Mohon tunggu...
Pical Gadi
Pical Gadi Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Lebih sering mengisi kanal fiksi | People Empowerment Activist | Phlegmatis-Damai| twitter: @picalg | picalg.blogspot.com | planet-fiksi.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Kembaran

7 Mei 2020   20:07 Diperbarui: 7 Mei 2020   20:10 327 36 12 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Kembaran
ilustrasi gambar dari pixabay.com

Mbah Enteng yang tinggal tidak jauh dari rumah, pemilik warung rokok kecil-kecilan, pernah bilang ada gadis makhluk halus yang suka padaku. Aku penasaran jadinya, tapi Mbah Enteng tidak pernah mau bercerita lebih lanjut. Dia hanya berpesan agar aku jangan suka aneh-aneh saja, kuliah yang benar dan tetap rajin sembahyang. Menurutnya makhluk itu tidak jahat. Dia juga tidak tinggal di rumah dan hanya mengikutiku pada saat-saat tertentu saja. Mbah Enteng pun tidak paham pola munculnya yang acak.

Saat ini Mbah Enteng sudah pindah kembali ke kampung halaman. Jadi kami sudah tak pernah bertemu lagi. Aku pun nyaris lupa tentang penglihatannya itu sampai pada suatu hari yang mendung di akhir Januari.

Jam tanganku menunjuk angka satu. Mestinya panas matahari sedang berada di puncaknya. Tapi mendung tebal bergelayut di langit kota. Belum sampai hujan, hanya gerimis tipis, jadi aku belum mau memakai mantel hujan melapisi jaket kulit saat memacu sepeda motor ke arah indekost Rara, adik semata wayangku ke arah selatan kota. Usia kami hanya terpaut dua tahun jauhnya, jadi keakraban kami lebih mirip sahabat daripada kakak adik.

Kami tidak sekampus. Jarak rumah dan kampusnya cukup jauh, jadi Rara meminta izin pada orang tua untuk menyewa kamar indekost cewek di salah satu rumah penduduk. Kost seperti itu banyak bertebaran di sekitar kampus. Dia berbagi biaya dengan salah satu teman seangkatan yang juga teman se-SMA-nya. Hitung-hitungannya, ongkos transport plus makan siang lebih mahal daripada biaya kost. Juga lebih menunjang kenyamanan jika ingin mengaso, karena kadang-kadang ada kuliah pagi, siang break, lalu sore sambung kuliah lagi.

Bapak dan ibu pun mengizinkan dengan catatan Sabtu-Minggu harus tetap pulang ke rumah. Rara setuju. Aku pun dapat tugas tambahan jadi "polisi". Maksudnya harus sering-sering main ke kostnya, untuk memastikan si tuan putri ini baik-baik saja.

Aku baru saja bertengkar dengan Almirah. Kami sudah hampir setahun ini pacaran, tapi kalau dipikir-pikir belakangan ini kami lebih sering ribut daripada akur. Mungkin selain untuk menghindari hujan yang turun sebentar lagi, sisa-sisa emosi ini juga yang membuat aku menggeber motor seperti orang kesetanan.

40 menit setelah meninggalkan fakultas teknik, aku sudah parkir di rumah kost Rara. Rumah kost berlantai dua ini cukup luas. Keluarga pak haji, empunya kost, tinggal di lantai satu. Sementara di lantai dua ada empat kamar yang masing-masing berukuran 3 meter x 4 meter untuk disewakan ke anak kost. Ada dapur, ruang cuci jemur dan kamar mandi bersama di bagian belakang lantai dua. Kemudian terdapat tangga beton yang langsung menghubungkan beranda atas dengan parkiran motor di samping rumah.

Saat hendak meniti anak tangga, Rara muncul dari atas. Dia tersenyum manis. Kunciran rambut sebahunya menari-nari seirama dengan langkahnya menuruni tangga.

"Mau kemana?" tanyaku.

"Ke warung depan sebentar. Naik saja, pintu kamar tidak terkunci," sahutnya. Setelah berpapasan dengannya, aku naik ke beranda atas. Kamar Rara dan Aisyah, teman sekamarnya, berada paling ujung dekat dapur. Aku harus melewati koridor yang memisahkan kamar bagian kanan dan kiri untuk sampai ke sana. Saat kami berkirim pesan tadi,  Rara bilang Aisyah ada jadwal kuliah siang sampai sore, jadi aku bebas sekalian tidur siang di kost kalau ingin.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN