Mohon tunggu...
Chia
Chia Mohon Tunggu...

Menanti Kejujuran, Berharap Kepastian...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

[Valentinsiana] Taman Menteng, Saksi Bisu Benci dan Rindu

15 Februari 2014   06:36 Diperbarui: 24 Juni 2015   01:48 0 2 6 Mohon Tunggu...

Prolog

Jika boleh menilai, Taman Menteng merupakan salah satu dari tiga tempat yang sangat berkesan. Mungkin tidak akan dilupakan sepanjang hidupku. Tentunya, selain Rumah Sakit Budi Kemuliaan dan Terminal Lebak Bulus. Itu karena di Taman Menteng bermula sebuah kisah kasih yang tak sampai. Tepatnya, berakhir tanpa kata selesai. Suatu sore di pertengahan bulan Phalguna, aku bertemu dengannya. Sebuah perjumpaan tak terduga. Mengalir begitu saja layaknya penggalan sajak Rubaiyat dari Ommar Khayam. Namun, sebagaimana roda kehidupan, tentu tak bisa ditebak. Terkadang, kencang, pelan, jalan di tempat, bahkan mundur. Seperti itulah kisahku dengan Amanda dimulai. Tidak seperti sinetron yang selalu berujung happy-ending.

* * *

"Aku heran dengan dirimu. Kenapa tidak bosan dengan taman ini. Selain rumah kaca, apalagi yang membuat tempat ini sangat berkesan?" Amanda membuka percakapan. "Tidak ada. Sebenarnya sih sama saja. Baik tempat ini atau Surapati. Toh semuanya sama-sama taman. Bedanya, ya tempat ini dahulu bekas stadion Persija Jakarta," ujarku tersenyum. "Yakin? Tidak ada yang disembunyikan?" "Tidak. Apa untungnya berbohong?" "Aneh?" "Kenapa harus aneh?" "Ya, kamu aneh. Menyukai sesuatu yang di mata orang tidak terlalu penting." "Selain orangtua dan keluarga, bagiku dirimu yang terpenting." "Mulai deeh..." Amanda menyunggingkan senyum manisnya dengan lesung pipi nan menawan sambil menggenggam erat tanganku. Kami pun berkeliling menikmati rimbunnya bunga di balik rumah kaca tersebut. Dari wajah gadis berusia lebih dari seperempat abad itu, terpancar rasa penuh penasaran atas kesukaanku pada Taman Menteng ini. Bukan bermaksud menyembunyikan 'sesuatu'. Sebab, rahasia akan kesukaanku pada taman ini, karena di sinilah aku pertama kali bertemu dengannya. Dan aku berharap, di tempat ini jua kami melanjutkan ikatan hingga sang tempo memisahkan. Meski diriku menyadari, bahwa manusia hanya bisa berencana. Tapi yang menentukan, Sang Khalik. Dari arah parkiran terdengar alunan gitar pengamen. Sayup-sayup, suara tersebut bersahutan dengan gemuruh petir yang ditandai gelapnya langit. "Aku bisa membuatmu Jatuh cinta kepadaku Meski kau tak cinta Beri sedikit waktu biar cinta datang karena telah terbiasa..."

* * *

Satu windu berlalu sejak pertemuan itu. Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Setidaknya bagi diriku yang sudah dua kali melewati momen penting di Piala Dunia. Pejabat pemerintahan telah berganti. Begitu juga dengan situasi di taman ini kian kotor dan tak terawat. Sampah bertebaran di mana-mana. Coretan piloks hampir terdapat di setiap gedung. Namun, hanya ada satu yang tak berubah: Perasaan diriku terhadapnya. Setidaknya, hingga saat ini rasa itu masih tersimpan rapih di hati.. "Setiap Sabtu selalu di sini? Apa tidak bosan?" Sahabatku Len, bertanya. "Bosan itu pasti. Tapi hanya sementara. Kecuali banjir dan sakit, aku absen di taman ini". "Apa karena tempat ini mengingatkamu kepada dirinya?" "Mungkin". "Kenapa mungkin? Tidak beranikah dirimu berterus terang menjadi pasti?" "Bagiku, di dunia ini tiada yang pasti selain ketidakpastian itu sendiri".

"Dari dulu kamu tidak pernah berubah. Selalu bisa menutupi apa saja yang sedang bergejolak di pikiranmu, terutama yang ada di hatimu".

Len, salah satu kawan terdekatku dan juga Amanda, menarik nafas. Tatapan mata yang tadinya penuh selidik menjadi redup yang kemudian dilanjutkan, "Kenapa harus mengingat dirinya? Bukankah dirinya sudah bahagia bersama kedua anak dan suaminya di Torino? Begitu juga dengan kita...". "Kita?".

Secepat kilat aku menoleh,"Maksudnya?".

"Maaf. Aku keterlepasan bicara". "Tunggu, kamu bisa melanjutkan perkataanmu yang tadi? Kalaupun tidak apa juga tidak masalah.. Setidaknya, kamu sudah jujur." Len seolah ingin mengalihkan pembicaraan lain."Boleh aku bertanya?" "Tentang?" "Itu pun kalo dirimu mau menjawab..." "Silakan." "Apa dirimu masih membenci Amanda yang telah kabur? Maksudnya, meninggalkan dirimu saat dalam posisi sulit?". "Aku tidak bisa jawab." "Baiklah, aku mengerti. Kalo begitu kita bicara soal yang lain". "Maaf Len. Bukan bermaksud enggan menjelaskan. Sumpah, aku sendiri tidak bisa menjawabnya. Apakah aku membencinya atau malah sangat merindunya. Meski, rasa itu berbeda antara sekarang dan delapan tahun silam". "Maaf, apa dirimu menyesal gagal mendapatkannya?" "Tidak juga. Buat apa menyesalinya?". "Serius? Delapan tahun kamu sia-siakan dengan bersenandung hingga terus mengunjungi taman ini. Padahal di sana, bisa saja Amanda sedang memadu kasih dengan 'pangeran impiannya' itu." "Tidak. Sungguh aku serius." "Maksudnya. Bisakah menjelaskan, Kresna?" "Kamu dari dulu sampai sekarang tak pernah berubah ya Len. Tetep bawel, hehe...", keduanya tergelak.

"Jujur, aku tidak menyesal. Sebab, meski gagal mendapatkan dirinya secara fisik. Tapi, aku mampu memiliki hatinya. Setidaknya, itu berdasarkan perasaanku selama ini yang meyakini perkawinannya sama sekali tidak bahagia. Apakah ini benci atau rindu, diriku pun tidak mengerti. Pastinya, antara kami masih terhubung yang namanya cinta", lanjut Kresna.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x