Mohon tunggu...
Pical Gadi
Pical Gadi Mohon Tunggu... Administrasi - Karyawan Swasta

Lebih sering mengisi kanal fiksi | People Empowerment Activist | Phlegmatis-Damai| twitter: @picalg | picalg.blogspot.com | planet-fiksi.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Saksi Tidak Lihat

4 Januari 2017   18:49 Diperbarui: 4 Januari 2017   19:14 2126
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
gambar dari: http://www.open.edu

Pada sebuah siang yang hangat, kepala dusun sedang menengahi kasus pencurian yang menimpa salah satu warganya. Kumisnya yang lebat bak sulur beringin naik turun seiring anggukan kepalanya mendengar curhat Pak Oploh. Warga terkaya di dusun itu mengadu papan-papan yang disiapkan untuk membangun rumah kudanya tiba-tiba hilang.

“…jadi begitu ceritanya Pak Kadus. Saya punya saksi kalau pencurinya itu dia,” tuding Pak Oploh dengan telunjuknya yang tambun pada seorang bapak lainnya di sudut balai dusun.

Pak Landoh yang dituding sekali lagi melambaikan tangannya.

“Sumpah pak Kadus, demi Allah saya tidak mengambil kayu pak Oploh…”

Balai dusun pun kembali gaduh. Sebagian warga mendukung Landoh. Sehari-harinya bapak bertubuh cungkring ini bekerja sebagai tukang mebel. Memang orangnya agak pendiam, tapi warga dusun tahu kalau dia orang baik-baik. Tidak mungkin dia melakukan perbuatan seperti itu.

Tetapi ada juga warga yang berpihak kepada Pak Oploh. Terutama warga yang sering dapat pinjaman duit, walaupun bunganya mencekik leher.

Gubrakk!!

Kepala dusun menggebrak meja sambil menyuruh semua warga yang hadir diam. Tapi suasana balai dusun masih saja gaduh. Mereka baru terdiam saat meja yang digebrak kepala dusun roboh berjatuhan ke lantai. Sudah cukup lapuk memang.

Kepala dusun terperangah sesaat. Tapi langsung fokus kembali pada kasus yang sedang ditangani. Setelah berpikir tujuh belas detik, dia pun bertitah lagi,

“Panggil saksinya! Siapa saksinya?”

Seorang ibu-ibu muda berbaju merah muda maju ke depan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun