Pepih Nugraha
Pepih Nugraha profesional

Gemar catur dan mengoleksi papan/bidak catur. Bergabung dengan Harian Kompas sejak 1990, hari-hari diisi membaca, menulis, dan bersosialisasi. Selain sharing menulis di funpage Facebook "Nulis bareng Pepih" dan situs pribadi http://pepnews.id, mempraktikkan dan mengobarkan citizen journalis dan hybrid journalism. Bermimpi lahirkan para jurnalis/penulis kreatif yang andal sebagai sebuah obsesi. Upaya dan langkah untuk mewujudkan obsesi itu dengan mengajar dan memberi pelatihan menulis/jurnalistik di dalam dan luar negeri, serta menjadi juri berbagai lomba menulis.

Selanjutnya

Tutup

Media headline highlight

Bukan Saatnya Senjakala Kami

5 Januari 2016   18:40 Diperbarui: 11 Januari 2016   17:28 2052 57 35
[caption caption="Ilustrasi - koran (Kompas)"][/caption]Setiap kali membaca artikel mengenai senjakala media cetak, saya berusaha menahan diri untuk tidak sensi. Bagaimana mungkin saya bisa menuruti kata hati dan tanda pagar #jangansensi yang menjadi ciri khas saya di media sosial Facebook kalau senjakala media cetak terkait dengan nasib saya sendiri. Benar, nasib saya selaku orang media cetak alias koran.

Sekarang mendengar kata-kata "senjakala" saja (tanpa embel-embel "media" apalagi "media cetak"), sensi saya berubah menjadi tensi tinggi. Saya maunya marah, sebel kepada para analis seperti Mas Hilman Fajrian ini, yang seakan-akan menjadikan koran di mana saya bekerja, sebagai objek kupasan. Kasarnya, seolah-olah koran di mana saya bekerja dijadikan pesakitan, disisik dan ditelisik dari berbagai sisi. Tetapi tatkala Pak Bre Redana, senior saya mengungkapkan perasaannya dengan pertanyaan menohok "Inikah Senjakala Kami?" di Harian Kompas edisi Minggu, kemarahan saya urungkan, tensi saya turunkan.

Bagaimanapun, Pak Bre adalah senior dan saya sangat menghormatinya. Tidak pantaslah saya memperbincangkannya. Sementara kepada Mas Hilman, meskipun tulisannya terasa sebagai menyiram luka terbuka dengan jeruk nipis, toh saya harus berterima kasih atas kesediaannya berbagi pemikiran. Saya anggap Mas Hilman sebagai anggota Ombudsman gratisan bagi koran di mana saya bekerja, yang "status"-nya saya samakan dengan Daniel Dhakidae, Ashadi Siregar, Faisal Basri, Nurul Agustina, dan Ignatius Haryanto sebagai anggota Ombudsman yang sesungguhnya. Bedanya, para anggota Ombudsman yang saya sebutkan barusan dibayar untuk bekerja secara fisik dalam memberi masukan dan kritik, sementara Hilman Fajrian bekerja di "awan", di jagat maya dengan menuliskan masukannya di blog sosial.

Perlu saya singgung salah seorang anggota Ombudsman, yaitu Ignatius Haryanto, yang disebut-sebut Pak Bre dalam tulisan "Senjakala Media"-nya. Sebagai angota Ombudsman, Mas Har, demikian saya biasa memanggilnya, didapuk untuk menyiapkan paparan singkat mengenai masa depan koran, termasuk Harian Kompas, tentunya. Karena saya termasuk jurnalis yang selalu hadir dan jarang melewatkan diskusi forum Ombudsman dengan petinggi koran, saya menyimak betul paparan Mas Har dengan judul "Senjakala Suratkabar di Indonesia?"

Rupanya, kata kunci "senjakala" inilah yang kemudian dijadikan judul artikel yang gemanya memantul sampai menembus dinding Internet dan sosial media itu. Banyak yang sudah membahas konten tulisan Pak Bre itu dan saya tidak berminat membahasnya lagi di sini. Hanya saja kalau boleh saya sedikit memberi bocoran, artikel itu hadir atas pertanyaan Pak Bre sendiri kepada Mas Har. "Bicara soal senjakala, saya ingin tahu persisnya kapan koran kita ini mati?" tanya Pak Bre lugas tanpa tedeng aling-aling. Tentu saja yang dimaksud "koran kita" tidak lain Harian Kompas, tempat saya dan Pak Bre bekerja.

Dalam rapat dan diskusi antarwartawan, dialektika sengit semacam yang dilemparkan Pak Bre sudah terlalu biasa, tidak terlalu mengejutkan. Malah saya melihat dan merasakan, para anggota Ombudsman itulah yang "terkejut" mendengar pertanyaan Pak Bre. Beberapa tidak siap dengan jawaban pasti atas pertanyaan "kapan persisnya" Kompas mati yang dilempar Pak Bre dengan ringan tanpa beban, sebagaimana kesehariannya. Pak Daniel misalnya menjawab sambil berkelakar, "Ya tentu suatu waktu bakal mati, tetapi mungkin jauh setelah You pensiun!"

Bahkan, Ignatius Haryanto sendiri sebagai pemateri tidak mampu menjawabnya secara pasti. Bagi saya ini biasa saja, tidak terlalu mengejutkan. Yang mengejutkan justru ketika Pak Bre menulis "Inikah Senjakala Kami?" di Kompas beberapa hari kemudian. Mas Har memang membuka paparannya dengan menyebut koran dan majalah yang tutup seperti Sinar Harapan, Majalah Detik, Jakarta Globe, Harian Bola, dan belasan majalah di Group Gramedia, disusul dengan pertanyaan dialektik, "Apakah ini akhir dari peradaban surat kabar cetak saat ini?"

Jujur, saya menikmati paparan Ignatius Haryanto yang meskipun terasa menyakitkan, tetapi banyak memberi masukan dengan membandingkan apa yang terjadi di Indonesia dengan di dunia luar, khususnya Amerika Serikat sebagai "kiblat" jurnalisme. Masukan yang bagi saya terasa "make sense" kalau diterima dengan lapang dada dan berbesar hati. Sejumlah faktor yang membuat tiras koran tergerus antara lain juga disampaikan, antara lain akibat perkembangan teknologi digital, pertumbuhan ekonomi yang melambat, kebiasaan membaca yang beralih ke smartphone, dan punahnya harapan akibat tidak terbentuknya generasi muda pembaca masa depan.

Bagi saya yang paling menarik adalah saat Igantius Haryanto mempertanyakan nasib media cetak di Amerika Serikat sebagai pembanding dengan "nasib" koran di Indonesia. Rujukannya antara lain buku karya Leonard Downie Jr dan Michael Schudson berjudul "Reconstruction of American Journalism", CJR (2009). "Apa yang kita bisa pelajari dari pengalaman Amerika?" tanyanya kepada hadirin yang sebagian besar jurnalis Kompas.

Ignatius Haryanto kemudian memaparkan beberapa petikan Rekonstruksi yang terdapat dalam buku itu tersebut, yang kemudian saya kutip lengkap agar memberi gambaran sesungguhnya yang terjadi dalam dunia persuratkabaran.

Rekonstruksi (1), dari situasi saat ini apa yang hilang, apa yang terjadi pada jurnalisme dalam situasi sekarang, dan yang lebih penting; apa yang harus dilakukan dalam lanskap yang baru ini untuk mempertahankan atau memelihara pemberitaan yang independen, orisinal dan kredibel?

Rekonstruksi (2), reporting menjadi lebih partisipatoris dan kolaboratif antara para wartawan dengan para freelancers, staf di universitas, para mahasiswa dan masyarakat umum. Selain itu, ada sejumlah untuk memelihara liputan yang independen dengan menerima sokongan dari lembaga filantrofi dan bahkan lembaga pemerintah. Sedang konsep pemberitaan berubah; pers di Amerika banyak yang menaruh perhatian pada berita di luar negeri dibanding berita lokal mereka sendiri.

Rekonstruksi (3), apa makna dari peliputan berita yang independen? Apakah ia merupakan suatu kebutuhan publik yang diutamakan? Pertanyaan lain, apakah peliputan berita yang independen bisa disamakan dengan kebutuhan dasar yang diperlukan masyarakat seperti halnya 'udara yang bersih, jalan yang nyaman, sekolah yang bagus, dan juga masyarakat yang sehat'?

Rekonstruksi (4), Internet membuka beberapa kemungkinan baru. Los Angeles Times pada 2009 memenangkan hadiah Pulitzer (melalui Bettina Boxall dan Julie Cart) untuk kategori "explanatory reporting" yang banyak menggunakan bahan dari Internet untuk membuat laporan soal intensitas kebakaran yang terjadi di California. Boxall memberi catatan, "Internet membuat penelitian dasar menjadi lebih cepat, mudah, dan kaya, tetapi hal itu tidak bisa menggantikan wawancara (mendalam), berada di sana (being there), atau narasi." Istilah "Being there" ini kemudian muncul dalam tulisan Bre Redana.

Rekonstruksi (5), tidak semua koran dalam kondisi terancam, mereka yang memfokuskan pada pemberitaan lokal masih hidup dan bertahan. Sejumlah koran mencoba menerapkan pembayaran untuk pembaca melihat isi media mereka, tetapi ada kecenderungan dari para pembaca yang merasa bahwa "informasi yang ada di internet itu gratis". Di sini belum ditemukan model bisnis yang pas untuk media online dan jika hal ini ditumpukan pada para filantrofis untuk membiayai informasi penting tersebut, dananya sangat besar.

Bagi saya pribadi sebagai jurnalis yang mempraktikkan Citizen Journalism dengan kontribusi blogger di dalamnya, Rekonstruksi (6) menjadi sangat menarik. Disebutkan, sejumlah surat kabar berkolaborasi untuk menghasilkan liputan bersama guna mengurangi ongkos peliputan. Diingakan pula agar tidak melihat para blogger sebagai ancaman terhadap media mainstream, tetapi harusnya dilihat sebagai satu simbiosis.

"Para blogger ini bisa menjadi bagian untuk memperluas jangkauan berita media mainstream dan ia bisa memberikan masukan, menambahkan, bahkan menjadi pengecek fakta lapangan," kata Ignatius. Ia mencontohkan adanya kelompok Talking Point Memo yang dikelola oleh John Marshall. yang pada tahun 2008 memperoleh hadiah George Polk Award untuk investigasi pemecatan politik Jaksa Agung AS di era George Bush.

Rekonstruksi (7), pada tahun 2008 Kelly Golnoush Niknejab, mahasiswa Columbia University membuat blog bernama Tehran Bureau yang berangotakan orang-orang di Iran dan juga para eksil di luar negeri. Tehran Bureau ini setahun kemudian bekerjasama dengan program televisi Frontline dan mendapat dana untuk pengelolaan web mereka, kemudian membuat film dokumenter.

Rekonstruksi (8) juga menarik buat saya, karena Hilman Fajrian bicara soal Ariana Huffington di awal tulisannya. Di sini dipaparkan kisah sukses Huffington dan Tina Brown yang masing-masing mengelola web agregator Huffngton Post dan The Daily Beast. Meski ada pertanyaan penting terkait soal hak cipta artikel yang diagregasi, namun Hufpost turut menyumbang dana 500.000 dollar AS untuk peliputan investigasi dari American News Project. Para mahasiswa jurnalistik pun bisa berkonstribusi untuk menulis hal yang spesifik tentang di mana mereka tinggal dan bisa bekerjasama dengan media mainstream.

Rekonstrulsi (9) menyebutkan, subsidi pemerintah ataupun lembaga filantrofi adalah sesuatu yang bisa dipertimbangkan. Meski situasinya terlihat chaotic, namun ada sejumlah peluang yang bisa dikembangkan dalam melakukan Rekonstruksi Jurnalisme Amerika tersebut.

Pelajaran berharga

"Apa pelajaran yang bisa dipetik untuk Harian Kompas?" Ignatius Haryanto kemudian melempar tanya. Tentu saja sebagai salah satu anggota Ombusdman yang bekerja untuk Kompas, Ignatius menyampaikan 9 poin masukan konstruktif yang intinya adalah, Kompas sebagai media cetak tidak perlu berkecil hati dan takut berlebihan atas perubahan cepat yang tengah terjadi dalam dunia media mutakhir ini. Karena ke-9 masukan itu hanya khusus ditujukan untuk koran di mana saya bekerja dan masuk dalam kategori "rahasia perusahaan", mohon maaf saya tidak bisa menyampaikan detail-detailnya. 

Sebagai "orang koran", saya berkepentingan menjaga eksistensi Harian Kompas yang bermediakan kertas. Benar bahwa saya mengembangkan online dan bahkan media sosial Kompasiana, tetapi bukan berarti saya turut melemahkan, atau kasarnya kalau itu terjadi, mempercepat kematian "media kami". Saya dan kawan-kawan pendiri Kompasiana lainnya, almarhum Taufik Mihardja dan Edi Taslim, membangun blog sosial itu dari nol yang boleh saja eksistensinya masih sulit diterima oleh beberapa kalangan bahkan di lingkungan "media kami" sendiri, tetapi media seperti Kompasiana adalah keniscayaan di tengah pertanyaan mengenai nasib media cetak.

Kompasiana yang menghimpun lebih dari 300.000 blogger di dalamnya belum seutuhnya diterima sebagai sebuah "produk baru" atau "produk turunan" yang seharusnya diperlukan di saat media cetak kehilangan popularitasnya, sebagaimana direkonstruksi oleh Leonard Downie dan Michael Schudson dan bahkan disinggung Hilman Fajrian. "Jangan melihat para blogger sebagai ancaman terhadap media mainstream, tetapi harusnya dilihat sebagai satu simbiosis," demikian Rekonstuksi (6) mengingatkan.

Semua peringatan untuk mempertahankan eksistensi koran sudah didengungkan, semua nasihat sudah dihamburkan para pakar dan praktisi demi mempertahankan kelangsungan media cetak. Yang diperlukan sekarang adalah pemahaman para petinggi media atau para pemiliknya dalam "membaca" sasmita alam media yang terus berkembang. Tidak kalah penting adalah kehendak melepas ego kejayaan cara kerja jurnalisme masa lalu sebagai "milik kami" dan menganggap kehadiran media baru dengan cara kerjanya yang "aneh" sebagai "bukan kami".

Tidak selayaknya "kami" dan "mereka" diperuncing dan dipertentangkan. Zaman yang berubah dan the willing to read konsumen adalah "ayat" yang perlu ditafsir ulang dengan baik. Saya tidak ingin membahas kengerian-kengerian yang menyesakkan dada sebagaimana diungkapkan Hilman Fajrian bahwa Facebook dan Twitter yang tidak punya konten turut mempercepat kematian media cetak yang ironisnya justru memproduksi konten. Semoga itu hanya sekadar "ilusi".

Selama tujuh tahun terakhir ini boleh dibilang saya telah membuat sekoci kecil bernama Kompasiana. Meski cuma sekoci kecil untuk sebuah kapal besar bernama Harian Kompas, toh saya tidak berharap sekoci kecil yang kurang berarti itu lekas digunakan, sebab bagaimanapun saya bagian dari penumpang kapal besar itu. Setidak-tidaknya, sekoci itu masih bolehlah menempel di kapal besar yang akan terus melaju membelah lautan. Ombak yang menerpa kapal besar belum terlalu membahayakan meski guncangannya sudah semakin terasa. Tetapi, haluan kapal besar ini tetap melaju ke depan memecah gelombang, menghindari senjakala yang mengancam di belakang. Kami masih ingin menyongsong matahari terbit yang bersinar terang nun jauh di depan.

***

Palmerah Barat, 5 Januari 2016