Mohon tunggu...
PERHUMAS Muda
PERHUMAS Muda Mohon Tunggu... Administrasi - Organisasi Profesi Humas

Perhimpunan Hubungan Masyarakat Muda Indonesia. Jakarta Raya-Bandung-Yogyakarta-Malang-Medan-Batam-Surakarta(Solo)-Semarang-Riau-Pawitanditogo (Pacitan,Ngawi,Magetan,Madiun, dan Ponorogo)-Aceh-Lampung-Denpasar Bali | Instagram: @perhumasmuda | Email: perhumasmudaindonesia@gmail.com | Twitter: @perhumasmuda

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Menjawab Tantangan Komunikasi Efektif di Era New Normal

22 Juli 2020   12:00 Diperbarui: 22 Juli 2020   11:53 1706
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Masifnya dampak pandemi Covid-19 mampu meluluh lantakan kehidupan normal masyarakat Indonesia. Hal ini tentu menggerus energi, emosi, ide seseorang dan merubah struktur, rencana, narasi serta rutinitas sosial yang ada. Mengatasi pandemi ini bukanlah suatu hal yang mudah, diperlukan sinergi dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah dengan masyarakat. Keduanya perlu menjalankan perannya masing-masing sebaik mungkin.

Empat bulan telah berlalu, berbagai upaya pemerintah dan elemen masyarakat pun telah banyak dilakukan guna mengantisipasi dan mencari solusi dari pandemi Covid-19. Salah satu kebijakan yang sebelumnya dilakukan adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai wilayah di Indonesia. Kebijakan ini pada akhirnya membawa masyarakat pada situasi "new normal" dimana mereka dituntut untuk dapat beraktivitas seperti biasa dengan menyesuaikan peraturan yang ada (Mashabi, 2020).

Saat ini karakteristik kondisi kehidupan new normal masyarakat Indonesia berfokus pada stay at home lifestyle, back to the bottom of the pyramid, go virtual and emphathic society (Irawati, 2020). Aktivitas seperti meeting, online interview, pembelajaran jarak jauh, dan lainnya yang dilakukan via daring guna memenuhi kebutuhan pun mulai menjadi sesuatu yang umum dilakukan. Hal ini menunjukan bahwa telah terjadi perubahan yang sangat besar dalam aktivitas sehari-hari khususnya komunikasi yang terjadi di masyarakat.

New normal bukanlah sebuah momok yang perlu ditakutkan, melainkan harus dilihat sebagai sebuah peluang. Perlu diingat bahwa jauh sebelum ditemukannya internet, Aristoteles adalah orator ulung yang mampu menyampaikan pesannya dengan efektif. Aristoteles sejatinya paham bahwa tujuan utama yang ingin dicapai saat berkomunikasi adalah mereka ingin orang lain paham dengan apa yang disampaikannya. Maka dari itu, agar dapat menyampaikan pesan dengan efektif pada situasi new normal ini dibutuhkan kemampuan dalam menggunakan teknologi komunikasi, digital self-branding, dan juga pemahaman komunikasi yang back to the basic.

Kemampuan menggunakan teknologi komunikasi menjadi sesuatu yang penting di era new normal. Pasalnya tetap terkoneksi dengan orang lain telah menjadi kebutuhan utama saat ini. Terpisahkan oleh jarak yang jauh dan perbedaan waktu dalam berkomunikasi dapat diatasi dengan memanfaatkan aplikasi dan media sosial yang ada. Aplikasi yang saat ini banyak digunakan ialah Zoom dan Google Meet. Pasalnya kedua aplikasi ini mampu menghubungkan puluhan hingga ratusan orang sekaligus dalam conference call dan juga video conference. Sementara itu, tools yang banyak digunakan untuk pekerjaan tim ialah Google Drive, dimana di dalamnya terdapat Google Docs, Google Slides, dan Spreadsheet.

Media sosial sekarang ini juga tak hanya digunakan oleh individu tetapi juga perusahaan- perusahaan besar. Bahkan akhir-akhir ini banyak sekali pengguna Instagram yang melakukan Live Instagram khususnya di sore hari. Hal ini menunjukan bahwa berkomunikasi tidak hanya menjadi kebutuhan individu di masa pandemi ini tetapi telah menjadi kebutuhan perusahaan untuk terus terhubung dengan konsumennya. Pihak-pihak tersebut menyadari bahwa dengan memanfaatkan fitur-fitur yang ada, mereka dapat dianggap eksis, up-to-date dan peduli di masa new normal ini.

Maka tidak heran bila dalam beberapa hari kedepan masyarakat Indonesia dapat menyaksikan tayangan dokumenter di salah satu stasiun televisi Indonesia. Pasalnya hal ini merupakan buah manis dari bentuk kerjasama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Netflix yang diresmikan bulan Januari 2020 lalu (Damar, 2020). Usut punya usut, langkah ini diambil guna mengganti waktu belajar di sekolah yang hilang sekaligus menarik minat belajar peserta didik dengan cara yang menyenangkan (Sugihartono, 2020). Netflix sendiri merupakan aplikasi online streaming asal California yang menyajikan film dari berbagai genre.

Melalui pemanfaatan teknologi komunikasi dan interaksi yang rutin dilakukan, kepercayaan orang-orang disekitar pun dapat terbangun. Sebab untuk mencapai tujuan dari komunikasi jarak jauh, sering dibutuhkan beberapa pengorbanan. Pengorbanan yang dimaksud adalah upaya untuk meluangkan waktu dan secara rutin menjalin komunikasi melalui platform komunikasi daring dan media sosial.

Penguasaan teknologi komunikasi yang baik juga dapat meningkatkan peluang individu dan kelompok untuk menjangkau pihak-pihak yang dituju. Melalui teknologi ini pula setiap pihak dapat meningkatkan upaya untuk membantu sesama secara online dengan cara yang menarik. Online services pun dianggap lebih mudah dan efisien.

Terbatasnya kegiatan tatap muka di masa new normal telah meningkatkan urgensi dari pentingnya membangun digital self-branding. Digital self-branding ini utamanya dibutuhkan bagi mereka yang saat ini tengah aktif dalam mencari pekerjaan dan pengalaman sebab para rekruter perusahaan dan organisasi saat ini banyak melakukan seleksi pegawai lewat internet dan media sosial. Seperti platform LinkedIn yang saat ini mengalami lonjakan tajam penggunanya dan kebanyakan dari mereka sedang mencari pekerjaan di masa pandemi ini (Wijaya, 2020).

Digital self-branding yang baik tidak hanya diukur melalui pengalaman seseorang yang sangat banyak namun juga melalui bagaimana seseorang mampu menceritakan hal-hal tersebut dengan baik. Melalui cerita atau konten yang menarik dan diniminati oleh banyak orang, digital self-branding perlahan dapat terbangun. Maka dari itu penting untuk membangun reputasi yang baik dari sekarang. Kelebihan dalam bercerita tentang diri sendiri ini pada akhirnya dapat menjadi sebuah kebiasaan komunikasi yang baru khususnya dalam memanfaatkan platform media sosial.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun