PETRUS PIT SUPARDI
PETRUS PIT SUPARDI Aktivis Pemberdayaan Masyarakat Desa (Kampung) di Provinsi Papua

Saya lahir di Ohe, Sikka, Flores, NTT dan besar di Merauke Irian Jaya (Papua). Menyelesaikan pendidikan dasar (SD-SMA) di Merauke. Kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur, Abepura, Jayapura. Saat ini aktif dalam gerakan pemberdayaan masyarakat kampung bersama program LANDASAN Papua di Kabupaten Asmat.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Artikel Utama

Perjuangan Perempuan Papua, Yuli Maniagasi Mengelola Pasar Agats

9 Januari 2019   04:10 Diperbarui: 9 Januari 2019   16:08 1858 5 1
Perjuangan Perempuan Papua, Yuli Maniagasi Mengelola Pasar Agats
Yuli Maniagasi, Kepala Pasar Agats, Asmat. Dok. Pribadi.

"Dalam melaksanakan tugas, saya memegang prinsip hidup jujur yang diwariskan orang tua kami. Pernah ada pedagang yang mau bayar saya supaya bisa mendapatkan tempat berjualan di pasar, tetapi saya tolak. Saya tidak bisa dibeli dengan uang," tegas Yuli Maniagasi menuturkan liku-liku tantangan yang dihadapinya dalam mengelola pasar Agats, Asmat, 9 Oktober 2018 silam.

Suasana di kantor pasar Agats tampak ramai. Beberapa petugas sedang mengerjakan laporan. Alunan musik membahana memenuhi seluruh isi pasar. Para penjual dan pembeli dihibur dengan berbagai lagu, baik dari Papua maupun dari luar Papua. Di dalam ruangan berukuran 4x6 meter itulah, Yuli dan stafnya mengendalikan pasar Agats.

"Saya ada ruangan khusus untuk kepala pasar, tetapi saya memilih bekerja di ruangan ini bersama para staf. Saya mau langsung kerja bersama dengan staf supaya bisa selesai sesuai target waktu yang telah ditentukan," tutur Yuli.

Sejak Desember 2017, Yuli mendapat kepercayaan sebagai Kepala Seksi Pendataan dan Pendaftaran pada Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Asmat. Sejak menduduki posisi tersebut, dirinya menggerakkan seluruh stafnya untuk melakukan pendataan dan pendaftaran terhadap semua wajib pajak.

"Kami melakukan sosialisasi Pajak Bumi dan Bangunan dan pendataan objek penerimaan pajak di Kabupaten Asmat. Kami juga mendata semua wajib pajak yang belum terdaftar supaya mereka bisa berkontribusi untuk pembangunan Asmat.

Biasanya, ada wajib pajak yang usahanya tidak lancar, pada waktu kami mau data, mereka marah-marah, tetapi saya menjelaskan dengan tenang dan dari hati ke hati, sehingga mereka bisa menerimanya," tutur perempuan yang lahir di Senggo, pada Oktober 1987 ini.

Berbekalkan pengalaman menjadi Putri Asmat dan Putri Persahabatan Provinsi Papua 2011, Yuli menggunakan teknik komunikasi yang menyentuh sukma setiap pribadi yang dilayaninya.

"Saya biasa bicara dengan semua orang yang saya layani dengan penuh perhatian. Saya mendengarkan keluh kesah mereka. Kemudian, saya menjelaskan maksud dan tujuan saya kepada mereka sehingga seluruh pelayanan saya kepada masyarakat bisa diterima," jelasnya.

Kemampuan Yuli menjadi Kepala Seksi Pendataan dan Pendaftaran mengantarnya pada posisi sebagai kepala Pasar Agats. Pada bulan Februari 2018, ia ditunjuk oleh Kepala BPKAD Asmat, Frans Sinurat sebagai kepala Pasar Agats.

"Waktu saya ditunjuk sebagai Kepala Pasar Agats, saya tolak karena merasa diri tidak mampu, tetapi Pak Frans percaya bahwa saya bisa sehingga saya menerimanya dengan sepenuh hati," kisah Yuli.

Yuli menuturkan bahwa ketika pertama kali beraktivitas di kantor pasar Agats, ia mengumpulkan semua stafnya. Ia minta supaya para staf berlaku jujur. Ia menegaskan bahwa tidak ada lagi sistem jual beli tempat berjualan. Setiap pedagang yang mau mendapatkan tempat berjualan di pasar harus mengikuti mekanisme yang sudah ditetapkan yaitu mendafatar dan mengikuti pelelangan secara terbuka.

"Pernah ada pedagang yang datang bawa amplop kepada saya. Mereka minta supaya dapat tempat berjualan di pasar Agats ini. Saya tolak dengan tegas. Saya minta semua orang harus mengikuti aturan yang ada. Silakan daftar dan ikut pelelangan terbuka," tegas perempuan yang menyelesaikan Sekolah Dasarnya di SD Inpres Atsj ini.

Yuli menuturkan bahwa kehadirannya di pasar Agats merupakan amanat rakyat. Ia berkomitmen melayani semua masyarakat di pasar secara adil. Sebagai perempuan Papua, ia mau membuktikan bahwa perempuan Papua bisa menjadi pemimpin bagi masyarakatnya.

***

Yuli sedang berbicara dengan Mama-Mama Pedagang Asli Papua di Pasar Mama-Mama Papua di Agats. Dok. Pribadi.
Yuli sedang berbicara dengan Mama-Mama Pedagang Asli Papua di Pasar Mama-Mama Papua di Agats. Dok. Pribadi.
Terkait proses transaksi di pasar Agats, Yuli mengatakan bahwa  orang Papua harus bersaing dengan orang pendatang yang memiliki modal dan keterampilan berdagang. Ia juga menjelaskan bahwa untuk memotivasi pedagang asli Papua, khususnya Mama-Mama Papua yang berdagang, Bupati Asmat, Elisa Kambu memberikan modal usaha.

"Untuk di Asmat, Bupati kasih modal. Satu Mama, 3 juta. Minggu lalu, Bupati ada bantu 20 Mama. Kalau di Atsj satu Mama  5 juta. Kami ikuti perkembangan Mama-Mama pedagang ini," tuturnya.  

Sebagai perempuan Papua, Yuli mengatakan bahwa Mama-Mama Papua biasa merasa minder harus bersaing dengan pedagang pendatang, tetapi dirinya memberikan motivasi supaya Mama-Mama Papua tetap berjuang.

"Saya biasa bilang kepada Mama-Mama bahwa berkat pasti akan datang. Dunia pasar ada untung dan rugi. Mama-Mama harus sabar dan tekun. Mama-Mama jual sayur organik. Orang akan belanja di Mama-Mama punya jualan. Saya selalu memberikan motivasi supaya Mama-Mama harus berjuang dan tidak putus asa," tutur Yuli.

Yuli bersyukur bahwa pemerintah daerah Kabupaten Asmat telah membangun pasar khusus untuk Mama-Mama Papua di Agats.

"Saya jelaskan kepada Mama-Mama Papua bahwa pemerintah sudah kasih pasar khusus untuk Mama-Mama di Asmat, sehingga ada perlindungan untuk Mama-Mama. Di pasar ini, Mama-Mama berjualan secara gratis, tanpa bayar retribusi," tambahnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3