Mohon tunggu...
Anwar Effendi
Anwar Effendi Mohon Tunggu... Mencari ujung langit

Sepi bukan berarti mati

Selanjutnya

Tutup

Finansial Pilihan

"Neng Stroberii.. Bu Haji Stroberii.. Ini Stroberi Asli Ciwidey"

10 Mei 2020   13:02 Diperbarui: 10 Mei 2020   13:08 76 23 9 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Neng Stroberii.. Bu Haji Stroberii.. Ini Stroberi Asli Ciwidey"
Pak tinggal empat bungkus lagi, beli semua ya. (foto: dok. pribadi)

Matahari tepat di atas kepala. Teriknya lumayan menyengat. Adzan penanda shalat Dhuhur baru saja selesai berkumandang. Seorang wanita berjalan lunglai. Tampaknya sudah kelelahan.

"Stroberiiiiiiii....stroberi......," suaranya parau sayup-sayup terdengar.

Pemilik suara itu bernama Yeyeh. Usianya sudah 41 tahun. Pekerjaan sehari-harinya sebagai penjual stroberi. Dia mengambil kulakan stroberi dari Ciwidey Kabupaten Bandung. Selama ini, dia berkeliling jalan kaki dari satu perumahan ke perumahan lain, yang berada di wilayah timur Bandung.

Dari Ciwidey hingga tiba di Kota Bandung, Ibu Yeyeh harus naik turun kendaraan umum sampai tiga kali. Sekali jalan dari Ciwidey ke Kota Bandung dia harus mengeluarkan ongkos Rp 35.000,00. Jadi kalau bolak balik dalam sehari, dia harus menyediakan uang Rp 70,000,00.

"Neng stroberiiiii.....Bu Haji stroberiiiiiii," kembali suara Ibu Yeyeh terdengar makin lemah.

Dia terus berjalan. Menyusuri jalan-jalan perumahan. Jika dia berhenti, artinya ada yang tertarik dengan tawarannya. Cuma, para warga penghuni perumahan, tak satu pun yang keluar.

Bulan Ramadan memang agak beda. Ditambah lagi pandemi covid-19 belum mereda. Orang lebih senang diam di rumah. Mengistirahatkan diri, atau tidur siang menjadi pilihan utamanya

Saat warga sedang tidur siang dan dibuai mimpi, saat bersamaan Ibu Yeyeh berjuang melawan panas siang hari. Keringatnya bercucuran karena jalan kaki. Sesekali cairan tubuh yang menetesnya itu diusap dengan kerudung yang dikenakannya.

"Stroberiiiiii.....Stroberiiiii...asli dari Ciwidey," Ibu Yeyeh tidak kehilangan semangat. Masih gigih berjualan. Berharap ada warga yang tertarik dengan dagangannya.

Buah stroberi hasil tanam dari Ciwidey. (foto: dok. pribadi)
Buah stroberi hasil tanam dari Ciwidey. (foto: dok. pribadi)



Siang semakin menyengat. Namun perjuangan Ibu Yeyeh mencari pembeli tak terkalahkan oleh panas. Yang terbayang oleh Ibu Yeyeh, dua anak di rumah selalu menantinya. Berharap si ibu bisa memberikan  uang jajan. Atau sekadar dibawakan jajanan dari Kota Bandung.

Suami Ibu Yeyeh, hanya berprofesi sebagai buruh serabutan. Penghasilannya tidak bisa diandalkan. Belakangan lebih banyak di rumah. Sedikit saja orang yang membutuhkan tenaganya. Akhirnya Ibu Yeyeh mengambil keputusan. Berjualan stroberi dari Ciwidey ke Kota Bandung.

Bermodalkan tas jinjingan berukuran kecil. Ibu Yeyeh setiap hari membawa 50 kemasan plastik stroberi. Satu kemasan plastik dia jual Rp 20.000,00. Dia mengaku dari satu kemasan plastik dapat keuntungan Rp 2.500,00. Artinya kalau 50 kemasan plastik itu laku semua, dia mengantongi laba Rp 125.00/hari.

"Iya, kalau dagangan habis semua, saya bisa dapat untung 125.000,00. Tapi itu belum bersih. Dipotong ongkos kendaraan pulang pergi saja sudah habis Rp 70.000,00. Sekarang lumayan bisa menghemat, soalnya puasa. Jadi tidak makan dan minum di jalan. Ya bawa pulang ke rumah cuma Rp 50.000,00," tutur Ibu Yeyeh.

Menurut Ibu Yeyeh, uang Rp 50.000,00 cukup lumayan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Apalagi sekarang suaminya lagi tidak punya pekerjaan. Biasanya jadi tukang bangunan. Tapi sekarang lagi sepi, tidak ada proyek.

Setelah Ibu Yeyeh melintasi rumah saya, tak terdengar lagi suara parau, "Stroberiiii....stroberi....".

Dari kejauhan Ibu Yeyeh terlihat berjalan tidak lunglai lagi. Dia berjalan agak cepat, mungkin sudah tidak tahan ingin bertemu anaknya di rumah.

Yang terngiang oleh saya adalah ucapan Ibu Yeyeh. "Pak, ini stroberi tinggal empat bungkus lagi. Beli semua ya," suaranya memelas. (Anwar Effendi)***

VIDEO PILIHAN