Mohon tunggu...
Anwar Effendi
Anwar Effendi Mohon Tunggu... Mencari ujung langit

Sepi bukan berarti mati

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

Gedung Perjanjian Linggarjati, dari Gubuk, Hotel, Markas Militer hingga Sekolah

22 Mei 2020   04:02 Diperbarui: 23 Mei 2020   01:21 226 28 9 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Gedung Perjanjian Linggarjati, dari Gubuk, Hotel, Markas Militer hingga Sekolah
Wisatawan dari Jakarta saat mengunjungi Gedung Perjanjian Linggarjati. (foto: dok. pribadi)

Objek wisata Linggarjati, pasti yang terbayang pemandangan alam di bawah kaki Gunung Ciremai. Memang di sana ada objek wisata yang menjual potensi alam pegunungan. Lengkap dengan berbagai wahana permainan, termasuk kolam renang.

Biasanya objek wisata Linggarjati di Desa Linggajati Kabupaten Kuningan tiap pekan selalu ramai pengunjung. Apalagi kalau musim liburan Lebaran, masyarakat dari Cirebon, Majalengka, dan Indramayu berbondong-bondong ke sana. 

Sudah dipastikan, lalu lintas macet. Biasanya Cirebon-Linggajati cukup 30 menit, kalau musim libur Lebaran bisa berjam-jam.

Namun wisatawan yang berkunjung ke Desa Linggajati, kadang hanya terfokus pada objek wisata alam Linggarjati. Padahal di Desa Linggajati juga ada objek wisata edukasi dan sejarah, berupa Gedung Perjanjian Linggarjati. Gedung tersebut menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mewujudkan kemerdekaan.

Sejarah Gedung Perjanjian Linggarjati, sama rumitnya dengan perebutan kekuasaan/kedaulatan di Bumi Pertiwi. Tidak hanya namanya saja yang beberapa kali berubah, tapi kepemilikannya pun seringkali berpindah tangan. Demikian juga dengan fungsinya, beberapa kali berubah.

Lokasi Gedung Perjanjian Linggarjati sebenarnya tidak terlalu sulit untuk didatangi. Pengunjung dari arah Cirebon, bisa mengikuti jalan ke arah objek wisata alam Linggarjati. 

Sebelum sampai ke objek wisata alam Linggarjati ada pertigaan jalan, pengunjung langsung ambil arah belok kiri dan jalan menanjak. Sekitar 500 meter dari pertigaan itu bisa dijumpai Gedung Perjanjian Linggarjati.

Gedung tersebut menjadi terkenal karena di sana pernah digelar perundingan antara delegasi Indonesia dan perwakilan Belanda. Delegasi Indonesia yang dipimpin Sutan Sjahrir mendesak Belanda agar segera menyerahkan kedaulatan kepada bangsa Indonesia. 

Sementara perwakilan Belanda yang diketuai Prof.DR.Ir. Schermerhorn, masih enggan mengakui kemerdekaan Indonesia. Perundingan itu menjadi sorotan dunia, yang membuat Desa Linggajati dan gedung pertemuan itu mendadak kesohor.

Salah satu ruangan yang dijadikan tempat tidur Presiden Soekarno. (foto: dok. pribadi)
Salah satu ruangan yang dijadikan tempat tidur Presiden Soekarno. (foto: dok. pribadi)



Sekadar untuk pengetahuan, Gedung Perjanjian Linggarjati awalnya berupa bangunan semi permanen milik Ibu Jasitem. Nasib Ibu Jasitem berubah dratis setelah pada tahun 1918 dinikahi Tuan Tersana, warga Belanda. Tiga tahun kemudian gubuk tersebut dirombak menjadi gedung permanen.

Pada tahun 1930 kepemilikinan bangunan berpindah tangan kepada Jacobus (Koos) Van Os. Bangunan itu semakin mentereng setelah dikontrak warga Belanda lainnya, Heiker dan diubah menjadi Hotel Rustoord. Hotel tersebut sangat dikenal bagi warga yang ingin berlibur di Kuningan.

Lagi-lagi kepemilikan gedung itu, berpindah tangan ketika Jepang menjajah Indonesia. Walau begitu, fungsinya sebagai hotel belum berubah, kecuali namanya diganti menjadi Hokay Ryokai. Namanya kembali berubah menjadi Hotel Merdeka, setelah bangsa Indonesia berdaulat penuh.

Nama Gedung Naskah Linggarjati baru muncul, setelah terjadi perundingan Indonesia dan Belanda. Pada tahun 1946 Belanda melakukan agresi kedua dan menguasai gedung tersebut. Bahkan pada tahun 1948-1950, Belanda menjadikan gedung itu sebagai markas militer.

Gedung tersebut benar-benar mencatatkan banyak sejarah. Dari rumah gubuk, jadi hotel, hingga markas militer. Uniknya lagi, gedung tersebut pernah dijadikan sekolah. 

Pada zaman kemerdekaan gedung itu sangat dikenal sebagai Sekolah Negeri Linggajati, dengan jangka waktu 1950 hingga 1975. Baru pada tahun 1976 gedung tersebut diresmikan sebagai museum dengan nama Gedung Perjanjian Linggarjati.

Saat ini, Gedung Perjanjian Linggarti lebih banyak dikunjungi anak sekolah yang melakukan studi tour. Anak sekolah yang berkunjung ke sana jadi bisa melihat langsung, bagaimana ruangan-ruangan yang dipakai perundingan hingga bangsa Indonesia menggengam kemerdekaan.

Struktur bangunannya yang kokoh, membuat Gedung Perjanjian Linggarti belum banyak mengalami perubahan. Belum banyak bagian yang lapuk, karena perawatannya cukup baik. 

Cuma, properti asli yang digunakan saat terjadinya Perundingan Linggarjati banyak yang hilang. Jadi properti semacam meja dan kursi merupakan barang replika.

Salah satu keunikan dari Gedung Perjanjian Linggarti, yakni banyak memiliki kamar. Sejatinya gedung tersebut tadinya memang sebuah hotel. Kamar-kamar tersebut sempat dijadikan ruang belajar, ketika gedung berfungsi sebagai sekolah. 

Jadi sangat cocok, jika anak sekolah memilih Gedung Perjanjian Linggarjati sebagai salah satu lokasi kunjungan saat studi tour. Karena di sana tersimpan banyak catatan sejarah. (Anwar Effendi)***

VIDEO PILIHAN