Mohon tunggu...
Pepih Nugraha
Pepih Nugraha Mohon Tunggu... Jurnalis - Bergabung selama 26 tahun dengan Harian Kompas sejak 1990 hingga 2016.

Gemar catur dan mengoleksi papan/bidak catur. Bergabung selama 26 tahun dengan Harian Kompas sejak 1990 hingga 2016. Setelah menyatakan pensiun dini, hari-hari diisi dengan membaca, menulis, mengajar, dan bersosialisasi. Menulis adalah nafas kehidupan, sehingga baru akan berhenti menulis saat tidak ada lagi kehidupan. Bermimpi melahirkan para jurnalis/penulis kreatif yang andal. Saat ini mengelola portal UGC politik https://PepNews.com dan portal UGC bahasa Sunda http://Nyunda.id Mengajar ilmu menulis baik offline di dalam dan luar negeri maupun mengajar online di Arkademi.com.

Selanjutnya

Tutup

Hobby Artikel Utama

Menulis Biografi: Be a Storyteller (Part 5)

19 Agustus 2020   13:22 Diperbarui: 20 Agustus 2020   09:16 425
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi tokoh utama dalam cerita. (sumber: Pixabay,com/LisaChe)

Seluruh upas terbaik dikerahkan untuk mencari Mak dan Pak Boncel. Tetapi, usaha mereka sia-sia. Kendati seluruh pelosok kota sudah diaduk-aduk, sepasang orangtua yang ringkih dari Kandangwesi itu tidak ditemukan.

Pasukan berkuda bahkan menyusul ke Kandangwesi, tetapi di kampung halaman Boncel itupun Mak dan Pak Boncel belum kembali. Gubuk mereka yang sudah reyot kosong melompong.

Pencarian berlangsung selama dua minggu berturut-turut karena perintah Dalem Boncel harus berhasil menemukan mereka. Tetap saja, sepasang orangtua itu raib tak berbekas, entah kemana.

Di dalam kabupatian, sepekan setelah peristiwa pengusiran itu, Dalem Boncel jatuh sakit. Mula-mula demam, tubuhnya panas-dingin. Seluruh mantri kesehatan terbaik dikerahkan untuk mengobatinya, tetapi tak satu pun mantri yang bisa menyembuhkan penyakit misterius Dalem Boncel.

Pada wajah dan hampir sebagian besar tubuhnya mulai muncul bercak-bercak merah, yang makin lama makin membiru karena ternyata berisi cairan serupa nanah.

Boncel berteriak-teriak menahan rasa gatal. Sekali dia menggaruk bagian yang gatal seperti bisul kecil itu, seketika itu pula nanah ke luar dari bagian tubuh yang digaruk. Boncel menderita penyakit aneh yang tidak ada obatnya.

Karena penyakit itu takut menulari seisi kabupatian, termasuk Clara, atas prakarsa Tuan Bupati, Boncel ditempatkan di salah satu kandang kuda yang sudah lama tak terpakai. Sendirian. Kedua tangannya diikat jangan sampai digunakan untuk menggaruk, demikian pula kakinya ditambatkan pada tiang-tiang istal. Boncel dibiarkan merana tanpa teman yang menemaninya di sana, termasuk Clara.

Pada malam hari yang hening, selain terdengar rintihan menangis, Boncel sering memanggil-manggil kedua orangtuanya yang sudah terusir itu.

"Emak... ini Ocen.... kemarilah, Mak, Ocen kangen...!"

"Bapak.... ini Ocen... maafkan Ocen, Pak...!"

Kalimat yang diteriakkan Dalem Boncel dari istal kuda itu terus terdengar hampir setiap malam, memanggil-manggil Mak dan Pak Boncel. Sampai suatu hari teriakan dan jerit pilu menyayat hati itu tidak terdengar lagi.

The Series cerita kolaborasi Kompasiana.com dengan Netizen Story Menulis Biografi: Be a Storyteller Bersama Kang Pepih
HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun