Mohon tunggu...
Pintu Kata
Pintu Kata Mohon Tunggu... Lainnya - Menulis Bebas.

Laman daring : https://www.pintukata.com

Selanjutnya

Tutup

Diary

Mimpi yang Tak Sudah-Sudah

2 Desember 2021   08:27 Diperbarui: 2 Desember 2021   08:35 29 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

            Semalam tidurku begitu nyenyak. Lelah rasanya. Makan juga agak sedikit. Hany kemarin aku sengaja tidak menyisihkan waktu untuk pergi ke kantin pada waktu makan sore. Aku biasa menghabiskan dua waktu jam makan setiap harinya. Tapi memang terkadang cukup konsisten bisa makan sehari sekali, pada jam makan sore hari saja.

            Mengingat suhu makin menggigil, musim dingin pun akan segera menuju puncaknya. Aku ubah pola makanku. Di samping, kadang perutku bunyi sendiri di pertengahan jam kelas, saat dosen mengajar, sontak perut meraung agak nyaring, membuatku kesal.

            Entah, semalam tidurku sangat pulas sekali. Jam delapan pagi aku terjaga, dan melihat matahari sudah tampakkan taringnya, aku coba duduk sejenak dan merasa badan pegal-pegal. Aku tak paham apa penyebabnya. Yang ku ingan, saat terlelap, aku banyak bermimpi tentang orang-orang yang pernah mewarnai hidupku begitu bermakna. Mereka mengajariku bagaimana hidup dalam kemandirian, independen, dan memiliki semangat juang.

            Bahkan pengalaman ini belum pernah ku dapatkan semenjak aku mondok selama bertahun-tahun. Justru, setelah dilempar ke negara ini, aku mendapati pengalaman hidup yang luar biasa. Aku kenal mereka sejak pertama kali tiba di kota Changchun, pertama aku berkenalan dengan Kak Hidayah, sebelum aku bertemu dengan suaminya. Ternyata mereka adalah pasutri yang masih giat menempuh pendidikannya.

            Mereka juga berasal dari latar belakang pesantren, cuma yang membedakan, mereka mulai mondok sejak duduk di bangku kuliah. Sedangkan aku sejak di bangku sekolah menengah sudah berdialektika dengan suasana pondok.

            Pengalaman nyantri mereka pun bisa aku katakan cukup progresif. Sebab, yang mengurusi pondok 'pengkaderan' itu masih muda belia, tak seperti sosok kyai, yang relatih lebih tua. Metode pengajarannya pun bersifat habituasi serta selalu kontekstual dengan keadaan di lingungannya. Seperti saat pengajian tafsir al qur'an, para santri diasah untuk memaknai secara kontekstual dan menghubungkan butir-butir ayat suci dengan responnya terhadap jaman. Tentu approachnya berlandaskan pemahaman fundalistik tentang manusia dan kemanusiaan. Jadi, mereka cukup hati-hati dalam menafsir dan memaknai. Sebab, bisa saja ada bias kognitif, alih-alih memberi rahmat bagi segenap alam. Malah meredusir makna demi kepentingan pribadi.

            Beralih ke cerita lain. Nanti aku akan ceritakan kisah perjalanan hidup mereka panjang lebar. Namun, aku saat ini ingin menggali pengalaman yang ku dapat kemarin. Saat sosok perempuan yang ku taksir sedang terpuruk. Dia mengirimi pesan suara kepadaku, dan berkata bahwa tesnya gagal. Tapi menariknya, dia begitu ikhlas dengan menulis pesan 'hasil tesnya bikin aku patah hati dan merasa bersyukur. Patah hati karena nilai yang ku dapat belum sampai ke titik minimum. Dan aku merasa bersyukur karena masih dipeluk olehNya" 

            Aku mengagumi dia, meski aku belum pernah melihat lesung pipinya yang indah. Dalam imajinasiku, dia begitu ceria, sangat suka memberi pandangan fresh dan memantik semangat bagi setiap orang yang sedang cerita berbagi kepadanya. Dia orangnya cukup terbuka dengan orang lain, tapi dia tetap tahu batasan. Seperti prinsip kebanyakan orang, dia juga tidak akan membuka diri sebelum ditanya orang lain, dan dia pun tidak suka kepo tentang nasib orang lain, sebelum orang lain itu membuka diri.

           

Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan