankah sejak bercerai, dia tak peduli lagi, terbukti kewajibannya (janji hitam di atas putih, disaksikan pejabat KUA) untuk membiayai anaknya pun telah diabaikan. Tak pernah memberi biaya sepeser pun lagi sejak palu Hakim diketukkan. Pikiran-pikiran itu acapkali sangat menyiksa diriku, membuatku tak bisa memejamkan mata sekejap pun. Sungguh, rasanya aku nyaris menjadi gila!

Namun, segera aku disadarkan akan realita yang tengah kuhadapi. Aku tak boleh menyerah, tak boleh membiarkan diriku stress, frustasi. Aku harus menjaga otakku tetap sehat, waras, sebab dibutuhkan untuk mengatur strategi agar bisa keluar dari situasi buruk ini, melawan si dajal psikopat Gez!

Penasaran?

Selengkapnya ada dalam buku kisah inspirasi

Tuhan, Jangan Tinggalkan Aku (Zikrul Hakim, 2008)

@gambar dari google