Mohon tunggu...
Pepih Nugraha
Pepih Nugraha Mohon Tunggu... Bergabung selama 26 tahun dengan Harian Kompas sejak 1990 hingga 2016.

Gemar catur dan mengoleksi papan/bidak catur. Bergabung selama 26 tahun dengan Harian Kompas sejak 1990 hingga 2016. Setelah menyatakan pensiun dini, hari-hari diisi dengan membaca, menulis, mengajar, dan bersosialisasi. Menulis adalah nafas kehidupan, sehingga baru akan berhenti menulis saat tidak ada lagi kehidupan. Bermimpi melahirkan para jurnalis/penulis kreatif yang andal. Saat ini mengelola portal UGC politik https://PepNews.com dan portal UGC bahasa Sunda http://Nyunda.id Mengajar ilmu menulis baik offline di dalam dan luar negeri maupun mengajar online di Arkademi.com.

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Rahasia yang Belum Terungkap Selama Ini, Kompasiana Nyaris Dimatikan!

8 Oktober 2019   07:13 Diperbarui: 8 Oktober 2019   17:37 0 51 31 Mohon Tunggu...
Rahasia yang Belum Terungkap Selama Ini, Kompasiana Nyaris Dimatikan!
Wawancara dan diskusi dengan Ruang Baca

Saya memenuhi undangan Mbak Ana Mustamin untuk sebuah wawancara Maraja TV, "program televisi personal" yang memproduksi mata acara #RuangBaca. Karena saya punya waktunya malam hari, ya malam-malam saya menuju Cibubur untuk tapping, pengambilan gambar dan suara. Mbak Ana sendiri yang berlaku sebagai host acara literasi tersebut. Ya, saya mau hadir karena sesuai bidang saya.

Tapi sejujurnya, saya tidak tahu apa yang akan dibahas di dalam acara tersebut. Tahunya pada saat saya dikasih mike mungil yang direkatkan di bawah kerah baju, tanpa polesan "touch up" di wajah biar wajah tidak seperti raja minyak (berminyak maksudnya), tiba-tiba mbak Ana bilang, "Tentang Kompasiana, ya!"

Oalah...

Make sense sih, ga perlu didebat macam-macam. Saya jawab, "Siyaappp..."

Bagaimnapun, orang tetap saja melekatkan nama saya dengan Kompasiana, meski saya sudah undur diri hampir 3 tahun lalu dari Harian Kompas, yang sekaligus juga mundur total dari Kompasiana.

Toh masih mengingat dengan baik blog sosial yang saya dirikan itu. Pun isu buku "Kompasiana, Etalase Warga Biasa" (diterbitkan Gramedia Pustaka Utama) masih lekat dalam ingatan. Jadi saya okey-okay saja jika yang ingin dibahas tentang Kompasiana.

Sudah banyak yang saya bicarakan perihal Kompasiana. Bahkan di buku yang saya tulis itu, saya membuka bahasan dengan sebuah "drama" yang terjadi saat Rapat Reboan Harian Kompas, di mana di dalam rapat itu saya sedang menjadi "pesakitan", tersebab adanya konten Kompasiana yang bisa dianggap mencemarkan nama baik Harian Kompas. Di situlah sang editor muda nyeletuk, "Tutup saja Kompasiana!"

Sejujurnya, buku itu pun ditolak oleh Penerbit Buku Kompas (PBK) karena mungkin agak-agak berkata jujur tentang hubungan Kompasiana dan Kompas, dua tubuh yang menyatu dalam satu jiwa; jiwa saya.

Penilai layak diterbitkan-tidaknya sebuah buku di PBK harus melalui para bos di Harian Kompas yang sudah berada minimal di level redaktur pelaksana. Saya tahu tidak bakal diloloskan (padahal dua buku saya sebelumnya lolos diterbitkan PBK, yaitu "Menulis Sosok" dan "Citizen Journalism"), tapi mencoba apa salahnya.

Langit tidak berarti runtuh seketika ketika naskah buku tentang Kompasiana ditolak PBK, toh masih ada penerbit lain. Masih satu atap di Kompas-Gramedia, yaitu GPU alias Gramedia Pustaka Utama. Lolos....

Nah, di acara talkshow ringan dengan Mbak Ana itu saya mengungkapkan hal yang sebelumnya belum pernah saya ungkapkan; Kompasiana nyaris diberangus! Nyaris dimatikan!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x